Secuil Kontribusi untuk Anak Negeri

Pandemi belum berakhir. Ah, rasanya saya mulai bosan untuk memulai tulisan dengan kalimat “Pandemi belum berakhir.” Tapi faktanya memang demikian. Pandemi memang belum berakhir, anak saya masih sekolah daring, walau kemarin pihak sekolah melakukan uji coba PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) Anak saya tidak ikut dalam PTMT itu. Bagi saya, meskipun protokol kesehatan diatur dan diterapkan dengan ketat oleh sekolah, anak usia 6-7 tahun tetap saja anak-anak, masih suka semaunya sendiri, lepas masker, pegang benda sana-sini, dan rentan tidak menjaga jarak aman.

Serba serbi sekolah daring.

Melihat lingkungan sekitar saya, pandemi seakan dianggap hampir berakhir. Apalagi bagi mereka yang sudah vaksinasi, pergi keluar menjadi biasa saja, cukup pakai masker dan lakukan protokol kesehatan. Sudah tidak ada lagi “keparnoan” tertular Covid-19.

Saya pribadi, masih setia untuk tetap di rumah saja. Pergi ke luar rumah jika benar-benar diperlukan. Masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan dari rumah, baik itu aktivitas untuk saya sendiri, maupun aktivitas yang dilakukan dengan anak.

Dalam kondisi yang masih serba terbatas ini, walau hanya dari rumah, saya tetap ingin menorehkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak Indonesia. Karena passion saya adalah menulis buku anak, itulah yang saya lakukan saat ini.

Buku anak yang saya tulis berbentuk buku aktivitas untuk anak usia 5-6 tahun setingkat TK B. Selain itu, beberapa buku yang saya tulis sedang dalam proses terbit di penerbit.
Bagi saya, bisa berkontribusi dalam perkembangan anak usia dini adalah sebuah kebanggaan. Apa yang saya lakukan hanya sekecil debu, tetapi saya percaya bahwa buku adalah sarana penting dalam proses belajar anak usia dini. Tanpa buku proses pendidikan di sekolah tidak bisa berjalan dengan lancar. Buku juga bisa menemani anak dan orangtua belajar di rumah.

Tiga tahun berturut-turut, 2018, 2019, dan 2020, ada tiga buku aktivitas anak yang terbit di salah satu penerbit Kompas Gramedia. Buku-buku itu diperuntukkan bagi anak usia dini. Ketiga buku itu adalah 100 Soal Aku Siap Masuk SD (2018), Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD (2019), dan Aktivitas 10 in 1 Anak PAUD Cerdas (2020). Untuk saat ini, hanya buku Aktivitas 10 in 1 Anak PAUD Cerdas yang masih bisa didapatkan di toko buku online maupun offline.

Sementara itu, buku aktivitas TK yang sedang saya tulis saat ini saya beri judul Seri Anak Hebat TK B. Seri ini berjumlah 8 buku. Saat ini naskah buku sedang saya tulis dan saya dibantu satu orang ilustrator, serta satu orang desainer kover plus isi.
Buku-buku ini nantinya akan digunakan di luar Pulau Jawa dan mungkin Pulau Jawa juga. Besar harapan saya, buku yang saya tulis berdampak besar untuk merangsang kecerdasan anak usia dini.

Kecerdasan anak usia dini tidak bisa berkembang dan bertumbuh begitu saja, perlu adanya rangsangan positif dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, guru, orangtua, dan sarana termasuk buku di dalamnya, adalah bagian yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tumbuh kembang anak.

Sebagai ibu di rumah yang punya dua bola (bocah lanang), waktu saya untuk berbagi banyak hal lewat tulisan sangat terbatas. Tapi meski dalam sedikitnya waktu itu, saya berharap karya-karya saya yang diperuntukkan bagi anak usia dini bisa memberi manfaat besar untuk perkembangan anak usia dini. Semoga, amin.

Tulisan ini sedang saya ikut sertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh APLIKASI SUPER.

Siap Masuk SD di Masa Pandemi

Si Kakak sudah lulus dari sekolah taman kanak-kanak. Kini, dia harus siap masuk SD. Siap tidak siap, kakak akan masuk SD bulan depan.

