Sayembara Menulis Cerita Anak Tahun 2020

PENYELENGGARA LOMBA/SAYEMBARA
Balai Bahasa Sumatera Utara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sayembara Menulis Cerita Anak Tahun 2020
“Merdeka belajar anak usia sekolah berbasis muatan lokal”

KETENTUAN UMUM
1. Sayembara terbuka untuk masyarakat umum yang berdomisili di Sumatera Utara dibuktikan dengan KTP/kartu identitas lainnya.
2. Sayembara tidak berlaku bagi pemenang tahun-tahun sebelumnya.
3. Peserta mendaftar melalui tautan http://bit.ly/daftarceritaanaksumut
4. Pengiriman naskah hanya melalui posel: ceritaanaksumut2020@gmail.com selambat-lambatnya tanggal 8 April 2020 pukul 24.00 WIB. Naskah dikirim dalam bentuk microsoft word. Nama/biodata penulis tidak boleh tertera dalam naskah.
4. Pengumuman pemenang Lima Naskah Terbaik tanggal 28 April 2020 melalui media sosial atau pemberitahuan langsung kepada pemenang melalui telepon.
5. Lima naskah terbaik menjadi hak milik panitia dan akan diterbitkan sekaligus didistribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Sumatera Utara.

KETENTUAN KHUSUS
1. Naskah berbentuk prosa dan berbahasa Indonesia yang memenuhi kesesuaian kaidah dan keterbacaan.
2. Naskah harus sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu Pendidikan Penguatan Karakter yang ditujukan untuk siswa SD kelas IV s.d. VI.
3. Naskah memuat unsur kekayaan bahasa dan kearifan daerah Sumatera Utara.
4. Naskah tidak mengandung SARA, pornografi, kekerasan, pelecehan fisik, ujaran kebencian, dan bias gender.
5. Naskah ditik pada kertas A4 antara 20 s.d. 25 halaman, spasi 1,5, margin kiri 1,5, dan margin kanan-atas-bawah 2 cm.
6. Naskah dapat dibagi menjadi beberapa  episode atau subjudul.

HADIAH
Lima Penulis Naskah Terbaik masing-masing memperoleh Rp 10.000.000,00 (pajak hadiah ditanggung pemenang)

NARAHUBUNG
Wartono 082167946161
Melani Rahmi 081370056734
Indah Gustina 08126468134

Jika ada pertanyaan, silakan langsung menghubungi narahubung di atas.

Bagi ibu/bapak/kakak sekalian pejuang sayembara menulis, jangan kecewa setelah membaca informasi di atas. Sayembara ini hanya berlaku untuk mereka yang ber-KTP Sumatera Utara dan belum pernah memenangkan lomba tahun sebelumnya. 😊✌️

#salamliterasi #paskalinaaskalin

Sumber: Instagram Balai Bahasa Sumatera Utara @balaibahasa.sumut

Berbagi Tidak Perlu Suap-suapan

Hindarkan Anak dari Kebiasan Berbagi Makanan dengan Sendok yang Dipakai Bersama Teman

“Namanya juga anak-anak.” Begitulah ungkapan yang sering kita dengar ketika melihat ulah seorang anak yang begitu keterlaluan. Misalnya, lari ke sana ke mari ketika berada di tempat umum, ingin makanan milik teman, naik-naik di kursi, teriak-teriak tak terkendali, dan sebagainya.

Sumber gambar: www.istockphoto.com

Kita semua seakan memaklumi ulah anak-anak. Tak boleh ada orang marah dan tersinggung akan perilaku anak-anak. Saya paham betul akan perilaku anak-anak. Namun, saya rasa sebagai orangtua, kita tidak boleh pasrah begitu saja pada perilaku anak. Pembiaran perilaku semau anak, bukanlah pilihan yang tepat.

Konteks Berbagi dengan Benar
Beberapa waktu lalu, ada seorang anak beserta pengasuhnya datang ke rumah. Anak itu membawa makanan berupa puding cokelat. Anak saya, Kenan, suka sekali dengan puding cokelat. Ketika anak yang datang itu menawari Kenan puding cokelat, dengan senang Kenan menerimanya. Anak itu menyuapi Kenan dengan sendoknya (satu sendok dipakai bersama). Saya ingin melarang seketika itu juga. Tetapi saya menahan diri, karena dari tatapan mata Kenan, saya bisa rasakan kemarahan. Kenan tidak mau dilarang. Akhirnya beberapa suap puding dimakan oleh Kenan.
Saya pun tak ingin membuat oranglain tersinggung dengan langsung melarang keras pada Kenan. Saya ingin menegur sang pengasuh tetapi saya pikir tak ada gunanya. Lebih baik saya memberikan pengertian pada Kenan.

