Persiapan Masuk Sekolah: Ajak Anak Bermain Angka dan Mewarnai

Saat ini orang tua bebas mau memasukkan anaknya ke sekolah atau kelompok bermain pada usia berapa pun. Ada orang tua yang memasukkan anak ke “sekolah” pada usia 1 tahun, 2 tahun, atau 3 tahun dengan berbagai alasan.

Tetapi ada juga, orang tua yang memilih memasukkan anaknya ke sekolah taman kanak-kanak pada usia 4,5 tahun.

Sebelum masuk ke dunia sekolah, orang tua dapat memberikan beragam aktivitas untuk anak. Saat ini ada beragam pilihan worksheet yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar. Namun, orang tua perlu pastikan apakah worksheet itu sungguh diperlukan anak atau tidak?

Saya punya beberapa rekomendasi worksheet untuk anak pra sekolah, sebelum anak masuk ke dunia sekolah, baiknya berikan worksheet yang merangsang imajinasinya anak, seperti coloring worksheet atau lembar aktivitas mewarnai.

Lembar aktivitas mewarnai berbagai tema, dapat diunduh di sini 👇🏻👇🏻

Lembar mewarnai tema hewan

Lembar mewarnai tema buah dan sayur

Lembar mewarnai tema rumahku

Lembar mewarnai tema kendaraan

Paket Bundling Worksheet Mewarnai Seri 1234 (4 seri/tema)

Lembar Mewarnai Dino (free terbatas)

Setelah beraktivitas mewarnai, orang tua dapat mengajak anak bermain angka. Worksheet Bermain Angka 123 di bawah ini dapat diunduh untuk memudahkan orang tua beraktivitas bersama anak.

Worksheet Bermain Angka 123 untuk Anak | Bonus Kartu Angka

Worksheet ini dibuat untuk mengenalkan angka 1-10 kepada anak-anak.

– Worksheet Bermain Angka123 bisa digunakan di rumah atau di sekolah, sesuai dengan kebutuhan anak.
– Worksheet Bermain Angka 123 memuat materi pengenalan angka 1 – 10, berhitung 1-10, dan mengasah kecerdasan melalui lembar-lembar aktivitas yang dikerjakan.
– Worksheet Bermain Angka 123 bisa dikerjakan dari halaman mana saja sesuai keinginan anak.
– Worksheet Bermain Angka 123 terdiri atas 50 lembar/halaman aktivitas.
– Pada halaman akhir worksheet Bermain Angka 123, diberikan bonus kartu angka yang bisa digunakan untuk belajar angka di mana saja.

 

Bebaskan Mereka untuk Bermain

Suatu sore, si Kakak (7 tahun), usai mandi sore mempunyai ide membuat zebra cross.  Entah dari mana ide itu didapatkannya.
Zebra cross dibuatnya di lantai dengan menggunakan lakban cokelat. “Ya, ampun, Gusti Allah,” sambatku dalam hati. Lakban cokelat ditempelkan di lantai. Pasti nanti kalau dilepas akan meninggalkan bekas yang tidak keruan.

Ah, saya menarik napas panjang. Mencoba tenang tidak beramarah (walau sebenarnya pengen marah).
Hanya sekadar lakban menempel di lantai apalah artinya, masih bisa dibersihkan. Tetapi kreativitas yang dibuat si Kakak adalah aset berharga.
Setelah zebra cross terbuat, si Kakak memakai baju polisi yang sebenarnya sudah kekecilan. Saya biarkan, saya bebaskan si Kakak beraksi sesuai idenya. Ide si Kakak masih berlanjut dengan membuat lampu merah.
Diambilnya kertas origami warna merah, hijau, dan kuning, lalu dibuatnya lampu lalu lintas. Jadilah si Kakak bermain peran menjadi polisi yang membantu menyeberang di zebra cross.

Continue reading “Bebaskan Mereka untuk Bermain”

Manfaat Bermain Tanah atau Lumpur

Faktanya tidak semua orangtua bisa membiarkan anaknya, terutama anak usia dini (di bawah 6 tahun) bermain lumpur, tanah, atau pasir. Fakta lainnya banyak orangtua membebaskan anak  bermain lumpur, tanah, atau pasir. Anda termasuk dalam kelompok orangtua fakta yang mana?

