“Terjun Bebas” ke Bisnis

Bulan puasa tahun ini akan terasa berbeda. Mengapa! Karena aku “Terjun Bebas” dalam bisnis. Bisnis makanan or minuman untuk buka puasa. Selain itu, aku juga siapkan beberapa makanan tradisional yang sederhana tetapi luar biasa.

Aku memang tidak ikut berpuasa, tetapi aku ingin merasakan berkatnya di bulan puasa ini. Aku akan benar-benar belajar bisnis. Bisnis makanan dan minuman untuk menu buka puasa pastilah banyak pesaingnya, tetapi pasti banyak juga pembelinya. Aku hanyalah berusaha, Sang Pemilik-lah yang menentukan segalanya.

Pagi ini aku ke pasar membeli beberapa bahan untuk bisnisku nanti. Wow, harga-harganya luar biasa melambung. Bulu kudukku agak bergidik, ketika menghitung modal yang harus dikeluarkan untuk bisnis perdana ini. Kembali aku menghela napas, aku sedang belajar bisnis, aku harus benar-benar memanfaatkan waktu belajarku dengan sebaik-baiknya.

Buku yang kubaca tentang bisnis sudah banyak, mendengar kisah orang sukses berbisnis juga sudah tak terhitung, bahkan aku sendiri sudah membuat buku tentang ide bisnis. SEKARANG aku harus benar-benar mempraktikkan semua teori dan semangat bisnis yang telah kuterima dan kumiliki. Aku harus berani, meski harus sedikit nekad, aku harus melakukan. Inilah saatnya untukku melakukan perubahan yang signifikan dalam hidup.

Bisnis tidak bisa kulakukan sendiri. Itu sangat kusadari betul. Dukungan orang-orang di sekitarku sangatlah kubutuhkan. Dan, dukungan itu sudah kudapatkan. Aku harus bisa memanfaatkan dukungan itu sebaik-baiknya, SEKARANG!

Menjalani bisnis bagiku seperti “Terjun Bebas”. Dapat kukatakan aku ini belum pernah berhasil menjalankan bisnis. “Terjun Bebas” bagiku adalah siap menghadapi luasnya ladang bisnis dan persaingan bisnis, sehingga bisa mendapatkan sasaran bisnis yang tepat dan mengarahkanku ke Mandiri Finansial.

Lakukan SEKARANG! Atau tidak sama sekali.

(Paskalina, penulis dan penyuka buku anak, calon entrepreneur)

(JJS) Jalan-jalan Siang di Toko Buku

Hasil JJS (jalan-jalan siang) di Gramedia Matraman, Minggu, 15 Juli 2012

Pukul10 pagi matahari sudah begitu terik. Ingin rasanya cepat-cepat, tak perlu melewati jalan yang begitu terik plus kepadatan kendaraan motor yang semakin padat saja. Memang, kapan pun Jalan Ibukota ini tanpa pernah absen dari kepadatan lalulintas, pagi, siang, sore, malam, tetap saja padat dan selalu harus berjibaku melawan kerasnya jalanan. Ingin pergi saat jalanan sepi, apa ada toko buku gramedia yang buka jam 1 pagi??
Ah Jakarta akan terus demikian, yang tak betah silakan segera merapat ke kampung halaman (jika kampung halamannya di luar jakarta). Mengungkapkan tentang jalanan jakarta, rasa-rasanya tak akan habisnya. Ya sudahlah..

Ajak anak ke toko buku

Berada di toko buku memang menyenangkan, selain karena adem full ac, aku senang melihat anak-anak antusias memilih-milih buku. Hari libur memang paling baik jika orangtua mengajak anak-anak mereka ke toko buku. Atau menyarankan anak-anak pergi ke toko buku. Memang lebih bermanfaat bagi anak jika berada di toko buku meskipun tak berminat pada buku, daripada berada di mal dengan segala hiruk pikuknya. Paling tidak dengan berada di toko buku anak terbiasa dengan melihat-lihat gambar pada buku, ikut-ikutan beli buku seperti temannya, dan sebagainya.

  (Anak-anak asyik di toko buku)

Buku busa, aman untuk anak

Rak favoritku di toko buku adalah rak buku anak. Senang rasanye melihat buku-buku dengan aneka jenis, aneke warna, aneka bentuk, dan aneka bahan. Ada buku yang ketika dibuka membentuk tidak dimensi, ada buku yang bentuknya lucu sesuai gambar, wuih banyak sekali macamnya.