Kemudian saya ajak Kenan membuat puding cokelat sendiri (beruntunglah masih ada separuh kantung puding yang belum dimasak). Sembari membuat puding, saya mencoba penjelasan Kenan bahwa tidak boleh menerima suapan makanan dari temannya. Terus terang, saya agak kesulitan menjelaskan hal ini pada Kenan.

Saya belum bisa menjelaskan panjang lebar alasan lebih detail tentang menolak makanan pemberian orang lain. Saya masih harus belajar banyak tentang ilmu pola asuh yang baik.

Dulu saya beranggapan bahwa jika menyuapi makanan yang kita makanan dengan sahabat atau teman dekat adalah wujud keakraban atau persahabatan. Namun, faktanya tidak demikian. Dikutip dari laman hellosehat.com bahwa: “Bagi sebagian orang, berbagi alat makan dengan orang lain merupakan wujud persahabatan dan keakraban. Akan tetapi, saling pinjam peralatan makan seperti sendok, garpu, sedotan, atau botol minum ternyata berisiko menyebabkan penularan penyakit.”
Mungkin jika kita berbagi makanan dengan saudara sendiri, kakak, adik, ayah, atau ibu, tidaklah menjadi soal, karena kita sendiri tahu riwayat kesehatan keluarga kita. Jika orang yang membagi makanan adalah orang lain, kita tidak tahu sakit apa yang sedang diderita. Kita perlu sekali menerapkan atau mengajak anak kita untuk berbagi dengan orang lain, tanpa harus menyuapkan makanan kita pada orang lain.

Empat Pokok Kebijakan Pendidikan: MERDEKA BELAJAR

Setelah dilantiknya para pejabat baru dalam jajaran pembantu presiden, ada banyak fakta menarik yang menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Fakta awal yang cukup mencengangkan publik, misalnya munculnya nama-nama muda yang duduk sebagai menteri, seperti CEO Gojek yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian ada Wishnutama yang menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan masih banyak lagi fakta lainnya.

Dari sekian banyak sepak terjang para menteri baru, yang menarik perhatian saya adalah kebijakan yang dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kenapa menarik perhatian saya? Kebijakan yang muncul dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan sangat berpengaruh terhadap apa yang saya kerjakan selama ini, yaitu menulis. Salah satunya kebijakan tentang akan adanya perubahan kurikulum.

(sumber foto: Antara/Indriarto Eko Suwarso)

Kemudian, baru-baru ini, Pak Menteri yang mendapat panggilan Mas Menteri ini mengeluarkan kebijakan baru tentang UN. Kebijakan itu berbunyi: “Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.” Itu sama artinya jika UN resmi dihapus.
Lebih lengkapnya tentang kebijakan Mas Menteri ini dapat kita simak bersama di kanal Youtube Kemendikbud RI atau Instagram resmi Kemendibud RI @kemdikbud.ri.

Berikut ini sedikit rangkuman tentang Empat Program Pokok Kebijakan Pendidikan yang disampaikan oleh Mas Menteri.
1. Mengganti USBN dengan ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah.
2. Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 1 halaman cukup.
4. Fleksibilitas Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi.

Empat kebijakan di atas tentulah membuat sistem pendidikan di Indonesia berubah hampir 360°. Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak bagi peserta didik dan guru. Semua pihak yang berkaitan dengan pendidikan juga terkena dampak dari kebijakan tersebut.

Bagi saya sendiri, yang menjadi bagian kecil dari pendidikan, sebagai penulis, kebijakan yang dibuat oleh Mas Menteri tentu akan berpengaruh. Buku-buku yang akan saya tulis harus mengikuti perubahan yang terjadi, apalagi jika buku-buku yang ditulis berkaitan erat dengan kurikulum.

Kebijakan baru dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu terjadi pada setiap perubahan kepemimpinan dalam hampir semua kementerian yang ada. Sebagai masyarakat, kita tentu berharap kebijakan itu akan semakin mencerdaskan generasi anak bangsa ke depannya. Kebijakan baru pasti akan menjumpai pro dan kontra, hal ini adalah dinamika dalam sebuah perubahan untuk menjadi lebih baik. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

– Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan –

Bagi saya yang mempunyai anak usia PAUD pernyataan Pak Menteri itu patut saya acungi dua jempol. Saya sepakat dan setuju dengan pernyataan beliau, karena saya merasakan sekali sebagai ibu di rumah yang mencoba mengenalkan calistung pada anak saya, Kenan. Tanpa rasa senang, rasa suka, dan rasa cinta, belajar apapun bersama anak usia dini itu terasa sebagai siksaan bagi anak.

