Menulis sebagai Healing

Menulis adalah melepaskan kelelahan, melepaskan rasa sakit, menulis menyembuhkan jiwa  dan raga, menulis sebagai healing.  Tetapi menulis juga bisa menjadi cara untuk bercerita, hingga memberikan petuah dan nasihat untuk sang pembaca. 

Ada penulis yang menjadikan fiksi tulisannya sebagai dunia pelepasan mimpi dan hasratnya. Ada juga penulis yang menjadikan fiksi tulisannya sebagai terapi penyembuhan. 

Menulis sebagai Healing untuk Saya dan Pembaca

Di saat orang lain, healing ke pantai atau ke pegunungan atau pergi wisata, saya healing bersama tulisan. Saya menjadikan tulisan sebagai healing (pengganti healing holiday). Tulisan membantu saya untuk melepaskan kata-kata yang tidak terucapkan. Kata-kata yang tak sanggup diucapkan atau terlalu membosankan didengarkan orang lain akhirnya berakhir dalam tulisan saya.

Kata-kata yang tidak terucap ini bisa berisi pujian, curahan hati, hingga amarah dan caci maki. Akan membahayakan jika kata-kata amarah dan caci maki terlontar melalui mulut. Oleh karenanya, saya jadikan tulisan untuk untuk mengubah pikiran negatif menjadi pikiran positif. 

Tulisan saya menjadi healing untuk saya, nasihat untuk saya, dan harapannya bisa memberi nasihat juga buat orang lain yang membacanya.

Masalah yang datang menjumpai tidak akan selesai hanya dengan menangisinya. Tulisan singkat dan quote saya jadikan tempat menulis yang efektif dan berdampak positif. Masalah yang saya hadapi tidak diumbar begitu saja di media sosial. Masalah yang dihadapi dijadikan tulisan singkat dan quote nasihat untuk meredam emosi, menahan amarah. Keinginan memaki atau memarahi saya ubah menjadi sebuah nasihat positif. 

Nasihat positif ini menjadi nasihat untuk diri saya sendiri dan (harapannya) orang lain yang membacanya.

Di bawah ini beberapa quote yang saya tulis sebagai nasihat diri (self reminder). Semoga juga bisa menjadi nasihat diri bagi pembaca.

PDF Buku Aktivitas Anak

PDF buku aktivitas anak adalah buku aktivitas dalam bentuk PDF atau soft copy yang dibuat khusus untuk anak-anak. Dalam buku aktivitas anak terdapat berbagai aktivitas seru yang interaktif untuk anak mengasah berbagai kemampuan, baik kognitif maupun motorik. Aktivitas seru itu berupa aktivitas mewarnai, tracing, menarik garis mencari perbedaan, memasangkan gambar yang sama, melengkapi bagian gambar yang hilang, dan masih banyak lagi.

Manfaat Buku Aktivitas Anak

Buku aktivitas anak memiliki banyak manfaat untuk anak. Manfaat itu, di antaranya: 

– Dapat melatih kemampuan berbahasa
– Dapat melatih kemampuan matematis
– Dapat melatih kemampuan motorik halus
– Dapat merangsang kreativitas
– Dapat memperkuat koneksi saraf dalam otak anak
– Dapat mempersiapkan anak untuk belajar lebih baik dan lebih siap di sekolah

Unduh Buku Aktivitas Anak

Klik link untuk mengunduh/download

PDF BUKU AKTIVITAS PAUD
Worksheet Mengenal Angka 1-10 Seri 1 Persiapan Masuk Sekolah TK/PAUD
Mewarnai Tema Sayuran untuk PAUD (Printable)

Lembar aktivitas Mewarnai Tema Sayuran ini dapat diunduh secara gratis, silakan dicetak sesuai kebutuhan. Semoga bermanfaat untuk anak.

Untuk melihat buku aktivitas tema lainnya KLIK Link di bawah ini.

Printable – Bermain Bersama Buah Mengasah Kecerdasan (Rp 5.000)

Seri 1 Worksheet Bermain Bersama Angka untuk PAUD (Rp5.000)

Seri 2 Worksheet Bermain Bersama Angka untuk PAUD (Rp 5.000)

Worksheet Mengenal Warna untuk PAUD (Rp 5.000)

Yuk, Bermain Bersama Huruf (Rp 5.000)

 

WORKSHEET MEWARNAI BERBAGAI TEMA

UNDUH Tema hewan UNDUH Tema buah sayur UNDUH Tema rumahku UNDUH Tema kendaraan Paket Bundling Worksheet Mewarnai Seri 1234 (4 seri/tema)

Peluang Menulis Tahun 2025

Peluang Menulis Tahun 2025

Hari ini, 31 Januari 2025, saya mengikuti dua webinar. Kedua webinar ini membahas tentang peluang penulisan buku di tahun 2025.

