Membacakan Buku Bagi Anak Usia Dini itu Penting dan Bermanfaat

“Bun, parit itu apa?” tanya Kenan menyela dongeng yang saya bacakan.
Begitulah Kenan, setiap saya membacakan buku cerita, buku dongeng, atau bacaan lainnya, dia akan menyela untuk bertanya arti kata yang tidak dipahaminya. Bahkan, setiap hari ada saja kata yang ditanyakan artinya pada saya. Selain arti kata yang tak dipahami, Kenan juga suka bertanya kata bahasa Inggris sebuah kata. Duh, saya sudah seperti kamus berjalan saja.
Mengamatinya selalu bertanya kata ini, kata itu, sebenarnya membuat saya sangat bangga sebagai ibu. Saya bangga karena sudah membuat Kenan memiliki kepekaan luar biasa terhadap bahasa.

Jauh sebelum hari ini, setiap kali saya membacakan buku atau mendongeng, saya selalu menjelaskan arti kata yang saya anggap sebagai kata baru yang dikenal oleh Kenan. Kini tanpa perlu saya jelaskan, Kenan sendiri yang akan bertanya arti kata yang tidak dipahaminya.

Seringnya dibacakan buku dan banyak kata baru yang dipahami Kenan, membuatnya menjadi anak super cerewet kalau di rumah. Semua hal yang tidak dipahaminya akan ditanyakan dan dalam tiga bulan terakhir ini, Kenan suka sekali bercerita. Memang ceritanya belum terlalu runtut, apa yang dialami, yang dibacakan, dan didongengkan, Kenan ceritakan sesuka hatinya. Saya dan semua orang di rumah harus siap menjadi pendengar yang baik.

Saya jadi ingat sebuah nama yang dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk atau multiple intelligence, Pak Howard Gardener. Ada delapan kecerdasan yang diperkenalkan oleh Pak Gardener, yaitu kecerdasan linguistik (bahasa), kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Kemudian, belakangan Pak Gardner menambahkan satu kecerdasan tambahan, yaitu kecerdasan spiritual.

Jika diamati dari ketertarikan Kenan terhadap bacaan (buku) dan dongeng serta tingginya rasa ingin tahu pada kata yang tak dipahami artinya, saya mengategorikan Kenan memiliki kecerdasan linguistik (bahasa)

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik, menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Anak suka bermain dengan kata-kata, dapat menikmati puisi dan suka mendengar cerita. Kenan suka mendengarkan cerita yang dibacakan atau didongengkan.

2. Anak gemar membaca apa saja; buku, majalah, surat kabar dan bahkan label produk. Walaupun belum bisa membaca, Kenan suka dibacakan buku. Kenan juga suka bertanya ini tulisan apa, dibacanya apa, dan sebagainya.

3. Anak mudah dan percaya diri mengekspresikan diri baik secara lisan maupun tulisan. Contohnya, anak pintar berkomunikasi dan menceritakan atau menulis mengenai sesuatu hal. Kenan suka bercerita menceritakan buku yang pernah dibacakan dan mendongeng berbagai cerita versinya sendiri.

4. Anak suka menambahkan percakapan dengan hal-hal menarik yang baru ia baca atau dengar. Kenan suka juga menambahkan hal menarik ketika sedang berbicara.

5. Anak suka jenis permainan terkait dengan kata seperti teka-teki silang. Kenan suka juga bermain kata-kata, misalnya menebak nama benda sesuai deskripsi yang disampaikan.

Dari beberapa ciri di atas, saya menjadi yakin jika Kenan memiliki kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik ini terbangun dari kebiasaan dibacakan buku atau didongengin setiap hari. Nah, makanya saya sarankan bagi orangtua yang punya anak batita dan balita, sering-seringlah membacakan buku untuk anak. Tak perlu terlalu lama, 15 menit sehari pun itu sudah sangat baik.

Ibu di Rumah: Mengajak Anak Lanang Menulis

Ibu di rumah selalu mempunyai segudang cerita untuk dituliskan, salah satunya tentang mengajak anak belajar menulis (menebalkan huruf). Mungkin cerita ini hanya cerita biasa bagi banyak orang, tetapi bagi saya sangat luar biasa.

Hampir setiap hari saya mengajak anak lanang membuka buku, kadang hanya aktivitas ringan seperti menarik garis, memasangkan gambar, atau mencari jejak. Untuk aktivitas menulis dan membaca, anak lanang lebih sering menolak. Nah, ketika anak lanang benar-benar mau berlatih menulis, saya tidak sia-siakan waktu itu. Walaupun menulis tanpa meja, karena maunya anak lanang begitu, lanjut saja. Continue reading “Ibu di Rumah: Mengajak Anak Lanang Menulis”

Ibu di Rumah: Bermain Tebak-tebakan Sambil Belajar Huruf

Ada banyak cara belajar mengenal huruf yang bisa dilakukan ibu di rumah. Cara belajarnya pun tidak harus menggunakan buku.
Hari ini (13 Juli 2019) Kenan tidak belajar dari buku, dan memang belajar tidak harus dari buku khan? Ibu di rumah harus bisa lebih kreatif ketika mengajak anak belajar. Bila perlu kata-kata belajar itu tidak digunakan, ajak anak bermain dan bermain.

Akhir-akhir ini memang sulit mengajak Kenan untuk bermain (belajar) bersama buku. Maunya Kenan terus bermain. Ibu di rumah harus mencari cara terbaik bisa bermain terus dan terus, namun tetap bisa menyisipkan belajar di dalamnya.
Seperti yang terjadi malam ini. Kenan duduk di samping saya sambil menonton salah satu program tv swasta. Meminta Kenan untuk bisa duduk tenang itu pun sulit. Maunya Kenan, kapan pun, pagi, siang, sore, malam terus saja bermain. Continue reading “Ibu di Rumah: Bermain Tebak-tebakan Sambil Belajar Huruf”

Dilema Ibu (Menulis) di Rumah

Ketika saya memutuskan diam (kerja menulis) di rumah dan tak ingin terikat kontrak menjadi karyawan di mana pun serta saya ingin lebih banyak waktu untuk anak lanang, saya tahu ada banyak sekali risiko dan tantangannya. Risiko pertama adalah saya tidak punya penghasilan tetap. Lalu tantangannya lebih pada bagaimana saya menguasai diri, mengatur waktu, antara menemani anak lanang dan pekerjaan editing tiba-tiba serta keinginan menulis.

Continue reading “Dilema Ibu (Menulis) di Rumah”

Anak Aktif Suka Membantu

Ayah, Kenan aja yang palu
Ayah, Kenan aja….
Ayah, Kenan aja….
Bunda, Kenan yang goreng telur
Bunda, Kenan aja….
Bunda, Kenan aja….

Begitu Kenanutama Sinduaji yang kini berusia 4,5 tahun. Semua pekerjaan di rumah maunya dia yang kerjakan.

Ketika seorang anak usia 4-5 tahun membantu kegiatan di rumah, sebenarnya sama saja dengan memperlama pekerjaan itu selesai. Kadang, saya tidak bisa menahan marah karena pekerjaan yang seharusnya selesai cepat malah jadi tidak selesai bahkan jadi berantakan. Saya rasa ini dialami oleh semua orang tua yang miliki anak balita. Continue reading “Anak Aktif Suka Membantu”