Sepagi ini, anakku yang bungsu sudah terbangun. Sejenak ia menatapku dengan ragu. Tapi tak berapa lama, ia merengek memintaku untuk bangun, dan menemaninya pergi membeli gasing (mainan). Hmm… masih ingat aja ini bocah, batinku.
Jam di HP menunjukkan pukul 06.05. Masih terasa pagi yang malas untuk bangun. Aku masih membujuk. “Sebentar lagi, adek, jam 8. Jam segini toko pasti belum buka,” kataku.
Ia tak gentar. “Kan nengok dulu, Yah. Kalau gak buka, kita langsung pulang!”
Hmm.. benar juga idenya. Harus beralasan apalagi ya, untuk menunda perginya.
“Ok. Ok. Ayo siap-siap. Sekalian Ayah mau ambil uang di ATM!”
Mendengar persetujuanku, muka adek langsung cerah seketika. Dengan semangat, ia melompat dari kasur setinggi 40 cm itu, dan setengah berteriak, “Yeaah… Ayo Yah. Cepet…!”
Nah, kan. Langsung kelihatan gak sabarnya. “Ayah cuci muka dulu dek!”
“Iya. Adek tunggu di motor ya Yah!” Katanya dengan girang.
Tak berapa lama, kami sudah meluncur di jalanan kampung yang masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Sempat kutawarkan agar adek mengenakan jaket, tapi ditolaknya. Padahal, udara pagi masih lumayan dingin. Mungkin, rasa gembira adek mampu mengalahkan dinginnya pagi.
Kendaraan melaju pelan, sambil menikmati angin sepoi dan udara dingin. Tujuan pertama ke toko mainan. “Yaaa.. Tutup dek!” Kulihat di HP menunjukkan waktu pukul 06.30. Tentu saja, seperti sudah kuduga, toko mainan yang dituju adek masih tertutup rapat.
“Masak dari kemarin tokonya tutup mulu!” Adek mulai menggerutu.
“Gini aja. Kita jalan lagi ya keliling-keliling siapa tahu ada toko yang sudah buka,” aku menengahi kejengkelannya. Ia mengangguk, tak punya pilihan lain.
Setelah kembali dari ATM, kami kembali melaju kendaraan dengan pelan. Dan… (pabila esok…); Dan tiba-tiba lewatlah seorang bapak yang mendorong gerobak berisi aneka mainan. Sepertinya ia mau menuju ke pasar.
“Dek, coba kita tengok, siapa tahu ada permainan gasing yang adek cari,” kataku.


Setelah mengulik beberapa mainan, adek pun berteriak, “Nah. Itu Yah!” Katanya sambil menunjuk gasing mainan dari plastik. Tentu saja, dengan pedenya adek bilang, “Adek satu, untuk Kakak juga satu ya Yah!”
Aku mengangguk.
Setelahnya, kami kembali pulang dengan kelegaan hati. Keinginan membeli gasing mainan itu sudah dari kemarin malam, dan baru terwujud pagi ini. “Adek mau beli bubur ayam?” tanyaku, bermaksud sekalian membeli sarapan. Tapi Adek menggelengkan kepala. Setelah gasing mainan didapatkan, (sepertinya) yang lain sudah tidak penting lagi.
NB. Gasing berasal dari kata Gang artinya lorong atau lokasi, dan sing artinya suara. Gangsing artinya permainan yang dimainkan di tempat kosong dan mengeluarkan bunyi. Ada pendapat, gangsing berasal dari China yang menyebar ke Austronesia, seperti Afrika, Amerika, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia).
2025, 10 Agustus
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.