Cerita Rakyat Jawa Tengah: Terjadinya Kota Magelang (Bagian 3)

Larilah Rara Rambat menuju rumahnya. Peristiwa tersebut diceritakan kepada orang tuanya yaitu Kyai Keramat dan Nyai Bogem. Kedua orang tuanya gembira sekali mendengar kejadian yang diceritakan anaknya.

Melihat Rara Rambat lari meninggalkannya, Raden Kuning mengikuti dari belakang. Sampailah Raden Kuning di rumah orang tua Rara Rambat.

Waktu bertemu dengan orang tua Rara Rambat, mereka saling memperkenalkan diri. Tak lama kemudian, Raden Kuning meyatakan maksudnya untuk meminang Rara Rambar. Orang tua Rara Rambat senang sekali mendengar maksud Raden Kuning untuk meminang anaknya. Mereka sangat gembira akan mempunyai menantu seorang pangeran dari Kerajaan Mataram.

Continue reading “Cerita Rakyat Jawa Tengah: Terjadinya Kota Magelang (Bagian 3)”

Dongeng: Tongkol Jagung

“Lihat ini,” kata Semut nomor sebelas (semut kan banyak, kau tahu, dan masing-masing punya nomor). “Lihat apa yang kutemukan!”

“Cuma sebutir jagung,” tukas Semut nomor tiga belas.

“Apa gunanya?”

“Kau bisa memakannya kalau mau. Bagi dua, tambahkan gula atau garam, baru kau makan. Mau coba?”

“Ya, jelas!”

Kedua Semut mengambil pisau dan akan membagi jagung itu ketika terdengar suara berseru, “Tunggu sebentar! Apa yang akan kalian lakukan?”

Ternyata Landak, yang datang dengan tampang sangat serius.

“Kami akan makan jagung,” jawab Semut-semut.

Continue reading “Dongeng: Tongkol Jagung”

Tak Ada yang Mubazir

Cici meletakkan tas kresek berisi jeruk di meja depan ibunya yang sedang menikmati tek manis hangat.

“Bu, Cici beli jeruk murah pada tukang buah keliling,” kata Cici.

“Oh, ya? Jangan-jangan rasanya tidak manis,” kata Ibu.

Kata penjualnya sih, ditanggung manis,” kata Cici seraya mengupas sebuah jeruk.

“Bah! Tukang buah pembohong!” pekik Cici setelah mencoba sejuring jeruk yang ternyata berasa asam.

“Kamu tadi tidak mencobanya?”

Cici menggeleng, “Cici percaya saja. Tukang buah yang itu biasanya tidak bohong,” jawab Cici.
Continue reading “Tak Ada yang Mubazir”