
Ada kisah klasik tentang “gajah sirkus”, begini:
Saat masih bayi, kakinya diikat dengan rantai ke tiang yang kuat. Ia mencoba lepas, gagal, lalu menyerah. Nah, saat dewasa, meski sudah sekuat enam ton dan cukup kuat untuk mematahkan rantai itu, ia tidak mencoba lagi, karena percaya bahwa ia tetap terikat.
Kisah tentang elephant thinking ini dimaknai dengan sangat baik oleh Ken, di bab 3. Menurut Ken, elephant thinking ini merupakan metafora dari pola pikir (yang) terbelenggu oleh pengalaman masa lalu. Jadi sebenarnya rantai yang paling kuat bukanlah besi di kaki, tapi keyakinan yang ada di pikiran. Sebelumnya, penulis buku yang lain, Charles C.Manz & Neck (1983), menyebutnya dalam teori Self Leadership sebagai assumed constraint, yakni keyakinan atau asumsi yang membatasi diri sendiri. Kata Manz&Neck:
“An assumed constraint is a belief that limits your experience based on past conditioning or experience.”
(Batasan asumsi adalah keyakinan yang membatasi pengalamanmu, berdasarkan kebiasaan atau pengalaman masa lalu).
Assumed constraint, misalnya; “Saya orangnya pemalu, pasti grogi bicara di depan pimpinan.” Asumsi ini muncul, karena ada keyakinan di peristiwa sebelumnya, pernah salah bicara di rapat, ditertawakan, atau dikritik. Nah, cara ngatasinya gimana? Bisa dimulai dari latihan di audiens kecil, minta umpan balik, dan terus berlatih, dan meyakini bahwa “aku bisa melakukannya lebih baik (self-talk).”
Dalam konteks “Self-Leadership”; Pemimpin yang tidak terbelenggu assumed constraint, tidak akan berpikir: “Agh. Budaya lama terlalu kuat, percuma mencoba hal baru. Dari dulu sudah begini, dst dst..”
Bisa jadi, jika pemimpin masih berpikir demikian, mungkin ia pernah gagal melakukan inovasi karena resistensi pegawai. Jadi, seorang pemimpin bisa memulai dari hal-hal kecil, dan mengkomunikasikan hasilnya, serta berkeyakinan: “Kita pasti bisa!”
Dengan kata lain, Ken bilang, jangan jadikan pengalaman negatif, kritik, atau kegagalan di masa lalu sebagai belenggu yang membatasi diri, sehingga kita terjebak dalam ketidakberdayaan (learned helplessness). Mengubah narasi diri atau reframing bisa membantu mengubah diri. Misalnya: “Saya tidak bisa memimpin orang lain” diganti dengan keyakinan baru: “Saya sedang belajar memimpin …”. Atau, misalkan keyakinan sebelumnya: “Saya selalu gagal”, diubah menjadi “Saya pernah gagal, tapi saya juga pernah bangkit!”
Jika begitu, masihkah ada “rantai” pikiran lama yang begitu kuat menahan kemajuanmu? Baca juga BUKU INI jika ingin HIDUP BARU.
Dari buku: Self-Leadership & The One Minute Manager. Penulis: Ken Blanchard, etc. (2001)
rang anak muda rela menembus hujan sekadar mau bertemu dengan kekasih idamannya. Dalam keterbatasan, sosok ibu seringkali mengalah tidak makan dan lebih mementingkan anak-anaknya makan dengan lahap. Menurut Victor, keduanya bisa melakukan hal-hal yang “melampaui” karena mereka menemukan makna hidupnya dalam nilai “rela berkorban”.



Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.