Koin Cuci Tangan karya Paskalina Askalin

Si kembar Mira dan Raka sudah seminggu belajar di rumah. Wabah virus korona yang masih merajalela membuat semua sekolah di Indonesia dan juga dunia, meliburkan siswanya. Semua anak sekolah harus belajar di rumah dan secara online (daring) guru akan memantau melalui media sosial. Mira dan Raka yang duduk di kelas 4 sekolah dasar setiap hari berkomunikasi dengan gurunya melalui grup whatsapp.

Ayah si kembar juga harus bekerja dari rumah.  Beruntung ayah mereka bekerja di depan laptop, jadi bisa bekerja di mana saja. Sementara ibu mereka yang mempunyai bisnis online untuk sementara menutup toko karena kesulitan bahan baku.

Di rumah si Kembar, ibu mereka punya aturan ketat tentang kebersihan tangan. Setiap kali ibu mereka selalu bertanya, “Apakah sudah cuci tangan?” Mira dan Raka jadi kesal dan bosan ditanya terus.

“Bunda, kami sudah cuci tangan,” jawab si kembar serempak.

“Bagus, salah satu cara mencegah virus korona datang ke rumah kita adalah dengan cuci tangan. Jadi kalian jangan bosan kalau bunda tanya terus.”

“Tapi kan bosan, Bun, ditanya-tanya terus. Adakah cara supaya Bunda percaya kalau kami sudah cuci tangan?” kata Raka.

Si kembar berpikir, ibu mereka juga berpikir. Ibu mereka mengutakan sebuah ide.

“Bunda punya ide. Bunda punya banyak koin di kantong ini. Bunda akan gantungkan kantong koin ini di dekat wastafel. Setiap kali kita semua cuci tangan harus mengambil 1 koin dan memasukkan ke dalam gelas sesuai nama, Mira, Raka, ayah, dan bunda. Semua kegiatan di rumah ini harus dimulai dan diakhiri dengan cuci tangan.” Si kembar senyum-senyum mendengar ide Bunda.

“Kita namai ‘koin cuci tangan’. Kalau besok Om Arka datang, tambah 1 gelas ya, Bun,” kata Mira.

“Betul sekali.”

Meskipun si kembar selalu berada dalam rumah, kegiatan mereka banyak sekali. Selain belajar online (daring), mereka juga bermain aneka permainan tradisional. Supaya tak bosan, mereka mendaftar permainan tradisional yang bisa mereka mainkan. Permainan tradisional yang mereka lakukan di antaranya congklak, bekel, kelereng, karet gelang, petak umpet, dan sebagainya. Setiap kali merasa bosan di rumah, si kembar memainkan 1 permainan tradisional.

Ibu dan ayah mereka juga senantiasa mengajak si kembar melakukan aktivitas di rumah, seperti membereskan tempat tidur, menyapu, mengepel, memasak, dan lainnya. Semakin banyak aktivitas yang si kembar dan orangtuanya lakukan, tentunya koin cuci tangan jadi penuh. Di sela-sela beraktivitas pun suara gemerincing koin selalu terdengar.

“Bun, kapan kami bisa bersekolah lagi,” tanya Raka setelah dua minggu mereka belajar di rumah.

“Bunda belum tahu, wabah virus korona masih belum usai, yang penting kita jaga kebersihan diri dengan rajin-rajin mencuci tangan dan tetap berada di rumah,” jawab Bunda.

Ayah lalu menambahkam, “Mari kita berdoa bersama, semoga wabah segera usai, dan kalian bisa kembali bersekolah. Ayah dan Bunda pun bisa kembali bekerja.”

“Amin,” kata semuanya.

Mari kita aminkan teman-teman semua. Semoga wabah virus korona segera hilang dari Indonesia. Amin

Depok, Maret 2020

Sebuah cerita anak karya Paskalina Askalin

Wayang Imajinasi Dandun Karya Paskalina Askalin

Namanya Dandun, tinggal di sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah. Di rumah Dandun tinggal bersama ayah, ibu, adik, dan Mbah Kakung.

