Classic Stories: Jack and the Beanstalk

Once upon a time, there was a boy named Jack. he lived with his mother. they had a cow, but it could not give milk anymore.

Jack’s mother said, “we have no food. go into town and sell our cow.”

So jack led their cow to town. On the way, he met an old man. The man asked, “will you sell me your cow?”

Jack said, “Yes! How much will you give me?”

The old man showed Jack five beans. “I will give you these magic beans. They will make you rich.”

Jack traded the cow for the beans. Then, he went back home.

Jack told his mother about the beans. But she was very angry. She said, “What have you done? Now, we have no cow and no money!”

Jack’s mother threw the beans out the window. “There are no such things as magic beans. These beans are useless!”

The next morning, Jack looked out his window. He could not believe his eyes! The beans had grown into a tall beanstalk!

Jack loved to climb, so he climbed the beanstalk. He climbed and climbed and climbed. Jack climbed until he came to a castle in the sky.

Jack knocked on the castle door. A tall woman let him in. Jack said, “I have come long way. I am hungry. Do you have anything to eat?” Continue reading “Classic Stories: Jack and the Beanstalk”

Tentang Jacqueline Wilson dan Buku-bukunya

Pertama kali mengenal Jacqueline Wilson saat membaca sebuah resensi buku di majalah anak-anak. Kemudian, saat di toko buku aku melirik buku berwarna cerah, pink, berjudul COOKIE, ternyata ini novel Jacqueline Wilson. Membaca sekilas dan aku tertarik membeli dan membawanya pulang :). Jadilah aku membeli buku-bukunya yang lain. Ini dia buku-buku yang sudah aku miliki. Masih berharap bisa membeli buku-bukunya yang lain.

Gambar

Cookie dan Hetty Feather adalah buku terbaru Jacqueline Wilson yang diterbitkan oleh Gramedia tahun 2012 ini.

Sekilas setelah mencermati beberapa bukunya, buku-buku ibu Jacqueline ini dikategorikan fiksi anak (usia SD/SMP) tetapi baik juga dibaca oleh orangtua/dewasa.

Hasil search di mesin pencari si pintar google, ini yang namanya ibu Jacqueline Wilson.

Gambar

sumber gbr:http://www.randomhouse.com.au

Ingin tahu lebih banyak tentang ibu Jacqueline Wilson, klik aja www.jacquelinewilson.co.uk

Resensi Buku di Koran Jakarta: Inspirasi Membangun Bisnis dari Rumah

versi cetak klik di sini

PERADA, Koran Jakarta

Inspirasi Membangun Bisnis dari RumahGambar

Bisnis perhiasan yang digeluti Cookie Lee menjadikan dia sebagai ibu yang paling bahagia karena setiap hari bisa mengantar jemput anak ke sekolah.

Mendengar nama Jack Canfield akan mengingatkan pembaca pada sebuah buku seri Chicken Soup. Sudah banyak seri Chicken Soup yang terbit dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia yang tak pernah absen untuk menerbitkannya.

Pada Chicken Soup kali ini, Jack Canfield fokus pada kisah entrepreneur atau wirausaha. Chicken Soup for the Entrepreneur’s Soul dihadirkan untuk membangunkan potensi bisnis yang tersimpan di dalam diri para pembaca. Jack Canfield dan kawan-kawan meramu banyak sekali kisah dalam Chicken Soup ini guna memberi spirit yang kuat untuk para pembaca.

Dalam Chicken Soup ini, terdapat 56 kisah entrepreneur yang telah sukses membangun bisnis. Dalam kisah-kisah inspiratif mereka, pembaca bisa menemukan berbagai alasan seseorang akhirnya memilih untuk berbisnis daripada orang bergajian. Tak jarang mereka harus memilih antara memulai bisnis atau tetap dengan menikmati kemapanan pekerjaan yang telah diperolehnya.

Tidak hanya kisah sukses yang dapat pembaca dapatkan dalam Chicken Soup ini. Ada juga tip atau saran sukses meraih bisnis. Misalnya, yang disampaikan Doris Christopher dalam kisahnya Resep untuk Sukses. Doris adalah pendiri dan Direktur The Pampered Chef, Ltd., penjual langsung alat-alat dapur yang pertama di dunia.

