Cerita Pagi: Bayi Menjawab Sapaan dengan Senyuman atau Tangisan

Ketika itu sekitar pukul 10 pagi. Saya ke teras rumah membawa seprai yang mau dijemur. Eh,  nengok ke kanan melihat seorang bayi dengan sabuk pengaman duduk di kursi kemudi mobil. Tanpa berpikir macam-macam, tanpa berspekulasi macam-macam, secara spontan saya menyapa bayi itu dan dia pun tersenyum.

Ketika itu saya tidak tahu apakah di dekatnya ada orangtuanya atau tidak karena kursi tamu terhalang dinding.
Saya sapa lagi si bayi dan dia pun merespons dengan senyum. Lalu si Bapak sang bayi muncul. Tak begitu menggubris sapaan saya. Tak masalah, tapi sungguh kenapa saya jadi merasa bersalah  sudah menyapa sang bayi, aneh. 🙄 Yang pasti dia bukan bayi sultan, boleh disapa 😆 seharusnya.

Continue reading “Cerita Pagi: Bayi Menjawab Sapaan dengan Senyuman atau Tangisan”

Mengajari Anak Bertata Krama

Saya meminta si Kakak pulang dari rumah temannya saat waktu makan siang tiba (pukul 12.00 siang).

Ketika jam makan siang, saya melarang anak untuk main ke rumah temannya atau tetangga. Nanti dikiranya mau minta makan siang🤭. Atau, membuat orangtua temannya tidak bisa makan dengan tenang, orang Jawa bilang pekewuh.  Bisa jadi juga orang tua temannya itu sebenarnya ingin menawarkan makan siang tapi makanannya tidak cukup.

Ada banyak penyebab yang bisa terjadi mengapa kita perlu mengajari anak bertata krama saat bermain di rumah temannya. Mungkin, bisa terjadi salah satu alasan yang sudah saya sebutkan di atas.
Intinya adalah orang tua perlu mengajari anak tata krama saat ingin bertamu atau mengunjungi rumah orang lain. Dalam hal ini, saya mengajari anak saya tata krama berdasarkan latar belakang budaya Jawa. Tentu budaya lain ada yang memiliki pemahaman yang berbeda soal hal ini.

Penerapan tata krama akan berbeda jika orangtua dari temannya itu adalah saudara dari ayah atau Ibu, paman dan bibi sendiri, rasa pekewuh itu akan ada, seperti di rumah orang lain.

Ketika pagi hari waktunya sarapan saya juga melarang anak saya untuk main rumah temannya/tetangga atau dia harus sarapan dulu sebelum main.

Ketika tahu kalau di rumah temannya ada tamu, saya juga melarang anak saya untuk bermain ke rumah temannya itu.

Ketika saya tahu bawa keluarga dan temannya baru pulang dari bepergian jauh, saya larang juga dia untuk main karena mungkin temannya perlu waktu istirahat.

Anak-anak berapapun usianya suka bermain, baik itu bermain sendiri dengan mainan, bermain dengan kakak atau adik, maupun bermain dengan temannya. Namun, anak-anak suka lupa waktu saat bermain, seperti tidak punya rasa lelah. Orangtua yang melihatnya berlari ke sana ke mari rasanya lelah.

Saya sepakat jika anak perlu dibebaskan dalam bermain. Namun, bebas bermain bukan berarti menerabas aturan nilai yang ada di masyarakat, misalnya bermain di rumah tetangga ada tata kramanya. Tata krama atau sopan santun dapat mengikat kita melakukan perilaku yang baik.

Apa yang saya tulis di atas sesuai pemahaman saya sebagai orangtua yang masih terus belajar. Saya bukan orangtua sempurna yang tahu betul dan berpengalaman mengajari anak tata krama. Saya mengajari anak saya bertata krama supaya dia kelak menjadi anak yang tahu diri dan menempatkan dirinya sesuai porsinya.

