Anak usia 5 tahun mana mau diajak belajar terus, maunya pasti main-main dan main.
Seorang anak tetangga datang ke rumah hendak mengajak anak saya main. Dengan tegas saya katakan, “Maaf ya, Kenan tidak main.” Si anak ini memang berbeda dengan anak lain, sering keluar masuk rumah seluruh penghuni kompleks sehingga membuat penghuni kompleks enggan untuk membiarkan anak itu masuk. Kadang kala, saya membiarkan anak ini masuk. Namun, hari ini dan seterusnya hingga virus korona tak lagi terdengar saya tidak akan membebaskan orang, baik anak maupun siapa saja untuk keluar masuk rumah saya. Bukan sombong dan tak suka bertetangga, ini dilakukan demi keamanan keluaga saya dari terinfeksi COVID-19. Wabah belum berlalu gaes… tetap lakukan socialdistancing dan physicaldistancing.
Sudah hampir 3 pekan, kita berada di rumah. Banyak orangtua kerja dari rumah, semua anak-anak sekolah harus berada di rumah dan menjalani pembelajaran online. Bosan dan jenuh tentu sudah bisa kita rasakan, tetapi mau tidak mau kita harus menjalani hingga virus ini pergi dari bumi Indonesia.
Hari ini, 2 April, tepat diperingati sebagai Hari Buku Anak Sedunia. Di masa tanggap darurat yang mengharuskan semua orang berada di rumah, baik sekali jika momen luar biasa ini dapat diabadikan melalui kegiatan membacakan buku anak untuk anak-anak yang belum bisa fasih membaca. Bagi anak-anak yang sudah mahir membaca, orangtua dapat membuat challenge dari aktivitas membaca di rumah.
Menurut data terakhir yang diperoleh dari https://corona.jakarta.go.id/id (diakses tanggal 1 April 2020) kasus positif korona mencapai lebih dari 1.600 orang. Setiap jam angka itu bisa berubah menjadi lebih banyak. Tentunya kita semua berharap dan senantiasa berdoa, wabah virus korona bisa segera berakhir. Amin
Kita semua tahu, bahwa penyebaran virus ini begitu cepat dan hanya kita sendiri yang bisa menghindarinya. Virus ini bisa ditularkan oleh siapa pun dan di mana pun. Oleh karena itu, dengan kita tetap berada di rumah dan melakukan socialdistancing kita sudah membantu Indonesia untuk memutus penyebaran virus korona. SO, STAY AT HOME YA GAES….
Sejak tanggal 16 Maret 2020, mulai diberlakukan kebijakan belajar di rumah untuk anak sekolah dan WFH (work from home) untuk para ASN maupun karyawan swasta. Semua masyarakat diminta (diperintahkan) untuk berada di rumah. Belum genap sebulan berada di rumah, rasanya sudah lama sekali, kebosanan sudah mulai menghantui.
Media sosial menjadi salah satu ruang untuk mengekspresikan kebosanan. Ada berbagai tantangan yang dilakukan di media sosial, entah tantangan serius hingga sebatas hiburan mengisi waktu.
Baru kali ini terjadi (sesuai yang dialami penulis) anak-anak harus libur sekolah secara mendadak. Kemudian anak-anak harus belajar secara online ‘daring’. Libur kali ini anak-anak juga harus tetap melakukan aktivitas di rumah saja. Semua karena COVID-19.
Tidak hanya anak sekolah yang libur kantor-kantor swasta dan pemerintah juga meliburkan karyawannya, seluruh maupun sebagian, guna memutus persebaran wabah COVID-19 ini. Karena jumlah orang yang terkena wabah ini terus meningkat, pemerintah juga meminta kepada semua pihak untuk melakukan social distancing. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kerumunan dan tidak menciptakan kerumunan. Efeknya, banyak acara-acara yang menghadirkan pengunjung atau penonton dibatalkan. Sebagai contoh, acara Kick Andy Heroes 2019 di salah satu televisi swasta diselenggarakan tanpa penonton untuk menghindari kerumuman. Semua karena COVID-19.
Tetap di Rumah
Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah bertambahnya korban baru karena COVID-19? Hanya satu langkah kecil namun berdampak besar, yang bisa kita lakukan, yaitu tetap di rumah. Kita harus terus memastikan anggota keluarga kita untuk tetap berada di rumah dan tidak pergi ke luar rumah jika tidak benar-benar perlu. Penyebaran wabah ini tidak terlihat, siapapun, di mana pun, bisa terkena virus ini. Meskipun kita merasa sehat, masih muda, dan tidak perlu keluar rumah jika tidak perlu. Segala informasi terbaru tentang wabah COVID-19 dapat kita pantau melalui berita di televisi atau laman-laman resmi pemerintah. Tetaplah di rumah, tunggulah dengan sabar hingga wabah sirna.
Setelah dilantiknya para pejabat baru dalam jajaran pembantu presiden, ada banyak fakta menarik yang menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Fakta awal yang cukup mencengangkan publik, misalnya munculnya nama-nama muda yang duduk sebagai menteri, seperti CEO Gojek yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian ada Wishnutama yang menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan masih banyak lagi fakta lainnya.
Dari sekian banyak sepak terjang para menteri baru, yang menarik perhatian saya adalah kebijakan yang dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kenapa menarik perhatian saya? Kebijakan yang muncul dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan sangat berpengaruh terhadap apa yang saya kerjakan selama ini, yaitu menulis. Salah satunya kebijakan tentang akan adanya perubahan kurikulum.
(sumber foto: Antara/Indriarto Eko Suwarso)
Kemudian, baru-baru ini, Pak Menteri yang mendapat panggilan Mas Menteri ini mengeluarkan kebijakan baru tentang UN. Kebijakan itu berbunyi: “Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.” Itu sama artinya jika UN resmi dihapus.
Lebih lengkapnya tentang kebijakan Mas Menteri ini dapat kita simak bersama di kanal Youtube Kemendikbud RI atau Instagram resmi Kemendibud RI @kemdikbud.ri.
Berikut ini sedikit rangkuman tentang Empat Program Pokok Kebijakan Pendidikan yang disampaikan oleh Mas Menteri.
1. Mengganti USBN dengan ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah.
2. Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 1 halaman cukup.
4. Fleksibilitas Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi.
Empat kebijakan di atas tentulah membuat sistem pendidikan di Indonesia berubah hampir 360°. Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak bagi peserta didik dan guru. Semua pihak yang berkaitan dengan pendidikan juga terkena dampak dari kebijakan tersebut.
Bagi saya sendiri, yang menjadi bagian kecil dari pendidikan, sebagai penulis, kebijakan yang dibuat oleh Mas Menteri tentu akan berpengaruh. Buku-buku yang akan saya tulis harus mengikuti perubahan yang terjadi, apalagi jika buku-buku yang ditulis berkaitan erat dengan kurikulum.
Kebijakan baru dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu terjadi pada setiap perubahan kepemimpinan dalam hampir semua kementerian yang ada. Sebagai masyarakat, kita tentu berharap kebijakan itu akan semakin mencerdaskan generasi anak bangsa ke depannya. Kebijakan baru pasti akan menjumpai pro dan kontra, hal ini adalah dinamika dalam sebuah perubahan untuk menjadi lebih baik. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.