Buku: Social Learning Theory
Albert Bandura
โFortunately, most human behavior is learned observationally through modeling.โ
Di hari pertama MPLS SMP, antusiasme murid-murid baru masih menyala. Dengan semangat, para Pengurus OSIS memandu mereka melakukan school tour. Tiba-tiba, ketika melewati area lapangan, mereka dikejutkan oleh teriakan dan canda murid SMA yang sedang bermain basket. Saat bola masuk ring, mereka bersorak-sorai gembira. Namun, ketika bola gagal melewati ring, beberapa bad words pun terlontar begitu saja. Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi kemudian mengusik rasa penasaran saya: kira-kira, apa yang muncul di benak para murid baru saat mendengar kakak kelas mereka mengucapkan bad words? Apakah mereka hanya mendengar dan menganggapnya biasa, atau sebenarnya mereka sedang belajar โsesuatuโ?

Albert Bandura, seorang psikolog Amerika yang memelopori Social Learning Theory (1961) melakukan penelitian yang dikenal sebagai Bobo Doll Experiment, pada 72 anak usia 3-6 tahun. Anak-anak dibagi dalam kelompok. Sebagian mengamati perilaku orang dewasa yang bertindak agresif terhadap boneka Bobo, seperti memukul, menendang, menggunakan palu, dan mengucapkan kata-kata agresif. Sebagian lainnya mengamati model yang tidak agresif. Hasilnya: anak-anak yang sebelumnya mengamati model agresif cenderung menunjukkan lebih banyak perilaku agresif, bahkan dengan variasi perilaku baru. Eksperimen ini menunjukkan bahwa manusia tidak selalu belajar melalui pengalaman pribadi secara langsung, tetapi juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain.
Bandura bilang, apa yang kita amati tidak langsung ditiru, tetapi diproses dan disimpan dalam pikiran sebagai informasi atau pengalaman. Seseorang dapat belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Dalam observational learning, proses belajar terjadi melalui empat tahap: memperhatikan (attention), mengingat (retention), mampu melakukan (reproduction), dan memiliki motivasi (motivation). Perilaku yang diamati dapat muncul kembali ketika seseorang menghadapi situasi yang serupa.
Dalam konteks MPLS tadi, murid baru dapat berperan sebagai pengamat yang sedang belajar mengenali budaya sekolah barunya. Mereka mungkin saja menangkap sebuah pesan sosial dari apa yang mereka lihat dan dengar bahwa penggunaan bad words adalah sesuatu yang dapat diterima atau ditoleransi di lingkungan sekolah.
Terlebih lagi, jika perilaku tersebut tidak mendapatkan teguran atau konsekuensi, mereka dapat melihat bahwa perilaku itu tetap berjalan bersamaan dengan pengalaman yang menyenangkan. Seseorang belajar dari konsekuensi yang diamatinya pada orang lain (vicarious reinforcement). Apakah itu berarti semua murid baru akan meniru perilaku tersebut? Tidak. Tetapi pengalaman yang mereka amati dapat tersimpan sebagai informasi sosial yang memengaruhi pemahaman mereka tentang perilaku yang dianggap “boleh” atau “tidak boleh” dilakukan.
Karena itu, sekolah perlu menyadari bahwa setiap warga sekolah adalah model. Guru, karyawan, OSIS, kakak kelas, bahkan teman sebaya, semuanya dapat menjadi sumber pembelajaran sosial bagi anak. Ketika murid baru mendengar bad words, sekolah tidak seharusnya membiarkan peristiwa itu berlalu begitu saja.
Guru atau pendamping MPLS dapat segera melakukan debriefing sederhana dengan memberikan pemaknaan yang jelas: “Tadi kalian mungkin mendengar beberapa kata yang kurang pantas. Di sekolah ini, kita memiliki nilai untuk saling menghormati dan peduli, serta menggunakan bahasa yang santun. Penggunaan kata-kata kasar bukanlah perilaku yang sesuai dengan budaya sekolah kita.” Dengan demikian, murid tidak hanya menerima apa yang mereka amati, tetapi juga mendapatkan pemahaman yang benar mengenai nilai dan norma sekolah.
Namun, debriefing saja tidak cukup. Dibutuhkan konsistensi dalam keteladanan. Pesan yang paling kuat sering kali bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi apa yang kita lakukan secara konsisten. Jika sekolah mengatakan bahwa bad words tidak diperbolehkan, tetapi orang dewasa atau kakak kelas menggunakannya tanpa konsekuensi, anak akan menerima pesan yang membingungkan. Sekolah bukan hanya mengajarkan nilai, tetapi juga menjadi lingkungan tempat nilai itu dapat dilihat dan dialami secara nyata.
Peristiwa di lapangan basket itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, bagi murid baru, beberapa detik tersebut bisa menjadi sebuah pelajaran sosial. Mereka mungkin tidak langsung menirunya hari itu, tetapi apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dapat tersimpan dalam ingatan sebagai informasi tentang โbagaimana orang-orang di sekolah ini berperilaku.โ
Karena itu, setelah membaca Bandura, saya merasa pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Apa yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak?” tetapi juga, โApa yang sedang mereka pelajari dari kita?โ Sebab, setiap orang dewasa di sekolah adalah model, dan anak-anak mungkin sedang belajar dari kita, bahkan ketika kita merasa sedang tidak mengajar. (ybu)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.