Buku baru: Dongeng Fabel Asal Usul dari 5 Benua

image

Dongeng Fabel Asal Usul dari 5 Benua
Kode : 9786022557302

Oleh : Askalin
Harga : Rp. 30000
Ukuran : 19 x 26 cm
Tebal : 48 hlm
Terbit : Februari 2015
Penerbit : DIVA Kidz
Diskon : 25 % beli di www.divapress-online.com

Sekilas tentang isi buku

Apakah kalian tahu kenapa warna tubuh zebra belang? Apakah kalian tahu kenapa ikan hidup di air? Apakah kalian tahu kenapa leher bangau bengkok? Nah, jawaban semua itu ada pada buku dongeng ini. Selain itu, masih banyak lagi dongeng asal-usul pada buku ini. Dongeng pada buku ini dikumpulkan dari 5 benua.

Buku ini bisa diperoleh di tb gramedia seluruh Indonesia dan toko buku online.

Dongeng yang Paling Banyak Dicari

Dongeng Sang Kancil dengan Buaya menjadi cerita lama yang paling banyak digunakan orang sebagai referensi. Terbukti pengunjung blog ini banyak sekali berkunjung untuk membaca atau copypaste dongeng Sang Kancil dengan Buaya ini. Anda juga pasti pengen tahu dongeng tersebut bukan?

Yuk Mari kita sama-sama membaca dongengnya. ____________________________________________________________________

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA

kancilPada zaman dahulu Sang Kancil merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah bersedia membantu kapan saja.

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Karena makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang, Sang Kancil pergi untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari itu, sangat panas dan terlalu lama berjalan, menyebabkan Sang Kancil kehausan. Lalu, ia berusaha mencari sungai terdekat. Setelah mengelilingi hutan akhirnya Kancil aliran sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang waktu, Sang Kancil minum sepuas-puasnya. Dinginnya air sungai itu menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.

crocodileKancil terus berjalan menyusuri tebing sungai. Apabila terasa capai, ia beristirahat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Kancil berkata di dalam hatinya “Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat.” Setelah rasa capainya hilang, Sang Kancil kembali menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat di sekitarnya. Ketika tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil memandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai. “Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut,” pikir Sang Kancil.

Sang Kancil terus berpikir mencari akal bagaimana cara menyeberangi sungai yang sangat dalam dan deras arusnya itu. Tiba-tiba Sang Kacil memandang Sang Buaya yang sedang asyik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya, apabila hari panas buaya suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari.Tanpa berlengah-lengah lagi kancil menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata,” Hai sahabatku Sang Buaya, apa kabarmu hari ini?” Buaya yang sedang asyik menikmati cahaya matahari membuka mata dan didapati Sang Kancil yang menegurnya. “Kabar baik sahabatku, Sang Kancil.” Sambung buaya lagi, “Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?”

“Aku membawa kabar gembira untukmu,” jawab Sang Kancil. Mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar khabar yang dibawa oleh Sang Kancil, lalu berkata, “Ceritakan kepadaku apakah yang hendak engkau sampaikan?”

Kancil berkata, “Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini karena Raja Sulaiman ingin memberi hadiah kepada kamu semua.” Mendengar nama Raja Sulaiman saja sudah menakuti semua binatang karena Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintah semua makhluk di muka bumi ini. “Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua kawanku,” kata Sang Buaya. Sementara itu, Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak lama kemudian, semua buaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang Kancil berkata “Hai buaya sekalian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Saulaiman supaya menghitung jumlah kamu semua karena Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini.” Kata kancil lagi, “Berbarislah kamu merentasi sungai mulai dari tebing sebelah sini sampai ke tebing sebelah sana.”

Karena perintah tersebut datangnya dari Nabi Sulaiman, semua buaya segera berbaris tanpa membantah. Kata Buaya, “Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia.” Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia mulai menghitung dengan menyebut “Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk,” sambil mengetuk kepala buaya hingga Kancil berjaya menyeberangi sungai. Ketika sampai ditebing seberang, Kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak gembira dan berkata, “Hai buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahwa aku telah menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman.”

Mendengar kata-kata Sang Kancil semua buaya merasa marah dan malu karena mereka telah ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah dan tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila bertemu pada masa akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara hingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melompat kegembiraan dan terus meninggalkan buaya-buaya tersebut dan menghilangkan di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum itu.

____________________________________________________________________

Anda bisa membacanya dengan meng-KLIK DI SINI

Cerita Rakyat, Cerita Klasik, dan Dongeng Tak Habis Dimakan Waktu

Bicara tentang cerita rakyat, cerita klasik, dongeng, fabel, legenda, dan mitos selalu sama pembahasannya dan ceritanya juga itu lagi, itu lagi. Mereka tak habis dimakan waktu. Mereka selalu ada sepanjang masa. Mereka selalu ada saat kita baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, lanjut usia, hingga tutup usia.