Sudah sebulan lebih Dandun dan keluarganya bertahan di rumah. Sesuai anjuran pemerintah, belajar di rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah.

Minggu pertama di rumah saja, masih terasa menyenangkan buat Dandun, karena dia bebas  main di rumah, nemanin adik bayi yang baru berusia dua  bulan. Minggu-minggu berikutnya, Dandun mulai bosan dengan aktivitas yang itu-itu saja.

“Mbah Kakung, nonton apa?” tanya Dandun pada Mbah Kakung yang tampak menikmati tontonannya.

“Wayang, Le. Ayo nonton bareng Mbah,” ajak Mbah Kakung.

“Dandun tidak mengerti bahasanya, Mbah. Dandun mau mengerjakan tugas sekolah.” Dandun kemudian pergi ke kamarnya.

Sejak ayah Dandun berlangganan internet rumah, Dandun seakan-akan rebutan nonton sama Mbah Kung.

Di kamar, Dandun tidak mengerjakan tugas, Dandun malah jadi kepikiran wayang. Dandun menciptakan wayang imajinasinya sendiri. Kalau bahasa dalam wayang, Dandun tidak mengerti, karena menggunakan  bahasa Jawa Kawi. Wayang imajinasinya, bahasa sehari-hari, sedangkan tokohnya menggunakan karakter orang-orang di sekitar Dandun, yaitu ayah, ibu, adik, dan kakeknya. Dandun lalu menggambar karakter Mbah Kakung, ayah, ibu, dan adiknya.

Gambar orang-orangan digunting sesuai bentuk lalu ditempel pada kardus bekas. Kardus ditempelkan pada bambu ukuran 30cm, jadilah wayang imajinasi Dandun.

“Mbah Kung,” Dandun mendekati kakeknya yang sedang duduk.  “Ajarin Dandun main wayang, Mbah. Tapi wayangnya pakai wayang imajinasi buatan Dandun.” Mbah Kakung mengerutkan dahinya. Mungkin Mbah Kung merasa heran, karena tiba-tiba Dandun mau main wayang.

Dandun membawa wayang imajinasinya. “Itu apa, Ndun,” tanya ayah saat melewati Dandun usai rapat daring.

“Wayang imajinasi, Yah. Dandun minta ajairin Mbah Kung main wayang.” Ayah mengacungkan jempol tanda mengiyakan.

Siang hingga sore Dandun bersama Mbah Kakung. Dandun berlatih cara memainkan wayang.

“Tidak sulit kan,” tanya Mbah Kung setelah menjelaskan panjang lebar.

“Masih kesulitan, Mbah. Dandun belum tahu cara membuat wayang-wayang berdiri?”

Mbah Kung menjelaskan jika wayang itu berdiri dengan cara ditancapkan pada gedebog pisang. Tapi untuk wayang ciptaan Dandun, Mbah Kung mengusulkan menggunakan sterefoam elektronik.

Dandun mempersiapkan pertunjukan wayang imajinasi dengan bantuan Mbah Kung. Mirip tempat pertunjukan wayang kulit, walau dengan barang seadanya.

“Selamat malam, bapak ibu adek dan Mbah Kung, mari kita saksikan pertunjukan wayang imajinasi Dandun, dengan judul Keluarga Hebat Lawan Korona.” Semuanya bertepuk tangan. Dalang Dandun pun memulai kisahnya.

Usai pertunjukan wayang imajiansi, Dandun jadi ingin membuat karakter tokoh-tokoh lain dan mempertunjukkannya di depan anggota keluarganya.

Nah, teman-teman, wayang imajinasi, bisa jadi alternatif mengisi hari-harimu selama di rumah aja. Ayo coba wayang imajinasimu sendiri.

Depok, Mei 2020

Sebuah Cerita Anak karya Paskalina Askalin

Kisah Penghuni Sungai

“Manusia-manusia itu tidak punya aturan, melempar sampah ke sungai begitu saja. Padahal kalau hujan turun, banjir bersiap menghampiri mereka,” geram Mumu.