Horeeee Kakak Kenan sudah lulus TK❤️

Sebenarnya, kalau boleh jujur, anaknya siap saja masuk SD, emaknya ini yang was-was karena begitu banyak yang dirasa masih belum siap jika si Kakak masuk SD.
Setahun di TK B dan harus belajar secara daring, duh, masih jauh sekali dari sempurna. Banyak materi-materi yang belum dikuasai si Kakak dengan baik. Hal ini membuat saya, emaknya, perlu melakukan sesuatu untuk “menambal” segala kekurangan materi saat si Kakak di TK B. Dan ternyata, bagian yang ditambal itu banyak sekali.
Di saat waktu menunggu awal tahun ajaran baru, si Kakak harus ekstra keras belajar. Ada empat fokus materi yang saya latihkan pada si Kakak untuk persiapan masuk SD.

Continue reading “Siap Masuk SD di Masa Pandemi”

10 Hal Paling Membahagiakan untuk Ibu di Rumah

#serbasepuluh

Bahagia itu sederhana, begitu banyak orang berkata. Bagi ibu di rumah seperti saya, bahagia itu emang sederhana (banget). Tidak ada tumpukan piring kotor di dapur aja rasanya bahagiaaaaa banget😂

Berikut ini 10 hal paling membahagiakan untuk ibu di rumah versi saya😊

1. Sudah selesai memasak dan makanan siap disantap oleh semua anggota keluarga di rumah. Rasanya bahagia saat hasil jerih payah memasak bisa disantap oleh seluruh keluarga di rumah. Apalagi jika semua keinginan mereka terpenuhi, si ayah mau A, si kakak sukanya B, si adek sukanya C. Walaupun riweh menyiapkan aneka menu makanan, setelah selesai rasanya bahagia.

Continue reading “10 Hal Paling Membahagiakan untuk Ibu di Rumah”

Belajar di Rumah: Bermain Peran Tukang Cukur 

Kebosanan Kenan semakin memuncak karena berada di rumah terus. Setiap hari Kenan bertanya pada saya sekarang ngapain, sekarang ngapain. Bahkan, dalam angan-angan Kenan saat ini adalah pergi ke mal yang ada playground. Saya hanya bisa bilang, masih ada korona, malnya masih tutup. 

Padahal mungkin saat ini mal sudah buka. Tapi saya tentu tidak mungkin memberi harapan pada Kenan bisa pergi ke playground dalam waktu dekat ini. Kebosanan masih bisa dicari solusinya di rumah.

Kenan semangat memakai celemek tukang cukur.

Semalam saya sudah menyiapkan sebuah aktivitas untuk Kenan. Aktivitas seputar belajar membaca, tapi belum lengkap medianya sehingga tidak jadi praktikkan dengan Kenan. 

Pagi ini muncul ide di benak saya, membuat baju atau celemek tukang cukur. Ide itu tidak muncul begitu saja. Beberapa hari ini Kenan suka sekali main dengan gunting mainan dan bermain peran menjadi tukang cukur. Jadilah ide itu muncul.

Kenan dengan perlengkapan cukur.

Dengan modal koran satu edisi, saya buat celemek tukang cukur. Walau pun hanya kertas koran, Kenan senang dan seharian ini Kenan memainkan peran sebagai tukang cukur. Rambut saya dan rambut Uti (nenek) yang jadi sasaran Kenan untuk dicukur-cukur.

Manfaat Bermain Peran Profesi

Bermain peran profesi tukang cukur atau profesi lainnya, mempunyai manfaat untuk mengasah kecerdasan anak. Anak tidak sebatas hanya tahu profesi yang dimainkan tetapi juga hal lain yang menunjang bisnis tukang cukur. Misalnya, membuat brosur dan katalog model rambut.

Kenan meng-creambath rambut saya.

Tadi saat saya sedang pura-pura mau cukur rambut. Kenan memberikan semacam brosur meminta saya untuk memilih model rambut mana yang akan saya pakai. 

Saya belum pernah memberi tahu Kenan tentang  brosur ini. Pengetahuan Kenan berkembang sedemikian rupa mungkin karena pernah lihat di acara TV atau di Youtube. Itu pengetahuan yang positif buat Kenan.

Kenan menulis nota.

Usai pura-pura mencukur rambut saya, Kenan membuat corat-coret di kertas, maksudnya membuat nota. Isi coretannya 1500000 ditulis hingga 5 kali.