Bisnis yang digeluti Doris berawal dari rumah yang berkembang menjadi perusahaan jutaan dollar yang mengadakan lebih dari satu juta home show per tahun di seluruh dunia (hlm 55).

Doris menyebutkan ada lima saran untuk pembaca yang ingin memulai bisnis. Mereka adalah ikuti kegemaranmu, jadilah yang terbaik sebisamu, jaga biaya operasionalmu, ikuti instingmu, dan yang kelima ungkapan “itu hanya bisnis”. Doris adalah seorang ibu rumah tangga. Pembaca yang kebetulan ibu rumah tangga cocok membaca kisah Doris Christopher ini agar memperoleh pencerahan.

Kisah lain ditorehkan Cookie Lee, pendiri Cookie Lee, Inc, perusahaan penjual perhiasan langsung yang terbesar di Amerika. Produknya adalah perhiasan berkualitas tinggi.

Saat awal mendirikan perusahaan, Cookie Lee mendapat tantangan dari keluarga dan juga suaminya. Wanita ini dianggap gila karena mau meninggalkan karier cemerlangnya di perusahaan sekelas Mattel hanya untuk menjadi penjual perhiasan.
Alasan Cookie Lee sangat sederhana. Dia ingin membesarkan anaknya secara baik dan berkarier tanpa mengorbankan keluarga. Alasan Cookie Lee ini menjadi masuk akal ketika membaca kisah masa kecilnya yang tidak mendapat perhatian kedua orang tuanya.

Dari kisah Cookie Lee, pembaca dapat memetik pelajaran bahwa membuka lahan bisnis tidak semata-mata didasarkan pada keinginan mendapat uang sebanyak-banyaknya, terutama bagi wanita. Alasan bisa tetap di rumah kapan saja dan mengurus keluarga menjadi fokus memilih bisnis tertentu. Bisnis perhiasan yang digeluti Cookie Lee menjadikan dia sebagai ibu yang paling bahagia karena setiap hari bisa mengantar jemput anak ke sekolah.

Masih banyak kisah lain yang bisa mengobarkan semangat bisnis pembaca sekalian. Doris, Cookie, dan lainnya berhasil menjadi ibu rumah tangga yang sukses membangun perusahaannya walaupun hanya berawal dari rumah. Pembaca juga bisa seperti mereka mengejar impian dengan berbisnis sendiri. Jangan hanya bermimpi, ayo mulai.

Diresensi Paskalina Oktavianawati, tinggal di Jakarta

Judul : Chicken Soup for the Entrepreneur’s Soul
Kisah-kisah Inspiratif tentang Mengejar Impian dengan Berbisnis Sendiri
Penulis : Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dkk
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : xviii 332 halaman
ISBN : 978-979-22-8122-4

Book Review: Prinsip Hidup Orang Miskin

Prinsip Hidup Orang Miskin

 

Judul               :      Saga no Gabai Baachan, Nenak Hebat dari Saga

Penulis            :      Yoshichi Shimada

Penerbit           :      Kansha Books (a division of Mahda Books)

Terbit              :      Cet II, Mei, 2011

Tebal               :      264 halaman

ISBN              :      978-602-97196-2-8

Harga              :      Rp 48.000,00

 

 

Hidup itu selalu menarik, daripada hanya pasrah selalu coba cari jalan!

(Tips hidup menyenangkan ala Nenek Osano.)

Kita tentu masih ingat buku berjudul Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi. Buku yang berkisah di negara Jepang ini sangat menginspirasi pembacanya. Dalam buku ini, kisah masa kecil penulisnya diramu dengan bahasa yang sederhana dan penuh peristiwa-peristiwa haru, walau kadang ada peristiwa yang bisa membuat pembaca geleng-geleng kepala karena perilaku yang dilakukan oleh sang tokoh utama.

