Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

– Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan –

Bagi saya yang mempunyai anak usia PAUD pernyataan Pak Menteri itu patut saya acungi dua jempol. Saya sepakat dan setuju dengan pernyataan beliau, karena saya merasakan sekali sebagai ibu di rumah yang mencoba mengenalkan calistung pada anak saya, Kenan. Tanpa rasa senang, rasa suka, dan rasa cinta, belajar apapun bersama anak usia dini itu terasa sebagai siksaan bagi anak.

Anak saya Kenan, Januari 2020 nanti akan berusia 5 tahun. Sejak usianya dua tahun, bahkan kurang dari dua tahun, saya sudah mengenalkan calistung. Ketika itu harapan saya tidak muluk-muluk, saya hanya ingin Kenan mengenal huruf dan angka. Huruf-huruf dan angka saya jadikan mainannya. Saya mencoba membuat kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian Kenan. Angka-angka sering saya tunjukkan dan saya sebut saat bermain, misalnya saya mengajak Kenan menghitung mobil mainannya, saya menempel angka 1 – 5 di dinding, mengelompokkan benda sesuai jumlahnya, dan lain-lain. Saya menyebutnya bermain sambil belajar.

Pernyataan Pak Menteri Nadiem Makarim bahwa kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung sesuai dengan yang saya lakukan selama ini. Tujuan awalnya adalah mengajak anak bermain dan melakukan hal yang menyenangkan, sedangkan paham calistung merupakan bonusnya. Sampai usia Kenan saat ini Kenan sudah tahu angka 1-20 dan sudah paham huruf A-Z. Kenan juga saat ini sedang belajar menulis dan membaca.

Kebanyakan anak usia 5 tahun di Indonesia, khususnya yang tinggal di perkotaan, sudah mengenal bahkan fasih dengan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Memang masih menjadi perdebatan para praktisi pendidikan jika calistung tidak seharusnya diajarkan pada anak usia dini (pra sekolah dasar). Namun faktanya, ketika sekolah taman kanak-kanak tidak memprioritaskan kemampuan calistung sebagai hasil akhir sekolah, orangtua berbondong-bondong membawa anak mereka ke tempat kursus calistung.

Kegalauan Orangtua
Di usia Kenan yang hampir 5 tahun, Kenan tidak saya paksa untuk bisa membaca atau menulis. Aktivitas calistung tetap berfokus pada kesenangan, yaitu dilakukan dengan senang, tanpa anak merasa terpaksa. Namun, jujur saja sebagai ibu di rumah, saya merasa agak galau, karena melihat orangtua yang begitu bangga anaknya bisa membaca dan menulis di usia 3-4 tahun. Namun, kemudian saya tersadar ketika membaca berbagai penelitian para ahli pendidikan yang mengungkapkan fakta-fakta tentang dampak memaksakan anak usia dini belajar calistung.

Saya kutip dari Kompas, pernyataan seorang pakar pendidikan, sebagai berikut:
……
Kandidat PhD Jurusan Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Southwest University, China, Budy Sugandi, mengatakan, jenjang pembinaan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) menjadi saat yang tepat bagi siswa untuk membangun fondasi karakternya. Guru, seyogianya tidak membebani siswa PAUD dengan pelajaran menulis, membaca, dan menghitung.
”Secara psikologis, dengan mengajak siswa bermain dan bersenang-senang, mereka akan menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Selanjutnya, mereka tidak akan merasa terpaksa datang ke sekolah,” ujarnya di Chongqing, China, saat dihubungi melalui telepon seluler dari Jakarta, Rabu (20/11/2019).
…..

Pernyataan yang diungkapkan Budy Sugandi di atas, sejalan dengan pernyataan Pak Nadiem Makarim. Sebagai ibu yang punya anak usia PAUD, saya berharap proses belajar mengajar di taman kanan-kanak benar-benar bisa menyenangkan untuk anak. Demikian juga nantinya di sekolah dasar, konsep bermain dan belajar dengan menyenangkan menjadi fokus utamanya. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)

Tanpa Gawai, Bisakah?

Saya pernah baca sebuah quote yang berbunyi kira-kira seperti ini

“TIDAK APA-APA ANAK MEMBUAT RUMAH BERANTAKAN, DARIPADA OTAK ANAK YANG BERANTAKAN KARENA KESERINGAN PEGANG GAWAI”

Saya yakin semua sepakat, gawai bukan mainan untuk anak-anak, sedini mungkin penggunaan gawai pada anak-anak harus dibatasi. Kita harus mengembalikan kebiasaan anak pada kebiasaan normalnya anak-anak, bermain dan bermain, walau menjadikan rumah berantakan. Namun, saya tak ingin panjang lebar cerita tentang negatifnya gawai. Sebagai orangtua, saya paham banget, bukan sesuatu yang mudah menjauhkan anak kita dari gawai. Ketika kita melarang penggunaan gawai, orang-orang di sekitar pergaulan anak kita begitu lekat dengan gawai. Continue reading “Tanpa Gawai, Bisakah?”

