
Inilah namanya kecelakaan, sebuah kejadian yang tiba-tiba terjadi. Tetapi bagi saya tetap harus bersyukur karena anak saya baik-baik saja.
Jadi begini ceritanya. Siang hari yang terik, saya menyuapi anak kedua saya, Adek Krisan. Karena hari ini, si Adek agak demam sehingga jadi manja-manja, jadinya sambil makan, si Adek naik sepeda keliling teras.
Si Adek baru beberapa hari bisa gowes sendiri sepeda roda empatnya. Saat naik sepeda pun, terutama saat belok masih belum seimbang sehingga kadang bisa oleng, lalu jatuh.

Siang ini terjadi, saya sambil duduk fokus lihat si Adek naik sepeda menghampiri saya untuk disuapin. Nah, pas di depan saya sepeda berbelok dan olenglah sepedanya, lalu terguling. Si Adek jatuh terduduk, Puji Tuhan tidak tertindih sepeda. Tetapi, ternyata ban depan sepeda dekat kaki saya, terdapat besi baja dan kawat tali rem, pas sekali menidih dan menusuk di kaki.
Ya Tuhan, saat itu tidak berasa sakit karena saya lebih fokus lihat si Adek. Syukur dia tidak apa-apa. Setelah sepeda saya angkat, ada luka menganga yang membuat ngilu. Darah tak begitu banyak keluar, dengan kain seadanya saya tutup luka menganga itu.

Saya teriak memanggil si Ayah, yang hari ini pas ada di rumah, saya bersyukur untuk ini. Melihat yang terjadi, si Ayah bingung mau ngapain. Saya pun bingung sebenarnya, harus ngapain, masih dredeg dan ngilu melihat luka.
Akhirnya saya mencoba berpikir cepat. Hal pertama yang dilakukan tutup lukanya dan ikat. Lalu, saya melihat-lihat sekeliling, tidak ada tetangga terlihat, yang mungkin bisa mengantar saya ke klinik secepatnya. Tidak mungkin kan meninggalkan dua bola (bocah lanang) di rumah sendirian.
Akhirnya, saya meminta si Ayah untuk menitipkan dua bola pada seorang ibu yang mengasuh anak tetangga. Kemudian, saya dan si Ayah, meluncur ke klinik dengan berbekal kartu BPJS.
Sampai klinik pukul 12.15, pas waktunya istirahat, tertulis “Closed” di pintu. Duh, saya jadi khawatir tidak ditangani langsung. Tapi, syukurlah sampai klinik langsung ditangani oleh dokter perempuan walaupun pada jam istirahat.
Puji Tuhan, penanganan luka langsung dilakukan, yang keputusannya harus dijahit. Aduhhhh mendengar kata dijahit, ngilu rasanya hati ini.

Proses pun dimulai, Bu Dokter dan perawat bersiap dengan peralatan untuk “menyulam” kaki saya. Proses “menyulam” pun dilakukan.
Sambil kadang merasakan sakit karena Bu Dokter yang sedang “menyulam” kaki, saya dan si Dokter mengobrol ngalor-ngidul. Obrolan sampai pada masalah pekerjaan, bla bla bla, dengan pede saya bilang, SAYA PENULIS. Sambil diselingi aduh aduh, obrolan dunia menulis pun terus berlanjut hingga proses “menyulam” ๐
selesai. Proses akhir menutup luka dilanjutkan oleh Mbak Perawat.
Bu Dokter duduk di kursinya sambil mengecek data pasien.
“Ibu namanya Paskalina?” tanya Bu Dokter.
“Ya, benar. Kalau Bu Dokter mau melihat buku-buku saya, di-Googling saja Paskalina Askalin,” kata saya sambil tertawa. Jadi mempromosikan diri sebagai penulis, hehehehe.
Drama luka kaki saya pun, berakhir sempurna. Kaki saya akhirnya mendapat 6 jahitan. Tanpa membayar sepeser pun, saya dan si Ayah pulang dengan terdiam. Kejadian tiba-tiba yang sugguh luar biasa๐ฅบ
Satu jam meninggalkan dua bola di rumah tetangga, rasanya tidak nyaman. Ini kali pertama saya lakukan. Sungguh tak ingin mengulangnya lagi.

Begitulah cerita saya hari ini. Semoga tidak terulang cerita Dokter “menyulam” kaki saya. Saya tuliskan cerita ini sebagai ingatan dan peringatan bagi saya dan bagi siapa saja yang membaca.
Kecelakaan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, bahkan saat sedang duduk di depan rumah. Terutamanya, saat menjaga anak, selalu waspada, jangan terpana oleh tontonan dari yujum, tiktaktok, dan lainnya yang ada di genggaman tangan. Waspada waspadalah.
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini.
๐ Paskalina Askalin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.