Ada Bekal yang Tertinggal di Rumah, Ada Bekal sampai di Pelabuhan Tanjung Priok

Ada Bekal yang Tertinggal di Rumah, Ada Bekal sampai di Pelabuhan Tanjung Priok

Rutinitas menyiapkan bekal makanan di pagi hari sudah terjadi sejak lama. Bahkan sejak saya masih belum punya bocah lanang. Namun, 4 bulan belakangan ini berbeda karena selain bekal untuk si Ayah juga harus membuat bekal untuk bocah lanang yang bersekolah. Kenapa baru 4 bulan belakangan ini? Ketika Si kakak kelas 1 dia belajar secara daring di rumah. Barulah setelah kelas 2 atau tahun ajaran ini mulai masuk sekolah seperti biasa. Tentunya bekal menjadi bawaan wajib setiap hari.

Hari ini sebenarnya sama seperti hari-hari biasanya. Eh, tapi ada sedikit perbedaan, saya juga membuat bekal untuk Tante saya yang menuju Pelabuhan Tanjung Priok tempat kapal yang akan membawanya ke Ambon menunggu. Biasanya saya mulai berjibaku pukul 4 pagi, pagi ini berbeda, saya mulai berjibaku pukul 3 pagi, karena menyiapkan bekal untuk Tante yang mau berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok pukul 4 pagi. 

Tring tring tring, tongkat sihir memasak mulai beraksi, bekal untuk dibawa ke Pelabuhan Tanjung Priok sudah siap dibawa. Tante pun berangkat ke Pelabuhan Tanjung Priok. 

Continue reading “Ada Bekal yang Tertinggal di Rumah, Ada Bekal sampai di Pelabuhan Tanjung Priok”

Tantangan Menjadi Ibu penulis: Tidak Mudah Tetapi Ada Buah Manis yang Dituai

Dari KESULITAN, tantangan, RINTANGAN, hingga tangis yang saya lalui, ada BUAH-BUAH MANIS YANG SAYA TUAI. Apa yang saya kerjakan ada hasilnya.

Paskalina Askalin

Sebenarnya sudah banyak yang menulis tentang topik bahasan ini. Tapi saya tetap ingin menulisnya sebagai sebuah ungkapan atau curahan hati atau apapun lah itu namanya rasanya lebih nyaman ketika kita mengungkapkan  isi hati kita melalui tulisan, bagi saya.
Lebih aman mengungkapkan isi hati melalui tulisan Mengapa? Karena tulisan tidak bertelinga dan tidak berbibir sehingga dia tidak akan membagikannya lagi orang lain. Sejujurnya saya tidak punya waktu untuk bercerita pada seseorang saat ini, hanya tulisannya sahabat sejati saya saat ini.

Continue reading “Tantangan Menjadi Ibu penulis: Tidak Mudah Tetapi Ada Buah Manis yang Dituai”

Koordinasi Antarkota Antarprovinsi Menjadi Lancar Karena Ada IndiHome

IndiHome sangat membantu profesi saya. Mau tahu, apa profesi saya? Hanya seorang ibu di rumah yang ……

Profesi apa sih yang saat ini tidak berkaitan dengan internet. Rasa-rasanya tidak ada, ya. Semua profesi membutuhkan adanya jaringan internet. Kita tidak berbicara tentang WFH atau WFO saat pandemi atau endemi. Sebelum terjadinya pandemi internet sudah sangat dibutuhkan oleh semua profesi yang ada salah satunya, profesi penulis.

Profesi saya adalah penulis. Tetapi penulis yang juga menjadi Ibu di rumah, penulis yang juga editor freelance, penulis yang juga layouter, penulis yang juga merancang buku, dan penulis yang menerima pesanan naskah buku. Itulah profesi saya, penulis yang tidak sekadar menulis.

Sebagai ibu di rumah, mengerjakan layout buku sambil menyuapi anak.
Continue reading “Koordinasi Antarkota Antarprovinsi Menjadi Lancar Karena Ada IndiHome”