Pandemi mengubah segala aspek kehidupan kita. Anak-anak yang dulu (2 tahun lalu) dianjurkan jauh-jauh dari gawai, pada masa pandemi ini malah harus didekatkan dengan gawai. Anak-anak yang tidak mahir mengoperasikan laptop dan smartphone diajari oleh orang tua mereka supaya lebih lihai menggunakannya. Ah pandemi… Segeralah berlalu, pergilah!!
Hari ini bersejarah buat saya, sebagai seorang ibu, anak kedua saya Anselmus Kenanutama Sinduaji telah duduk di bangku SD.
Semalam saya mencoba untuk menarik hati si Kakak, dengan bertanya besok mau pakai baju yang mana? Sarapannya mau apa? Pasalnya, si Kakak agak kurang bersemangat untuk memulai sekolah pertamanya. Bisa jadi, si Kakak merasa takut atau deg-degan ketemu orang baru, meski hanya di Zoom. Saya mencoba yakinkan si Kakak, jika pembelajaran di SD pasti lebih menarik daripada di TK. Dan benar, ketika zoom perdana hari ini usai, saya tanya padanya, apakah menyenangkan cara Miss (bu guru) mengajar dan memandu acara hari ini. Si Kakak menjawab, iya. Puji Tuhan jika si Kakak mendapat pengalaman baik di hari pertamanya sekolah.
Si Kakak sudah lulus dari sekolah taman kanak-kanak. Kini, dia harus siap masuk SD. Siap tidak siap, kakak akan masuk SD bulan depan.
Horeeee Kakak Kenan sudah lulus TK❤️
Sebenarnya, kalau boleh jujur, anaknya siap saja masuk SD, emaknya ini yang was-was karena begitu banyak yang dirasa masih belum siap jika si Kakak masuk SD. Setahun di TK B dan harus belajar secara daring, duh, masih jauh sekali dari sempurna. Banyak materi-materi yang belum dikuasai si Kakak dengan baik. Hal ini membuat saya, emaknya, perlu melakukan sesuatu untuk “menambal” segala kekurangan materi saat si Kakak di TK B. Dan ternyata, bagian yang ditambal itu banyak sekali. Di saat waktu menunggu awal tahun ajaran baru, si Kakak harus ekstra keras belajar. Ada empat fokus materi yang saya latihkan pada si Kakak untuk persiapan masuk SD.
Halo ayah, ibu, om, tante, pakdhe, budhe… Siapa yang sudah merasa mulai jenuh menghadapi aksi anak-anak di rumah? Banyak pasti ya.. termasuk saya dan suami, setiap hari emosi sudah sangat memuncak. Teriakan, ocehan, omelan, terus terdengar. Namun teriakan, ocehan, omelan kita seakan tidak didengar, anak masih saja tidak bisa diatur, membuat rumah seperti kapal pecah terus-menerus, hingga rumah disulap menjadi playground.
Saya dan suami, sadar betul, emosi dan amarah bukan solusi untuk membuat anak menurut. Ingat, saat ini sedang terjadi pandemi yang mengharuskan kita di rumah saja. Sepanjang waktu berada di rumah itu sangat membosankan. Orang dewasa berada di rumah terus, lama-lama juga bosan. Apalagi anak-anak, rasa bosannya pasti sudah sampai puncak. Tetapi anak-anak bingung mengekspresikan rasa bosannya. Yang terjadi akhirnya anak membuat aksi imajinasi di rumah.
Kenan, usianya 5 tahun 4 bulan saat ini, rasa bosan di rumah tentu sudah menghinggapi hati dan pikiran sejak beberapa hari ini. Hasilnya, semua barang-barang di rumah menjadi jalan untuknya berekspresi mengusir kebosanan.
Omelan saya sudah sering menggema, sebenarnya saya juga sudah berusaha menahan diri, menurunkan suara, menurunkan emosi, tapi akhirnya kadang meledak juga karena Kenan tak juga mendengar. Barang-barang di rumah, seperti kursi, bantal, gelas, sandal, sepatu, lap, dan lainnya dijadikan mainannya. Jika tak mengganggu aktivitas rumah, saya masih bisa menahan diri dan menahan emosi, tapi kemudian kursi tak bisa diduduki, atau yang dilakukan membahayakan keamanannya, saya pun mengomel dan berusaha mencegah Kenan melanjutkan aksinya.
Saya jadi ingat konsep pembelajaran Montessori yang ditulis oleh Vidya Dwina Paramita dalam buku Jatuh Hati pada Montessori. Konsep itu adalah “follow the child“. Dalam konsep ini orangtua atau guru membebaskan anak mengeksplorasi sesuai keinginannya namun bukan berarti membiarkan anak sebebas-bebasnya. Ada batas yang harus dipegang oleh orangtua atau guru, yaitu aspek keamanan serta norma sopan santun dan kebaikan.
Saya pun ketika melarang atau meminta Kenan berhenti bermain atau bereksplorasi adalah ketika keamanannya terganggu dan melanggar kesopanan.
Sudah dua hari ini (hari ini hari kedua), Kenan membuat playground-nya sendiri di rumah. Kursi-kursi, bantal, dan kasur menjadi perlengkapannya membuat playground-nya. Saya yakin sekali, dalam imajinasinya Kenan sedang membuat playground seperti yang pernah dimainkannya di mal-mal.
Aksinya pun dimulai. Kenan berlari kemudian mulai meniti satu per satu kursi yang sudah disusunnya bak anak tangga. Apa yang terjadi dengan saya? Saya pun memintanya berhati-hati, pelan-pelan, jangan lari, ahhhhh sebenarnya itu perkataan sia-sia, Kenan pasti akan berlari, tidak akan bisa pelan-pelan.