Ada berbagai alasan mengapa orangtua tak mengizinkan anaknya bermain tanah atau lumpur. Ada orangtua yang beralasan melarang anaknya bermain tanah atau lumpur demi melindungi anak dari kuman penyakit. Ada juga yang beralasan karena takut kotor dan berantakan.
Orangtua bebas saja membuat pilihan apapun untuk kegiatan permainan anaknya. Namun, pilihan itu harusnya bijak dan mempunyai sejuta manfaat untuk anak.

Continue reading “Manfaat Bermain Tanah atau Lumpur”

Kotor vs Cuci Tangan

Bagaimana kita akan mengatakan pada anak “Nak tanganmu kotor, ayo cuci tangan?’ Jika anak tidak tahu kotor itu apa.

Dulu ketika saya masih kecil, bermain tanah adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan menggunakan media tanah, saya bisa menciptakan aneka macam permainan asyik dari tanah. Main masak-masakan, membuat kue mainan, membangun istana pasir, membuat gelas piring dari tanah, dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda juga ingat, apa permainan favorit Anda saat masih kecil yang berkaitan dengan tanah?

Kenan bermain pasir campur air

Kita pernah mengalami menjadi anak kecil, sekarang kita menghadapi anak kecil juga yang ternyata suka sekali bermain dengan tanah atau pasir. Walaupun ada anak yang dilarang orangtuanya bermain tanah, anak tetaplah suka bermain pasir.

Kenan termasuk anak yang tidak suka memegang benda yang kotor atau basah, tapi kalau bermain tanah atau pasir, Kenan mau-mau saja. Kenan tidak menunjukkan rasa jijik dan takut kotor.

Bermain pasir atau tanah adalah mainan favorit anak-anak. Apa ada anak yang tidak suka main pasir? Ada. Anak yang sudah terlanjur didoktrin orangtuanya bahwa tanah itu kotor tidak boleh disentuh, tanah banyak kuman bla bla bla, jadinya anak menjadi fobia pada tanah. Mungkin anak seperti itu yang tidak suka main tanah.

Kenan bermain truk tanah

Saat anak kita bermain tanah atau pasir, ada pembelajaran yang bisa dipetik lho. Apa saja itu?

  • Mengajarkan cuci tangan yang benar

Setelah bermain tanah atau pasir, otomatis orangtua akan meminta anak untuk cuci tangan dengan benar. Oleh karena itu, orangtua bisa sekaligus mengajarkan pada anak tentang mencuci tangan.

Kenan mencuci tangan
  • Memberikan informasi tentang kuman dan bahayanya

Anak cerdas akan bertanya, kenapa harus mencuci tangan. Jawaban orangtua dapat sekaligus memberikan informasi kepada anak tentang kuman dan bahaya. Tidak perlu penjelasan yang mendetail, yang penting anak tahu jika di tanah ada kuman yang bisa membuat tubuh sakit. Cara untuk menghilangkan kuman itu dengan mencuci tangan dengan benar.

  • Melatih motorik dan kreativitas

Bermain tanah membuat anak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Berdiri, duduk, berjongkok, menggenggam tanah, menyendok tanah, semua itu membuat motorik anak menjadi terlatih.

Ibu di Rumah: Main Lego dan Angka (Berhitung)

Hari ini target menulis saya adalah menyelesaikan corat-coret naskah buku aktivitas yang tersisa 10 halaman lagi. Apakah bisa sesuai target? TIDAK.

Ibu di rumah punya segudang rencana segudang keinginan, yang terealisasi tidak sesuai rencana, dan jauh dari keinginan. Tapi tidaklah jadi soal karena memang di sinilah ada banyak cerita tersimpan dari seorang ibu di rumah.

Saya tak bisa membiarkan anak lanang bermain dengan keasyikannya sendiri. Urusan naskah bisa dilanjut nanti saja. Saatnya mencari ide, bermain apa hari ini? Continue reading “Ibu di Rumah: Main Lego dan Angka (Berhitung)”