Kini ada hadir satu jenis buku yang bahannya bener-bener aman buat anak-anak, buku berbahan busa. BUSA!! Ya busa, empuk dan ringan. Banyak buku anak yang menggunakan bahan-bahan yang tidak mudah sobek atau tidak rusak jika kena air. Bahan-bahan buku yang keras seperti tripleks memang tidak mudah rusak, bahkan jika dilempar ke sana ke mari, tidak akan sobek, tapi apakah buku jenis itu aman jika dilempar ke teman sendiri? Tentu saja tidak. Bahan-bahan buku yang keras bisa melukai anak itu sendiri atau orang lain di sekitarnya.

(Buku anak berbahan busa)

Bagi orangtua, kini tidak perlu khawatir karena ada jenis buku yang aman untuk anak, yaitu buku berbahan busa. Selain ringan buku busa ini tidak akan melukai jika  buku itu terlempar atau jatuh dari meja atau lemari dan mengenai kepala anak atau orang-orang di sekitar anak.Hai orangtua, ayo ajak anak-anak ke toko buku! (Paskalina, penulis dan penyuka buku anak)

Book Review: Prinsip Hidup Orang Miskin

Prinsip Hidup Orang Miskin

 

Judul               :      Saga no Gabai Baachan, Nenak Hebat dari Saga

Penulis            :      Yoshichi Shimada

Penerbit           :      Kansha Books (a division of Mahda Books)

Terbit              :      Cet II, Mei, 2011

Tebal               :      264 halaman

ISBN              :      978-602-97196-2-8

Harga              :      Rp 48.000,00

 

 

Hidup itu selalu menarik, daripada hanya pasrah selalu coba cari jalan!

(Tips hidup menyenangkan ala Nenek Osano.)

Kita tentu masih ingat buku berjudul Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi. Buku yang berkisah di negara Jepang ini sangat menginspirasi pembacanya. Dalam buku ini, kisah masa kecil penulisnya diramu dengan bahasa yang sederhana dan penuh peristiwa-peristiwa haru, walau kadang ada peristiwa yang bisa membuat pembaca geleng-geleng kepala karena perilaku yang dilakukan oleh sang tokoh utama.

Masih dari negara yang sama, Jepang, hadir sebuah buku yang juga dapat menginspirasi pembacanya. Buku itu ditulis oleh Yoshichi Shimada judulnya Saga no Gabai Baachan, Nenek Hebat dari Saga. Dapat dibilang kesuksesan Yoshichi Shimada dengan buku ini mengikuti keterkenalan Tetsuko Kuroyanagi. Mengapa demikian? Untuk pertama kalinya, Yoshichi Shimada memperkenalkan bukunya dengan tampil sebagai bintang tamu di acara televisi Asahi TV yang telah memiliki jam tayang sangat panjang “Tetsuko no Heya” (Kamar Tetsuko). Acara ini dipandu oleh Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Setelah tampil di acara ini, pesanan buku Saga no Gabai Baachan di toko-toko buku langsng membeludak.

Yoshichi Shimada yang sebenarnya bernama Akihiro Tokunaga, dalam buku tersebut mengisahkan tentang masa kecilnya tinggal bersama neneknya di kota kecil Saga. Bukan kemauan Akihiro melewati masa kecil tanpa kasih sayang dari ibunya di Saga. Semuanya berawal ketika bom atom yang jatuh di Hiroshima. Ayah Akihiro yang sejak menikah dengan ibunya tinggal di Saga, pergi ke Hiroshima pasca jatuhnya bom atom. Namun hal itu membawa malapetaka, karena ayah Akihiro kemudian jatuh sakit karena radiasi atom hingga akhirnya meninggal. Ibu Akihiro tak sanggup membesarkan Akihiro di Hiroshima, sehingga akhirnya mengirim Akihiro ke Saga untuk tinggal bersama neneknya, Nenek Osano.

Tinggal bersama Nenek Osano bukan berarti keluar dari kesulitan hidup, justru kesulitan dan kemiskinan semakin menghimpit masa kecil Akihiro. Ketika sampai di rumah Nenek Osano, Akihiro dihadapkan pada situasi rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Tidak hanya itu, Akihiro juga diharuskan memasak sendiri nasi untuk makan, karena Nenek Osano harus berangkat bekerja pada pagi hari.

Gubuk itu sempit dengan ukuran kurang lebih dua jou tikar tatami. Di dalamnya terdapat jendela yang teramat besar, yang tampak mendominasi.