Akhirnya saya menyerah. Saya membiarkan Kenan beraksi dengan playground-nya. Saya memperhatikan saja dan memotretnya. Puji Tuhan, masih aman-aman saja, Kenan beraksi tanpa terluka atau kejedot kursi.
Foto-foto ini saya jepret kemarin, 15 Mei 2020.
Playgroundin home ternyata amat menyenangkan buat Kenan. Hari ini saya biarkan dia membangun kembali playground-nya. Playground itu sebuah kreativitasnya, jika dilarang malah jadi amarah dan emosi. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain, kapan pun dan di mana pun. Orangtua cukuplah mendukung anaknya berkreasi dan menjaga kreasinya aman dan tidak membahayakan.
Playground in home, baru satu aksi saja, masih banyak yang akan dilakukan Kenan di rumah. Saya nasihati diri saya untuk tetap sabar menghadapi aksi-aksi kreatif Kenan. Anak-anak perlu ditemani dan didukung. Selagi tak membahayakan dan mengganggu orang lain, saya dukung akan aksi Kenan.
Di rumah saja, saat yang tepat untuk lebih mendekatkan anak dan orangtua, kakak dan adiknya, atau mengajak anak bermain sepuas-puasnya.
Ayah, ibu, banyakin sabar saja ya.. tekan segala kebosanan dan ikat emosi dengan kencang sehingga tak meledak-ledak di mana-mana. Semoga pandemi segera berlalu…
Dua kata yang senantiasa harus ada ketika mengajak anak usia dini belajar dan bermain adalah AKTIVITAS SERU. Aktivitas seru maksudnya aktivitas bermain yang mengasyikkan buat anak, disukai anak, dan menggembirakan hati anak.
Mengenal angka dan huruf dapat dikenalkan pada anak sejak usia masih sangat dini, sejak anak itu dilahirkan. Bahkan sejak masih dalam kandungan perkataan yang disebutkan ibunya menjadi memori yang melekat di otaknya.
Setiap anak itu unik, mempunyai ketertarikan pada mainan yang berbeda, hingga menyukai tontonan yang berbeda pula. Oleh karena itu, orangtua atau pendamping anak tidak bisa memaksakan satu metode belajar yang dianggap berhasil pada banyak sekali anak untuk bisa diterapkan pada anaknya. Hal ini perlu benar-benar disadari oleh orangtua sehingga tidak semena-mena memaksakan anak belajar dengan cara yang sama dengan cara anak lain. Continue reading “Aktivitas Seru Mengasah Kecerdasan Anak Usia Dini (Bagian 1)”
Suatu malam saya menggerutu (sedikit marah) pada si Kakak karena minta dibacakan buku lagi dan lagi dan lagi. Kondisi mata saya sudah lima watt dan si Adik yang di perut bergerak terus sehingga membuat saya tak nyaman.
“Kan udah dua buku, Kak. Sekarang tidur ya, sambil dengerin Paman Gery (Dongeng Nusantara Bertutur).” Hmmmm…. si Kakak tidak mau dan ngedumel minta dibacakan lagi. Akhirnya saya menyerah, “Ya udah ambil lagi 1 buku, yang bahasa Indonesia ya.” (Emak ga pinter bahasa Inggris, harus kerja keras membaca ulang cerita bahasa Inggris jadi bahasa Indonesia, hehehehe)
Bunda membacakan buku untuk Kenan
Si Kakak mengambil 1 buku untuk dibacakan. Satu buku isi lima cerita. Saya sebenarnya yakin, baru satu cerita si Kakak pasti sudah tertidur dan itu benar terjadi. Melihat si Kakak sudah tertidur, hati saya marah pada diri sendiri, kenapa saya harus menggerutu, marah, karena si Kakak tidak meminta nonton video atau main game di gawai. Harusnya saya merasa senang karena si Kakak sudah punya kebiasaan baik, mau dibacakan buku sebelum tidur. Apa jadinya kalau si Kakak malah meminta nge-game di gawai sebelum tidur. Ini justru akan jadi malapetaka. Kini saya ingin lebih banyak sabar dan kuat menahan kantuk karena permintaan membacakan buku sebelum tidur.
Kebiasaan membacakan buku sebelum tidur adalah kebiasaan baik yang harus terus dijaga. Ketika anak sudah terbiasa dibacakan buku sebelum tidur, kadangkala orangtua yang pada akhirnya tidak bisa memenuhi dengan alasan lelah sudah kerja seharian atau mengantuk. Seperti yang sering saya alami, menolak membacakan buku karena kelelahan sangat. Walaupun tidak bekerja di kantor, pekerjaan rumah tangga dan keinginan menyelesaikan banyak buku yang tulisan, membuat waktu begitu cepat berlalu, hingga sampai malam hari dalam kelelahan.
Uti membacakan buku untuk Kenan
Ketika saya benar-benar merasa lelah, kadangkala si Kakak mau dibacakan buku oleh Uti-nya, tetapi lebih banyak menolak karena ingin selalu dibacakan oleh saya, bundanya. Kadangkala terbantu oleh Paman Gery dan kawan-kawan yang mendongeng di Nusantara Bertutur bisa menggantikan saya membaca buku.
Membacakan buku sebelum tidur atau kapan saja sangat bermanfaat bagi anak usia dini. Saya pernah menuliskan beberapa tulisan tentang manfaat membaca buku untuk anak usia dini. Baca Membacakan Buku itu Penting Bagi Anak Usia Dini
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.