Webinar pertama diadakan oleh Penerbit Brin (@penerbit.brin). Webinar ini Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN. Webinar ini dilakukan dua hari, Kamis, 30 Januari 2025 dan Jumat, 31 Januari 2025, pada jam 9 pagi.

Ada peluang menulis yang menarik dari Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN ini. Saya yakin, teman-teman penulis sudah banyak yang tahu informasi tentang Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN karena program ini sudah ada sejak tahun 2022.

Informasi lebih lanjut tentang Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN dapat dilihat di website BRIN atau akun IG Penerbit BRIN @penerbit.brin.

Webinar selanjutnya, yang saya ikuti adalah webinar yang diadakan oleh Pak Bambang Trim bersama komunitasnya Kolofon. Tema webinar: Mau nulis buku apa tahun 2025? Webinar ini gratis dan menghadirkan Pak Bambang Trim & Andreas Haryono, pakar di dunia penulisan dan penerbitan.

 

 

 

Persiapan Masuk TK: Perlukah Bisa Calistung?

Saya terkejut melihat fakta bahwa orang tua memasukkan anaknya ke bimbingan belajar calistung di usia 3 tahun. Bukannya persiapan calistung itu untuk anak masuk sekolah dasar? Kenapa banyak orang tua “memaksa” anak bisa calistung sebelum masuk TK?

Peraturan pemerintah mengharuskan calistung tidak diajarkan di TK atau PAUD. Calistung boleh dikenalkan pada anak TK atau PAUD, tetapi dengan cara menyenangkan.

Tapi, faktanya orang tua dan guru tetap saja mengajarkan anaknya calistung sebagai persiapan anak masuk SD. Bahkan, jika di sekolah anak belum bisa calistung, orang tua memberikan les calistung untuk anaknya.

Pada akhirnya tergantung orang tua, apakah akan mengajarkan calistung sejak usia dini atau tidak? Yang perlu menjadi catatan orang tua adalah kenalkan dan ajarkan calistung secara menyenangkan.

Sebelum masuk sekolah TK, ajak anak bermain dengan lembar aktivitas di bawah ini. (klik link untuk mengunduh/download)

PDF LEMBAR AKTIVITAS PAUD
Worksheet Mengenal Angka 1-10 Seri 1 Persiapan Masuk Sekolah TK/PAUD

WORKSHEET MEWARNAI BERBAGAI TEMA

UNDUH Tema hewan

UNDUH Tema buah sayur

UNDUH Tema rumahku

UNDUH Tema kendaraan

Paket Bundling Worksheet Mewarnai Seri 1234 (4 seri/tema)

Ibu Penulis, Ibu Hebat

Menjadi seorang ibu penulis itu sungguh luar biasa. Apalagi masih dihadapkan pada berbagai kemalangan hidup, misalnya harus menjadi single mom atau harus menghadapi penyakit. Tapi meskipun dihadapkan pada berbagai kemalangan, ibu penulis tetaplah seorang ibu. Dia tetap memprioritaskan anak dan keluarganya, setelah itu melakoni dunianya sebagai penulis.

Kebutuhan untuk menulis setelah menjadi rasa nyeri yang amat nyata seperti kebutuhan untuk disentuh oleh orang yang kita cintai.

Buku Chicken Soup for the Soul Ibu Hebat 101 Kisah tentang Para Ibu yang Bekerja dari Rumah adalah sebuah buku yang merangkum kisah para ibu hebat yang bekerja dari rumah dengan berbagai profesi dan latar belakang keadaan yang menuliskan kisahnya yang luar biasa. Salah satu profesi itu adalah ibu penulis.

Dari kebanyakan kisah ibu penulis, mereka memutuskan untuk bekerja dari rumah dan keluar dari zona nyaman pekerjaannya. Keputusan yang mereka ambil tentunya tidak tanpa risiko. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh para ibu ini.

Karena saya seorang ibu penulis juga, saya ingin membagikan kutipan beberapa kisah ibu penulis dari buku Chicken Soup for the Soul Ibu Hebat 101 Kisah tentang Para Ibu yang Bekerja dari Rumah ini. Semoga kutipan-kutipan ini membawa semangat untuk mereka yang memutuskan menjadi ibu di rumah dan ibu penulis.