Membacakan Buku Bagi Anak Usia Dini itu Penting dan Bermanfaat

“Bun, parit itu apa?” tanya Kenan menyela dongeng yang saya bacakan.
Begitulah Kenan, setiap saya membacakan buku cerita, buku dongeng, atau bacaan lainnya, dia akan menyela untuk bertanya arti kata yang tidak dipahaminya. Bahkan, setiap hari ada saja kata yang ditanyakan artinya pada saya. Selain arti kata yang tak dipahami, Kenan juga suka bertanya kata bahasa Inggris sebuah kata. Duh, saya sudah seperti kamus berjalan saja.
Mengamatinya selalu bertanya kata ini, kata itu, sebenarnya membuat saya sangat bangga sebagai ibu. Saya bangga karena sudah membuat Kenan memiliki kepekaan luar biasa terhadap bahasa.

Jauh sebelum hari ini, setiap kali saya membacakan buku atau mendongeng, saya selalu menjelaskan arti kata yang saya anggap sebagai kata baru yang dikenal oleh Kenan. Kini tanpa perlu saya jelaskan, Kenan sendiri yang akan bertanya arti kata yang tidak dipahaminya.

Seringnya dibacakan buku dan banyak kata baru yang dipahami Kenan, membuatnya menjadi anak super cerewet kalau di rumah. Semua hal yang tidak dipahaminya akan ditanyakan dan dalam tiga bulan terakhir ini, Kenan suka sekali bercerita. Memang ceritanya belum terlalu runtut, apa yang dialami, yang dibacakan, dan didongengkan, Kenan ceritakan sesuka hatinya. Saya dan semua orang di rumah harus siap menjadi pendengar yang baik.

Saya jadi ingat sebuah nama yang dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk atau multiple intelligence, Pak Howard Gardener. Ada delapan kecerdasan yang diperkenalkan oleh Pak Gardener, yaitu kecerdasan linguistik (bahasa), kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Kemudian, belakangan Pak Gardner menambahkan satu kecerdasan tambahan, yaitu kecerdasan spiritual.

Jika diamati dari ketertarikan Kenan terhadap bacaan (buku) dan dongeng serta tingginya rasa ingin tahu pada kata yang tak dipahami artinya, saya mengategorikan Kenan memiliki kecerdasan linguistik (bahasa)

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik, menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Anak suka bermain dengan kata-kata, dapat menikmati puisi dan suka mendengar cerita. Kenan suka mendengarkan cerita yang dibacakan atau didongengkan.

2. Anak gemar membaca apa saja; buku, majalah, surat kabar dan bahkan label produk. Walaupun belum bisa membaca, Kenan suka dibacakan buku. Kenan juga suka bertanya ini tulisan apa, dibacanya apa, dan sebagainya.

3. Anak mudah dan percaya diri mengekspresikan diri baik secara lisan maupun tulisan. Contohnya, anak pintar berkomunikasi dan menceritakan atau menulis mengenai sesuatu hal. Kenan suka bercerita menceritakan buku yang pernah dibacakan dan mendongeng berbagai cerita versinya sendiri.

4. Anak suka menambahkan percakapan dengan hal-hal menarik yang baru ia baca atau dengar. Kenan suka juga menambahkan hal menarik ketika sedang berbicara.

5. Anak suka jenis permainan terkait dengan kata seperti teka-teki silang. Kenan suka juga bermain kata-kata, misalnya menebak nama benda sesuai deskripsi yang disampaikan.

Dari beberapa ciri di atas, saya menjadi yakin jika Kenan memiliki kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik ini terbangun dari kebiasaan dibacakan buku atau didongengin setiap hari. Nah, makanya saya sarankan bagi orangtua yang punya anak batita dan balita, sering-seringlah membacakan buku untuk anak. Tak perlu terlalu lama, 15 menit sehari pun itu sudah sangat baik.

Nopember vs November

Selamat datang November. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, bulan depan sudah akan sampai di penghujung tahun 2019. Setiap kali November tiba saya suka gemes dengan masih ada teman, sahabat, dan rekan kerja yang belum paham jika penulisan bulan ke-11 dalam kalender adalah NOVEMBER, bukan NOPEMBER.

Jika bicara soal benar atau salah, menggunakan kata Nopember itu tidaklah salah, hanya saja tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku bahasa Indonesia. Kata Nopember ini termasuk kata tidak baku.

Di mana kita bisa cek sebuah kata itu baku atau tidak baku?
Untuk mengetahui sebuah kata itu baku atau tidak baku, Anda bisa melihatnya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI? Untuk mencari satu kata saja Anda harus membuka kamus tebal KBBI. Jangan khawatir, teknologi telah membuat kita menjadi lebih mudah. Di Play Store, Anda bisa menggunduh aplikasi KBBI Luring (KBBI di luar jaringan). Dengan sekali ketik kata, Anda bisa menemukan kata yang dicari.

Selain memasang aplikasi KBBI Luring di gawai, Anda juga bisa menggunakan KBBI Daring (KBBI dalam jaringan) dengan mengakses
https://kbbi.kemdikbud.go.id.

Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah salah satu wujud kecintaan kita kepada bahasa negara. Jangan sampai, orang dari bangsa lain jadi lebih pintar menggunakan bahasa Indonesia ketimbang kita sendiri.

Cintai bahasa Indonesia, bahasa negara dan bahasa kita bersama.

Pemenang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung 2019

Sebuah kabar cukup mengejutkan datang di hari pertama bulan Oktober 2019. Judul buku saya, Tedi Kelinci Jujur menjadi salah satu pemenang dalam ajang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 untuk kategori membaca dini.

Sumber: Instagram kantorbahasababel

Continue reading “Pemenang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung 2019”