:Untukmu yang abadi

Sore itu, aku menikmati udara yang sedikit lembab. Laptop, buku (kumpulan cerpen “Di Ujung Cinta”, karya murid-murid SMA ND), dan segelas kopi hitam. Dan, ketiganya adalah tentangmu, tentang duniamu yang kaugenggam hingga tuntas waktumu.
Maka kutulis, begini:
… .
adalah kamu, yang selalu memadu
tuliskan mimpi, dalam indah surgawi
rumah barumu yang abadi
~30 Mei 2025~
Terkadang aku cemburu, karena kamu lebih sering tenggelam di dalam halaman-halaman buku, ketimbang bercengkrama denganku. Cintamu pada buku, melahirkan banyak karya, yang takkukira akan jadi warisanmu untuk anak-anak. Sejak menikah (2008) hingga 2024, yang tercatat di portofoliomu saja, kira-kira sudah kau tulis 125 judul (dominan) bergenre buku anak.
Bahkan 3 bulan sebelum pergimu, kamu masih sempatkan membeli buku. Nggak tau kenapa, kamu tertarik untuk baca bukunya Dee, “Tanpa Rencana” (5 Des.2024). Bisa jadi karena penulisnya yang sudah teruji bagusnya. Yang pasti, aku tak pernah akan menolak saat kamu meminta persetujuan untuk beli buku.
Dan, itulah buku terakhir yang kamu baca. Mungkin seperti ditulis Dee di bagian depan bukunya, sebagaimana Tuhan telah merencanakan sesuatu untukmu.

“Untuk semua perpisahan
sementara maupun selamanya
dan semua orang tercinta
yang telah tiada.”
Benar kata Dee, selalu saja ada (yang) terjadi “tanpa rencana”, seperti pergimu (yang) di luar rencana (manusia) memporakporandakan jiwaku.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.