Melalui aktivitas bermain peran tukang cukur anak dapat mengasah berbagai pengetahuan dan kemampuan.

  • Menambah pengetahuan tentang profesi tukang cukur
  • Melatih motorik anak melalui gerakan menggunting, meremas-remas rambut, dan sebagainya,
  • Menanamkan jiwa entrepreneurship pada anak,
  • Melatih berhitung,
  • Menambah wawasan baru.

Membaca Buku Parenting, Pentingkah?

Tidak banyak buku parenting yang pernah saya baca. Tapi, akhir-akhir ini saya menyempatkan membaca buku parenting. Bahkan, saat melihat ada buku parenting yang temanya menarik, saya langsung ingin membelinya. (Menarik dalam arti saya perlu lebih mendalami ilmunya.)
Saat ada keinginan beli buku baru, pasti yang terlintas di pikiran saya membeli buku bertema parenting. Seperti saat ini, saya melihat sebuah buku tema parenting yang sedang saya sukai, buku tentang Montessori yang berjudul Dr. Montessori’s Own Handbook. Bulan ini mungkin belum ada pengeluaran untuk buku, bulan depan buku ini harus bisa saya miliki.

Buku yang ingin dibeli ☺️

Saat menjelang kelahiran si kakak, 6 tahun lalu, saya tidak tertarik membeli buku bertema parenting. Yang saya beli malah buku-buku anak sehingga Kenan saat dalam kandungan hingga sekarang usia 5 tahun suka sekali dibacakan buku anak.

Saat menjelang kelahiran si adik, saya mulai merasa kurang percaya diri, apakah saya sudah benar mengasuh si kakak? Apakah aktivitas yang saya berikan pada si kakak berguna untuk perkembangan otaknya? Ada banyak pertanyaan lain yang muncul di benak saya. Ada banyak cara untuk mencari jawaban dari pertanyaan saya itu, salah satunya melalui membaca buku, itu yang saya pilih.

Membaca buku parenting sambil mengasuh Krisan.

Mulailah saya meyempatkan waktu membaca buku parenting yang saya miliki. Kenapa buku yang saya pilih, padahal ada begitu banyak artikel parenting di internet? Saya pilih buku karena lebih bisa dipertanggungjawabkan isinya. Buku yang saya pilih pun, buku-buku yang ditulis oleh mereka yang terjun langsung dalam mengasuh anak, baik itu guru (praktisi) maupun orangtua yang berpengalaman mengasuh anak hingga menjadi pakar pendidikan dan parenting.

Setelah saya membaca buku-buku parenting, saya rasakan sekali bahwa MEMBACA BUKU PARENTING ITU PENTING. Penting buat siapa?
Buku parenting baik dibaca oleh orangtua, calon orangtua, orangtua muda, pasangan baru menikah, guru, penulis buku bacaan anak, praktisi pendidikan, dan siapa pun yang ingin mengetahui tentang pola asuh anak.
Ada banyak sekali jenis buku parenting. Kita bisa membaca buku parenting sesuai yang kita butuhkan.

Bagi saya saat ini membaca buku-buku parenting yang terkait dengan Montessori itu penting. Kenapa? Sekolah Kenan tidak menerapkan Montessori, jadi saya bisa menerapkan kelas Montessori di rumah. Selain itu, informasi tentang seluk-beluk Montessori bisa saya terapkan untuk si adik, Krisan.
Membaca buku parenting itu sungguh penting bagi siapa saja yang ingin mengetahui informasi baik itu teori pola asuh anak maupun cerita pengalaman orangtua yang menghadapi langsung tumbuh kembang anak.

Bagi saya pribadi, membaca buku parenting menyakinkan saya bahwa pola asuh yang selama ini saya lakukan sudah benar. Misalnya, saya menemukan di buku parenting yang saya baca, aktivitas yang saya lakukan bersama Kenan itu bisa dikatakan mirip Montessori dan layak dilanjutkan serta bisa dipraktikkan pada adiknya, Krisan. Dari membaca buku parenting juga saya menemukan teori-teori yang mendukung pola asuh yang saya lakukan, sehingga saya rasa percaya diri saya pun mulai bertumbuh lagi. Karena rasa percaya diri itu saya jadi ingin membagikan aktivitas saya bersama Kenan dalam sebuah buku. Semoga bisa terwujud, amin.