Seo
rang anak muda rela menembus hujan sekadar mau bertemu dengan kekasih idamannya. Dalam keterbatasan, sosok ibu seringkali mengalah tidak makan dan lebih mementingkan anak-anaknya makan dengan lahap. Menurut Victor, keduanya bisa melakukan hal-hal yang “melampaui” karena mereka menemukan makna hidupnya dalam nilai “rela berkorban”.
Menemukan makna hidup itulah yang menopang Victor bertahan dalam “penderitaan” di kamp tahanan Nazi di Auschwitz. Sebagai tahanan yang setiap hari dipaksa bekerja menggali dan membuat lintasan jalan kereta api dan melihat kematian, nyaris baginya untuk lolos dalam keadaan hidup. Dalam penderitaan, Victor (mencari dan) menemukan makna hidup.
Data sebuah jajak pendapat di Prancis menyebutkan sebanyak 89% orang mengaku, membutuhkan “sesuatu” sebagai pegangan hidup, dan 61% mengatakan RELA MATI demi sesuatu atau seseorang. Data itu dikuatkan lagi oleh hasil survei sosial Universitas John Hopkins pada 7948 mahasiswa yang ditanya apa “sasaran utama dalam hidup. Sebanyak 16% menjawab “mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya”, dan 78% sasaran utamanya adalah “menemukan tujuan dan makna hidup” (p.163).
Victor menyimpulkan ada 3 cara untuk menemukan makna hidup: (1) melalui pekerjaan atau perbuatan; (2) dengan mengalami sesuatu atau melalui seseorang, dan (3) melalui cara kita menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari.
Orang yang diapresiasi karena tindakan terpujinya, seringkali merasa bahwa hidupnya bermakna. Sebaliknya, seseorang akan merasa “tidak berguna” jika ia tidak menemukan makna dalam perannya. Karena itu, anak-anak kecil yang diberi peran, meskipun hanya menjadi pohon atau batu dalam sebuah pementasan, ia akan senang termasuk orangtuanya) karena merasa hidupnya punya makna.
Disarikan dari Buku Victor E. Frankl. “Man’s Search For Meaning”
Semangat berkarya. Soli Deo.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.