Emi si ikan emas kecil sedang asyik berenang dan bersenda gurau bersama teman-teman.

“Hari sudah sore, aku pulang dulu Emi,” pamit Peti si ikan sepat.

Emi mengibaskan siripnya, tanda mengiyakan perkataan Peti.

Emi pun bermaksud pulang ke rumahnya. Namun, belum sampai rumahnya, sebuah plastik hitam besar menabrak tubuhnya yang mungil. Emi pun terdorong masuk hingga ke dasar sungai. Untunglah Emi bisa menghindar ketika gumpalan itu hampir menindih tubuhnya.
Continue reading “Kisah Penghuni Sungai”

15 Kalimat Mutiara Menggetarkan Hati Ibu

Baca Artikel Terbaru: Ada Cerita di Balik Quote

 

Kita punya waktu seumur hidup untuk bekerja, tetapi anak-anak hanya akan kecil satu kali saja. – Peribahasa Polandia –

Sebagai seorang ibu, kita tidak bisa melihat hasil kerja kita selama bertahun-tahun. Begitu banyak dari hasil kerja itu yang tak berwujud, tapi bukan berarti hal itu kurang penting dibandingkan dengan pekerjaan atau jabatan apa pun. – Jane Clayson –

Cinta ibu adalah bahan bakar yang membuat manusia normal mampu melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan. – Marion C. Garretty –

Tak seorang pun di dunia yang dapat menggantikan tempat ibumu. – Harry Truman –

Continue reading “15 Kalimat Mutiara Menggetarkan Hati Ibu”

Gadget, Asisten Pribadi yang Super Pintar

Kalau ada yang bertanya seberapa penting fungsi gadget bagimu? Sangat penting. Dimulai sejak bangun tidur hingga tidur lagi, gadget selalu menemani saya. Tidak hanya saya tentunya, semua orang saat ini tidak bisa lepas dari gadget. Tetapi ada perbedaan bagi setiap orang dalam memanfaat gadget.

Bukan, bukan untuk bermedia sosial, unggah foto, up date status, atau berhaha-hihi. Bagi saya gadget lebih penting dari hanya sekadar bermedia sosial.

Sebagai seorang ibu di rumah yang nyambi menulis, mengedit, dan melayout buku, gadget menjadi tongkat sihir yang tidak boleh kekurangan kuota. Gadget itu seperti asisten pribadi yang membantu menuliskan rencana-rencana dan mengatasi segala keribetan yang ada. Walaupun sebenarnya keribetan itu tetap ada, sambil menyuapi bocah, menemani bocah main, sekaligus sambil mendampingi si Kakak sekolah daring, gadget setia membantu pekerjaan saya tetap berjalan.

Saat di Kakak sekolah daring, Adek sibuk main, dan saya sibuk koordinasi via whatsapp dengan tim desain kover.

# Gadget untuk alarm

Sepertinya jam weker sudah tak lagi digunakan saat ini. Karena semua orang beralih ke alarm gadget. Termasuk saya tentunya. Bahkan weker kini hanya menjadi mainan anak  saya.

Alarm gadget tidak hanya digungkan untuk membantu saya bangun tidur. Lebih dari itu, alarm menjadi pesan pengingat segala macam aktivitas, seperti janjian bertemu, acara webinar, acara parent meeting sekolah, jadwal si Kakak ekskul, dan masih banyak lagi. Gadget menjadi asisten pribadi yang sangat pintar.

 

# Gadget untuk koordinasi pekerjaan

Seperti yang terjadi kemarin, saat saya ada pekerjaan pembuatan layout buku dan kover.

Deadline pengajuan sampel layout dan kover adalah besok, jadi tim desain harus segera menyelesaikan desain layout dan desain kover. Gadget menjadi alat koordinasi untuk pekerjaan saya. Saya ACC desain layout dan koreksi layout via  via Whatsapp. Lagi dan lagi, kesibukan pekerjaan bergabung dengan tanggung jawab ibu di rumah, memasak, mencuci, memandikan anak, menyuapi anak, dan mendampingi sekolah daring. Pada akhirnya, gadget menjadi asisten pribadi yang siap membantu.

