Tas kanvas menjadi media lukis anak
Kegiatan melukis/menggambar merupakan ilmu yang paling mudah diajarkan pada kita semenjak kecil bahkan tanpa perlu di ajarkan setiap anak pasti sudah langsung mengerti menggambar, cukup anda kasih secarik kertas dengan pensil anak akan menggambar apa yang terlintas dalam pikiran mereka. Bahkan mereka merengek-rengek minta dibelikan krayon atau pensil warna dan kertas gambar. Motivasi mereka terhadap menggambar atau melukis ini kuat sekali.
Seharusnya ini mempermudah kita (sebagai orangtua) untuk memanfaatkan potensi yang memang sudah ada pada diri mereka yaitu semangat untuk belajar. Menuangkan apa yang dilihat/dipelajari kedalam bentuk gambar/visual.
Namun sayang ketika mereka masuk ke sekolah dasar bekal yang sudah ada tersebut terpinggirkan, belajar lukis ini seolah tidak diperhitungkan bagi sebagian besar orang tua. Bahkan yang sangat ekstrim adalah ketika orang tua mengatakan “menggambar terus kapan belajarnya!” atau “memang kalau sudah besar mau jadi pelukis, Mau makan apa kamu?
Yang dibutuhkan bagi anak adalah sebenarnya pengarahan yang benar, dari orang tua atau guru (pendidik) untuk menyingkapinya. Menggambar atau melukis itu termasuk bidang ilmu yang salah satunya berperan meningkatkan pengembangan atau mengasah otak kanan. Menggambar/melukis bukan hanya dipelajari hanya TK (porsinya banyak), tapi melukis/menggambar itu harus terus di kembangkan hingga dewasa atau di lakukan terus, seperti halnya ilmu-ilmu lainnya.
Karena otak kanan berperan untuk mengembangkan imajinasi manusia, maka sangat berguna sekali ketika mereka bekerja atau berdampingan dengan ilmu-ilmu yang dia pakai pada saat nantinya.
Belajar seni lukis atau mengasah atau mengembangkannya bukan untuk seseorang menjadi pelukis atau seniman. Karena pada awalnya ilmu ini dipergunakan sebagai pengembangan/mengasah kecerdasan pada otak kanan. yaitu Mengasah motorik halus, melatih fokus pada pekerjaan, emosional, kreatifitas, menjaga keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri sehingga otak tidak lelah/stress ketika menghadapi persoalan aritmatik atau sosial.
Tas kanvas menjadi media lukis anak
Sumber: handokoaji.wordpress.com/2012/03/15/manfaat-melukis-untuk-kecerdasan (dengan perubahan)

Pada zaman dahulu Sang Kancil merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah bersedia membantu kapan saja.
Kancil terus berjalan menyusuri tebing sungai. Apabila terasa capai, ia beristirahat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Kancil berkata di dalam hatinya “Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat.” Setelah rasa capainya hilang, Sang Kancil kembali menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat di sekitarnya. Ketika tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil memandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai. “Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut,” pikir Sang Kancil.
“Kabar baik sahabatku, Sang Kancil.” Sambung buaya lagi, “Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?”

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.