(1)
Aku mencoba menulis setiap hari. Dimulai dari satu kata, satu saat tenang ketika anak-anakku yang kecil tidur siang atau istirahat, sementara anak-anak lainnya menjaga mereka atau ketika mereka semua sedang sibuk. Jika aku mencoba menulis saat seorang balita duduk di pangkuanku, dialah yang menulis bukan aku. (Hlm. 178)

(2)
Aku menatap komputer, seharusnya memikirkan plot dan penokohan novel baruku. Kudapati bahwa aku malah mempertimbangkan apakah besok akan menjadi hari Kyle mengucapkan kata pertamanya dengan lantang, atau waktunya Sammy bisa duduk sendiri. Aku mencoba menggiring kembali pikiranku ke hal yang sedang kutangani sekarang. Namun aku mendapati diriku kembali memikirkan anak-anakku, karakter yang telah menguasai kisah hidupku sendiri dan memberinya kejutan-kejutan yang jauh lebih asing dan lebih manis dari kisah fiksi manapun. (Hlm. 216)

(3)
Menurut anak-anakku, ibu-ibu penulis seringkali kaku, selalu merebutkan catatan membaca, dan tata bahasa, dan bagaimana bercerita dengan memakai bagian pembukaan, bagian isi, dan bagian akhir. Ibu yang penulis seringkali memberi saran yang buruk, misalnya klub buku ibu /anak. Atau pelatihan menulis. (Hlm. 221)

(4)
Sepertinya buku-buku itu bisa tahu bahwa aku utamanya adalah seorang ibu dan tidak menjalani hidup seperti yang kubayangkan ketika aku menyelesaikan gelar doktorku. Kuletakkan kembali buku itu di atas rak, jemariku tetap berada di atas huruf-huruf timbul pada punggung buku itu. Aku pulang ke rumah untuk mengantarkan anakku tidur siang, mencoba menulis di antara jeda waktu tidurnya.

Kebutuhan untuk menulis setelah menjadi rasa nyeri yang amat nyata seperti kebutuhan untuk disentuh oleh orang yang kita cintai. Setelah Sarah lahir dan aku meninggalkan pekerjaanku yang sebenarnya sebagai seorang profesor, tadinya kupikir aku akan kehilangan arah, tidak tahu siapa diriku atau apa yang akan kulakukan. Bagaimana jika aku bukan Dr. Hudock? Daripada aku terus berpikir seperti itu, aku mengisi lembar demi lembar jurnalku, terkadang aku menulis diterangi cahaya redup lampu tidur kami, dengan putriku yang tidur di sampingku. Ketika bayi perempuanku tertidur di mobil sama aku berkendara ke Berkeley Marina atau Point Isabel dan memarkir kendaraanku di dekat perairan sehingga aku dapat memandang ke teluk sambil menulis habis-habisan hingga saatnya bayiku bangun. Aku menulis dengan semua hasrat akan kata-kata yang telah kurasakan sejak aku masih kanak-kanak dengan ketidaktahuan yang sama seperti yang orang yang baru mengenal bahasa titik aku yang kekanak-kanakan mulai berubah, dan tumbuh dewasa. (Hlm. 227-228)

(5)
Aku bekerja karena hal itu membantuku menjadi manusia seutuhnya sebisaku, dan sejujurnya, karena bekerja membuatku menjadi Ibu yang lebih baik. Karena aku menjadi ibu yang lebih baik bila aku memiliki waktu untuk diriku sendiri. Aku menjadi ibu yang lebih baik bila aku terangsang secara emosional, mental, dan spiritual. Aku menjadi ibu yang lebih baik bila aku memiliki waktu istirahat untuk mengingat siapakah diriku sebelum makhluk-makhluk kecil ini mengambil alih hidupku.

Aku selalu selesai di waktu makan siang, dan selain perjalanan aneh ke perpustakaan ini aku selalu ada di rumah ketika anak-anak turun dari bus dan menjadi “Mom” selama sisa hari yang ada. Inilah keseimbangan sempurna dan aku suka sekali bahwa aku diartikan lebih dari sekadar ibu. Menjadi ibu adalah sebuah anugerah dan kebahagiaan, tetapi diriku bukan hanya itu saja. Aku adalah istri, teman, penulis, penulis blog, seniman, koki, tukang kebun, dokter anak amatir dengan spesialisasi keluhan kulit, dan seorang penasihat. (Hlm. 256-257)

(6)
Aku tidak melepaskan satupun impianku. Dua minggu setelah putraku David lahir, bukuku terbit. Aku merasa seperti melahirkan dua anak pada tahun itu titik-titik sukacita dan kepuasan yang kurasa tak dapat terlukiskan oleh kata-kata.
Aku memilih memberi ASI pada semua anakku, yang berarti aku sering bangun malam hari dan tidak banyak tenaga untuk berpikir atau bekerja. Namun, aku harus kembali bekerja klienku menunggu dan bukuku perlu perhatian. (Hlm. 274)