Negeri yang kita cintai, Indonesia, mempunyai banyak sekali cerita rakyat. Hal ini didukung dengan banyaknya suku dan budaya yang ada di Indonesia. Setiap cerita rakyat itu kadang kala dihubungkan dengan terjadi sebuah tempat atau asal usul nama tempat. Apakah itu benar? Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya. Cerita rakyat awalnya hanyalah cerita lisan yang diceritakan oleh ibu kepada anaknya, nenek kepada cucunya, begitu seterusnya hingga akhirnya kini cerita rakyat dapat kita baca dengan mudah, tanpa harus menunggu ibu atau nenek kita bercerita.

Bersambung 🙂

Gambar

(JJS) Jalan-jalan Siang di Toko Buku

Hasil JJS (jalan-jalan siang) di Gramedia Matraman, Minggu, 15 Juli 2012

Pukul10 pagi matahari sudah begitu terik. Ingin rasanya cepat-cepat, tak perlu melewati jalan yang begitu terik plus kepadatan kendaraan motor yang semakin padat saja. Memang, kapan pun Jalan Ibukota ini tanpa pernah absen dari kepadatan lalulintas, pagi, siang, sore, malam, tetap saja padat dan selalu harus berjibaku melawan kerasnya jalanan. Ingin pergi saat jalanan sepi, apa ada toko buku gramedia yang buka jam 1 pagi??
Ah Jakarta akan terus demikian, yang tak betah silakan segera merapat ke kampung halaman (jika kampung halamannya di luar jakarta). Mengungkapkan tentang jalanan jakarta, rasa-rasanya tak akan habisnya. Ya sudahlah..

Ajak anak ke toko buku

Berada di toko buku memang menyenangkan, selain karena adem full ac, aku senang melihat anak-anak antusias memilih-milih buku. Hari libur memang paling baik jika orangtua mengajak anak-anak mereka ke toko buku. Atau menyarankan anak-anak pergi ke toko buku. Memang lebih bermanfaat bagi anak jika berada di toko buku meskipun tak berminat pada buku, daripada berada di mal dengan segala hiruk pikuknya. Paling tidak dengan berada di toko buku anak terbiasa dengan melihat-lihat gambar pada buku, ikut-ikutan beli buku seperti temannya, dan sebagainya.

  (Anak-anak asyik di toko buku)

Buku busa, aman untuk anak

Rak favoritku di toko buku adalah rak buku anak. Senang rasanye melihat buku-buku dengan aneka jenis, aneke warna, aneka bentuk, dan aneka bahan. Ada buku yang ketika dibuka membentuk tidak dimensi, ada buku yang bentuknya lucu sesuai gambar, wuih banyak sekali macamnya.

Kini ada hadir satu jenis buku yang bahannya bener-bener aman buat anak-anak, buku berbahan busa. BUSA!! Ya busa, empuk dan ringan. Banyak buku anak yang menggunakan bahan-bahan yang tidak mudah sobek atau tidak rusak jika kena air. Bahan-bahan buku yang keras seperti tripleks memang tidak mudah rusak, bahkan jika dilempar ke sana ke mari, tidak akan sobek, tapi apakah buku jenis itu aman jika dilempar ke teman sendiri? Tentu saja tidak. Bahan-bahan buku yang keras bisa melukai anak itu sendiri atau orang lain di sekitarnya.

(Buku anak berbahan busa)

Bagi orangtua, kini tidak perlu khawatir karena ada jenis buku yang aman untuk anak, yaitu buku berbahan busa. Selain ringan buku busa ini tidak akan melukai jika  buku itu terlempar atau jatuh dari meja atau lemari dan mengenai kepala anak atau orang-orang di sekitar anak.Hai orangtua, ayo ajak anak-anak ke toko buku! (Paskalina, penulis dan penyuka buku anak)

Classic Stories: Jack and the Beanstalk

Once upon a time, there was a boy named Jack. he lived with his mother. they had a cow, but it could not give milk anymore.

Jack’s mother said, “we have no food. go into town and sell our cow.”

So jack led their cow to town. On the way, he met an old man. The man asked, “will you sell me your cow?”

Jack said, “Yes! How much will you give me?”

The old man showed Jack five beans. “I will give you these magic beans. They will make you rich.”

Jack traded the cow for the beans. Then, he went back home.

Jack told his mother about the beans. But she was very angry. She said, “What have you done? Now, we have no cow and no money!”

Jack’s mother threw the beans out the window. “There are no such things as magic beans. These beans are useless!”

The next morning, Jack looked out his window. He could not believe his eyes! The beans had grown into a tall beanstalk!

Jack loved to climb, so he climbed the beanstalk. He climbed and climbed and climbed. Jack climbed until he came to a castle in the sky.

Jack knocked on the castle door. A tall woman let him in. Jack said, “I have come long way. I am hungry. Do you have anything to eat?” Continue reading “Classic Stories: Jack and the Beanstalk”