Catatan Menjelang Akhir Tahun 2022: Contohlah Semangat Mereka, Oma dan Opa

Sebelum saya menulis panjang saya ucapkan

๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„
SELAMAT NATAL 2022 & SELAMAT TAHUN BARU 2023 untuk Sahabat Pembaca yang merayakan. Semoga suka cita Natal senantiasa mengisi hati dan terang cahaya menyinari langkah di tahun yang baru nanti.
๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„

Hari ini saya mengikuti acara Misa Natal Adiyuswo yang diadakan Gereja Katolik Santo Barnabas Pamulang. Misa ini dikhususkan untuk para lansia (lanjut usia). Saya ikut misa ini untuk menemani ibu saya, yang sudah lansia.

Pada Misa Adiyuswo ini hampir 80% berusia lansia, yang 20% adalah yang menemani, seperti saya, entah itu anak, cucu, atau keluarga lainnya. Namanya juga misa yang khusua diadakan untuk lansia.

Saya tertarik untuk menulis catatan hari ini tentang para lansia karena ada hal menarik yang patut dicontoh oleh saya dan kita yang masih berusia di bawah 50 tahun. Apa itu? SEMANGAT.

Contohlah Semangat Para Lansia

Mereka, para lansia memiliki semangat yang luar biasa. Saya sebagai orang yang berusia muda, rasanya malu. Saya malu karena terlalu banyak mengeluh atas masalah yang dihadapi. Seakan-akan masalah kita adalah yang terberat.

Pada acara perayaan Natal Adiyuswo yang diadakan setelah misa, para oma dan opa bergembira bersama, bernyanyi, dan melupakan bahwa usia mereka tidak muda lagi. Para oma dan opa ini menampilkan berbagai hiburan, seperti menyanyi dan menari. Mereka juga berjoged bersama dalam sukacita Natal.

Penampilan tarian dari oma-oma.

SECUIL KISAH SEJUTA INSPIRASI

Di antaranya sekian banyak oma dan opa, termasuk ibu saya, ada sepasang oma-opa yang menarik perhatian saya. Perkiraan saya, oma-opa ini berusia di atas 75 tahun. Oma-opa ini sudah tidak mampu berjalan normal. Mereka berdua bergandengan dan berjalan saling menopang, salah satunya membawa kruk. Oma-opa ini satu lift dengan saya dan ibu saya saat turun dari tempat acara natalan.

Batin saya berkata, “Mereka sungguh cinta sejati.” Mereka pasti akan saling setia hingga akhir hayat. ๐Ÿ˜

Ketika saya dan ibu saya duduk di lobi gedung menunggu pesanan taksi online datang, oma-opa itu pun duduk seperti menunggu jemputan. Saya pikir mungkin mereka menunggu jemputan.

Tidak berapa lama, oma-opa ini beranjak berdiri dan menuju parkiran. Saat itu ada sekelompok orang baru turun dari tempat acara. Saat melihat oma-opa itu mereka membantu untuk melewati dua anak tangga di depan lobi.

Salah satu di antaranya bertanya, “Sudah dijemput, Oma.”
“Tidak, ada mobil,” jawab si Oma.
Saya pun berpikir, kalau sudah ada mobil anaknya, kenapa anaknya tidak menemui malah menyuruh oma-opa itu jalan ke parkiran?

Tidak berapa lama saya melihat sebuah mobil tua lewat (mobil yang seusia dengan mereka), oma-opa itu duduk di depan. Si Opa menjadi pengemudinya. Deg, hati saya langsung bergetar.

Astaga, mereka membawa mobil sendiri. Kemana anak-anak mereka? Apa mereka tidak memiliki anak? Kalau punya anak, apa anak-anaknya tidak tahu mereka pergi ke gereja?

Visited 110 times, 1 visit(s) today