Lalu kepada diriku yang masih berdiri termangu tanpa tahu harus bagaimana, Nenek berkata, “Karena mulai besok Akihiro yang harus menanak nasi, perhatikan baik-baik.”

Setelah berkata begitu,  Nenek mulai menyalakan api dalam tungku oven. (hlm. 34)

Hari pertama bertemu dengan neneknya sudah membuatnya terpana. Hari-hari selanjutnya banyak peristiwa yang membuat Akihiro semakin terkesima sekaligus kagum pada cara neneknya menjalani hidup sebagai orang miskin di Saga. Setiap berangkat dan pulang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah universitas di Saga, Nenek Osano selalu mengikatkan tali di pinggangnya dan pada ujung tali diikatkan magnet. Pada magnet itu tertempel paku dan sampah logam yang diperoleh dari jalan-jalan yang dilewatinya. Paku dan sampah-sampah logam yang terkumpul dapat dijual. Ini adalah salah satu kecerdikan Nenek Osano dalam menghadapi kemiskinan.

Nenek Osano memperkenalkan Akihiro pada “Supermarket”. Supermarket yang dimaksud Nenek Osano adalah sungai di dekat rumahnya yang mengalir membawa sisa-sisa bahan makanan dari pasar. Nenek Osano memasang galah di aliran sungai sehingga makanan berupa sayuran dan buah yang terbawa arus sungai akan tersangkut di galah. Dan neneknnya tinggal mengambilnya dengan mudah.

Nenek meraih sayur yang bentuknya aneh dan berkata, “Lobak yang berujung dua sekalipun, kalau dipotong-potong dan direbus, sama saja dengan yang lain. Timun yang bengkok sekalipun, bila diiris-iris dan dibumbui garam, tetap saja timun.” (hlm. 43-44)

Kemiskinan yang dialami Akihiro dan neneknya membuat Akihiro mengubur semua keinginannya. Saat Akihiro sudah masuk sekolah, dia ingin ikut latihan kendo atau judo. Namun ketika dia membicarakannya pada neneknya, nenek menolak karena latihan kendo dan judo membutuhkan biaya untuk membeli seragam. Nenek Osano menyarankan Akihiro latihan lari saja, karena latihan lari tidak membutuhkan biaya.  Akihiro tentu kecewa dengan jawaban neneknya tetapi dia melakukan apa yang dikatakan neneknya. Dan, ternyata ketika dia bersekolah di SMP, Akihiro terpilih menjadi kapten baseball di sekolah karena latihan lari usulan dari neneknya. Bahkan tanpa diduga oleh Akihiro, neneknya membelikan sepatu atletik seharga 10.000 yen karena dirinya terpilih menjadi kapten.

Kehidupan yang dijalani oleh Akihiro dan neneknya di Saga memang tidak mudah, tetapi begitu banyak hal yang membuat Akihiro merasa bangga memiliki nenek seperti neneknya itu. Sehingga Akihiro menuangkan seluruh kisah kehidupan bersama neneknya ke dalam buku ini. Tepat sekali ketika Akihiro Tokunaga atau Yoshichi Shimada memberi judul buku ini Nenek Hebat dari Saga.

Siapapun yang membaca buku ini pasti akan terinspirasi. Buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan usia. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Nenek Osano patut kita jadikan teladan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang datang dalam kehidupan kita sehari-hari. Nenek Osano berkata: ada dua jalan buat orang miskin, miskin muram dan miskin ceria. Kita mau memilih yang mana?

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, Editor dan Penulis yang tinggal di Jakarta.

Book review: Merintis Usaha di Usia Muda

Merintis Usaha di Usia Muda

 

Judul               :      Rintis Usaha Sendiri, Yuk!
Penulis            :      Cheryl Tanuwijaya
Penerbit           :      Citta Media
Terbit              :      Juni 2011
Tebal               :      118 halaman
Harga              :      Rp 32.500,00

 

Di zaman yang serba mahal dan canggih ini, kita tidak bisa berdiam diri saja menunggu keberuntungan yang diturunkan oleh Tuhan. Kita harus terus belajar dan berusaha mengembangkan diri, mengembangkan kemampuan yang kita miliki. Salah satunya adalah kemampuan merintis usaha sendiri. Merintis usaha? Mungkin di antara kita akan berujar, memangnya mudah merintis usaha sendiri.