Anak saya Kenan, Januari 2020 nanti akan berusia 5 tahun. Sejak usianya dua tahun, bahkan kurang dari dua tahun, saya sudah mengenalkan calistung. Ketika itu harapan saya tidak muluk-muluk, saya hanya ingin Kenan mengenal huruf dan angka. Huruf-huruf dan angka saya jadikan mainannya. Saya mencoba membuat kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian Kenan. Angka-angka sering saya tunjukkan dan saya sebut saat bermain, misalnya saya mengajak Kenan menghitung mobil mainannya, saya menempel angka 1 – 5 di dinding, mengelompokkan benda sesuai jumlahnya, dan lain-lain. Saya menyebutnya bermain sambil belajar.

Pernyataan Pak Menteri Nadiem Makarim bahwa kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung sesuai dengan yang saya lakukan selama ini. Tujuan awalnya adalah mengajak anak bermain dan melakukan hal yang menyenangkan, sedangkan paham calistung merupakan bonusnya. Sampai usia Kenan saat ini Kenan sudah tahu angka 1-20 dan sudah paham huruf A-Z. Kenan juga saat ini sedang belajar menulis dan membaca.

Kebanyakan anak usia 5 tahun di Indonesia, khususnya yang tinggal di perkotaan, sudah mengenal bahkan fasih dengan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Memang masih menjadi perdebatan para praktisi pendidikan jika calistung tidak seharusnya diajarkan pada anak usia dini (pra sekolah dasar). Namun faktanya, ketika sekolah taman kanak-kanak tidak memprioritaskan kemampuan calistung sebagai hasil akhir sekolah, orangtua berbondong-bondong membawa anak mereka ke tempat kursus calistung.

Kegalauan Orangtua
Di usia Kenan yang hampir 5 tahun, Kenan tidak saya paksa untuk bisa membaca atau menulis. Aktivitas calistung tetap berfokus pada kesenangan, yaitu dilakukan dengan senang, tanpa anak merasa terpaksa. Namun, jujur saja sebagai ibu di rumah, saya merasa agak galau, karena melihat orangtua yang begitu bangga anaknya bisa membaca dan menulis di usia 3-4 tahun. Namun, kemudian saya tersadar ketika membaca berbagai penelitian para ahli pendidikan yang mengungkapkan fakta-fakta tentang dampak memaksakan anak usia dini belajar calistung.

Saya kutip dari Kompas, pernyataan seorang pakar pendidikan, sebagai berikut:
……
Kandidat PhD Jurusan Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Southwest University, China, Budy Sugandi, mengatakan, jenjang pembinaan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) menjadi saat yang tepat bagi siswa untuk membangun fondasi karakternya. Guru, seyogianya tidak membebani siswa PAUD dengan pelajaran menulis, membaca, dan menghitung.
”Secara psikologis, dengan mengajak siswa bermain dan bersenang-senang, mereka akan menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Selanjutnya, mereka tidak akan merasa terpaksa datang ke sekolah,” ujarnya di Chongqing, China, saat dihubungi melalui telepon seluler dari Jakarta, Rabu (20/11/2019).
…..

Pernyataan yang diungkapkan Budy Sugandi di atas, sejalan dengan pernyataan Pak Nadiem Makarim. Sebagai ibu yang punya anak usia PAUD, saya berharap proses belajar mengajar di taman kanan-kanak benar-benar bisa menyenangkan untuk anak. Demikian juga nantinya di sekolah dasar, konsep bermain dan belajar dengan menyenangkan menjadi fokus utamanya. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)

Tanpa Gawai, Bisakah?

Saya pernah baca sebuah quote yang berbunyi kira-kira seperti ini

“TIDAK APA-APA ANAK MEMBUAT RUMAH BERANTAKAN, DARIPADA OTAK ANAK YANG BERANTAKAN KARENA KESERINGAN PEGANG GAWAI”

Saya yakin semua sepakat, gawai bukan mainan untuk anak-anak, sedini mungkin penggunaan gawai pada anak-anak harus dibatasi. Kita harus mengembalikan kebiasaan anak pada kebiasaan normalnya anak-anak, bermain dan bermain, walau menjadikan rumah berantakan. Namun, saya tak ingin panjang lebar cerita tentang negatifnya gawai. Sebagai orangtua, saya paham banget, bukan sesuatu yang mudah menjauhkan anak kita dari gawai. Ketika kita melarang penggunaan gawai, orang-orang di sekitar pergaulan anak kita begitu lekat dengan gawai. Continue reading “Tanpa Gawai, Bisakah?”