 

# Gadget untuk menulis

Menulis menjadi kebutuhan sekaligus pekerjaan. Sejak memiliki dua bola (bocah lanang), gadget membantu saya menulis ide-ide naskah hingga menulis naskah. Dengan gadget saya bisa menulis kapan saja dan di mana saja sambil menemani bola-bola saya beraktivitas.

Saat menemani bola-bola bermain, saya sempatkan untuk menulis. Entah itu menulis ide naskah, menulis kerangka naskah, atau sekadar menulis kegiatan harian bola-bola.

Dalam catatan gadget saya, tersimpan banyak sekali ide naskah. Karena setiap kali ide muncul langsung saya catat. Beberapa ide langsung saya eksekusi menjadi naskah, yang kemudian saya kirim ke penerbit.

Selain untuk menulis naskah, saya juga menulis catatan harian tentang saya dan bola-bola. Kadang saya juga menulis artikel ringan untuk blog dan website saya. Ah, gadget memang luar biasa. Gadget menjadi asisten pribadi yang bisa diandalkan.

 

# Gadget untuk swalayan online

Sebagai ibu di rumah dan masa pandemi yang belum berakhir, membuat saya terbiasa dengan swalayan online. Saya katakan swalayan online karena saya bisa belanja apa saja melalui gadget di tangan.

Beberapa waktu lalu tukang sayur tiba-tiba menghilang, tidak muncul di depan rumah. Biasanya saya memesan sayur pada si Tukang melalui Whatsapp. Tepat di hari saya tidak memesan sayuran melalui Whatsapp, si Tukang sayur tidak muncul.

Si Tukang sayur tak muncul, tapi acara memasak tetap harus berjalan. Saya langsung ambil gadget, buka aplikasi jual beli, dan mulai pilih-pilih sayuran yang mau dibeli. Lalu dengan beberapa klik, sayuran akan siap dan diantar sampai di depan rumah saya. Luar biasa, tidak perlu repot keluar rumah, tidak perlu lelah mengangkat belanjaan, harga sayuran pun sama dengan harga ketika kita pergi langsung ke pasar. Malah kalau dihitung-hitung, pembelian sayuran melalui swalayan online lebih murah ketimbang harga di Tukang sayur.

Sayuran yang saya beli melalui swalayan online

Pandemi yang belum berakhir menjadi terasa lebih mudah dengan adanya gadget. Karena melalui gadget kita bisa membeli sapa saja.Gadget bisa membantu kita apa saja. Gadget menjadi asisten pribadi yang siap membantu.

# Gadget untuk sekolah daring

Si Kakak setiap hari, Senin – Jumat, masuk sekolah daring melalui zoom. Kadang menggunakan smartphone dan kadang menggunakan laptop. Gadget menjadi alat pendukung utama dalam aktivitas sekolah daring. Bahkan kini si Kakak yang masih kelas 1 SD meminta dibelikan smartphone. Saya katakan tunggu saja, kalau dapat rezeki, kita lihat-lihat smartphone di carisinyal.com. Si Kakak langsung minta untuk melihat smartphone di website carisinyal. Si Kakak langsung tunjuk-tunjuk smartphone yang diinginkannya. Saya hanya bisa menarik napas panjang. Kata si Kakak, “Bun, kita juga bisa beli laptop di Carisinyal.com.” Saya hanya bisa menggangguk setuju.

Gadget memang luar biasa, membantu aktivitas saya dan seluruh anggota keluarga di rumah, dari batita hingga lansia. Namun, tetap harus kita ingat bahwa gadget hanyalah alat, kita tetap harus bisa menguasainya dan memanfaatkannya dengan baik, bukan malah sebaliknya, kita yang dimanfaatkan oleh gadget.

 

Salam sehat selalu, Paskalina Askalin