Merintis usaha itu ternyata mudah. Ini sudah dibuktikan oleh Cheryl Tanuwijaya. Saat Cheryl masih duduk di SMA, dia menekuni bisnis logam mulia. Wow, mungkin sebagian dari kita berdecak, tetapi inilah realita, anak SMA juga bisa berbisnis logam mulia yang harganya bisa selangit.

Berdasarkan pengalamannya menekuni bisnis logam mulia, ia menuangkan pengalamannya merintis usaha sendiri melalui buku perdananya Rintis Usaha Sendiri, Yuk!. Melalui buku ini ia ingin mengajak remaja-remaja seusianya untuk mengubah kebiasaan remaja yang hanya bisa menadahkan tangan pada orang tua untuk memenuhi uang jajan.

Kita tentu sepakat bahwa dengan banyaknya pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan lapangan pekerjaan yang banyak. Dan, dengan adanya buku ini patut kita acungi jempol. Mengapa? Buku ini mengajak remaja untuk berubah ke arah yang lebih baik, lebih kreatif, dan lebih berani berinovasi. Remaja tidak lagi berangan-angan untuk bekerja di perusahaan A atau perusahaan B, kantor A atau kantor B. Angan-angan remaja adalah usaha apa yang bisa diciptakan untuk masa persiapan di masa depan. Hal ini akan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga secara otomatis pengangguran dapat dikurangi.

Tugas utama seorang remaja yang masih duduk di bangku sekolah adalah belajar, demikian pula tugas remaja yang duduk di bangku kuliah. Tetapi tidak ada larangan untuk remaja berkreasi dan berinovasi menciptakan usaha, bukan? Peluang-peluang usaha yang bisa dijalani oleh remaja yang masih berstatus sekolah atau kuliah, di antaranya memanfaatkan hobi yang dimiliki oleh remaja itu sendiri. Misalnya, seorang remaja memiliki hobi membaca, secara otomatis dia pasti memiliki koleksi buku bacaan yang sangat banyak. Hobi membaca ini dapat dijadikan peluang usaha perpustakaan atau rental buku. Contoh lain hobi menggambar atau melukis. Hobi ini juga bisa dijadikan peluang usaha yang menguntungkan, seperti Andina Nabila Irvani dari hobinya melukis bisa membuat usaha sepatu lukis dengan brand bernama Spotlight.

Merintis usaha di usia muda bisa dilakukan oleh semua remaja, asalkan mereka tahu cara dan jalan yang benar. Memang ada pepatah mengatakan “Banyak jalan menuju Roma”, tetapi setiap jalan yang dipilih haruslah sesuai dan tidak salah langkah. Dalam buku Rintis Usaha Sendiri, Yuk!, Cheryl menyebutkan ada komposisi bisnis untuk merintis usaha, yaitu kemauan, kreatif, promosi, dan bersyukur pada Sang Pencipta.

Kemauan adalah hal terpenting ketika kita akan melakukan usaha. Meskipun kita memiliki kepintaran dan modal uang yang cukup, tanpa adanya kemauan, semuanya akan sia-sia belaka. Tepat apabila dikatakan “Modal bisa dicari, tetapi kemauan harus diperjuangkan”. Oleh karena itu, Cheryl menempatkan kemauan sebagai komposisi pertama dalam bisnis.

Ketika kita mulai merintis usaha sendiri, tidak selalu berakhir dengan kesuksesan, adakalanya kita harus mengalami kegagalan dan menghadapi kendala-kendala. Jangan jadikan kegagalan dan kendala itu sebagai nilai negatif, tetapi jadikan kegagalan dan kendala itu nilai positif untuk pemicu supaya kita semakin kreatif dan cerdas menyelesaikan masalah.

Buku Rintis Usaha Sendiri, Yuk! patut kita apresiasi dengan beberapa alasan. Pertama, buku ini ditulis oleh seorang remaja dan diperuntukkan dengan remaja, sehingga buku ini tidak menggurui siapa saja yang membacanya. Buku ini memberikan gambaran nyata tentang remaja dan segala lika-likunya untuk mewujudkan kemandirian diri dan kemandirian finansial. Kedua, buku ini mengajak kita semua untuk mengubah mindset, bahwa kemandirian finansial bisa dimulai sejak dini. Kita tidak perlu menunggu usia 30 tahun untuk sukses. Dimulai sekarang pun jika punya kemauan, pasti bisa kesuksesan bisa dicapai.

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, Editor dan Penulis yang tinggal di Jakarta.