Masih dari negara yang sama, Jepang, hadir sebuah buku yang juga dapat menginspirasi pembacanya. Buku itu ditulis oleh Yoshichi Shimada judulnya Saga no Gabai Baachan, Nenek Hebat dari Saga. Dapat dibilang kesuksesan Yoshichi Shimada dengan buku ini mengikuti keterkenalan Tetsuko Kuroyanagi. Mengapa demikian? Untuk pertama kalinya, Yoshichi Shimada memperkenalkan bukunya dengan tampil sebagai bintang tamu di acara televisi Asahi TV yang telah memiliki jam tayang sangat panjang “Tetsuko no Heya” (Kamar Tetsuko). Acara ini dipandu oleh Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Setelah tampil di acara ini, pesanan buku Saga no Gabai Baachan di toko-toko buku langsng membeludak.

Yoshichi Shimada yang sebenarnya bernama Akihiro Tokunaga, dalam buku tersebut mengisahkan tentang masa kecilnya tinggal bersama neneknya di kota kecil Saga. Bukan kemauan Akihiro melewati masa kecil tanpa kasih sayang dari ibunya di Saga. Semuanya berawal ketika bom atom yang jatuh di Hiroshima. Ayah Akihiro yang sejak menikah dengan ibunya tinggal di Saga, pergi ke Hiroshima pasca jatuhnya bom atom. Namun hal itu membawa malapetaka, karena ayah Akihiro kemudian jatuh sakit karena radiasi atom hingga akhirnya meninggal. Ibu Akihiro tak sanggup membesarkan Akihiro di Hiroshima, sehingga akhirnya mengirim Akihiro ke Saga untuk tinggal bersama neneknya, Nenek Osano.

Tinggal bersama Nenek Osano bukan berarti keluar dari kesulitan hidup, justru kesulitan dan kemiskinan semakin menghimpit masa kecil Akihiro. Ketika sampai di rumah Nenek Osano, Akihiro dihadapkan pada situasi rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Tidak hanya itu, Akihiro juga diharuskan memasak sendiri nasi untuk makan, karena Nenek Osano harus berangkat bekerja pada pagi hari.

Gubuk itu sempit dengan ukuran kurang lebih dua jou tikar tatami. Di dalamnya terdapat jendela yang teramat besar, yang tampak mendominasi.

Lalu kepada diriku yang masih berdiri termangu tanpa tahu harus bagaimana, Nenek berkata, “Karena mulai besok Akihiro yang harus menanak nasi, perhatikan baik-baik.”

Setelah berkata begitu,  Nenek mulai menyalakan api dalam tungku oven. (hlm. 34)

Hari pertama bertemu dengan neneknya sudah membuatnya terpana. Hari-hari selanjutnya banyak peristiwa yang membuat Akihiro semakin terkesima sekaligus kagum pada cara neneknya menjalani hidup sebagai orang miskin di Saga. Setiap berangkat dan pulang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah universitas di Saga, Nenek Osano selalu mengikatkan tali di pinggangnya dan pada ujung tali diikatkan magnet. Pada magnet itu tertempel paku dan sampah logam yang diperoleh dari jalan-jalan yang dilewatinya. Paku dan sampah-sampah logam yang terkumpul dapat dijual. Ini adalah salah satu kecerdikan Nenek Osano dalam menghadapi kemiskinan.

Nenek Osano memperkenalkan Akihiro pada “Supermarket”. Supermarket yang dimaksud Nenek Osano adalah sungai di dekat rumahnya yang mengalir membawa sisa-sisa bahan makanan dari pasar. Nenek Osano memasang galah di aliran sungai sehingga makanan berupa sayuran dan buah yang terbawa arus sungai akan tersangkut di galah. Dan neneknnya tinggal mengambilnya dengan mudah.

Nenek meraih sayur yang bentuknya aneh dan berkata, “Lobak yang berujung dua sekalipun, kalau dipotong-potong dan direbus, sama saja dengan yang lain. Timun yang bengkok sekalipun, bila diiris-iris dan dibumbui garam, tetap saja timun.” (hlm. 43-44)

Kemiskinan yang dialami Akihiro dan neneknya membuat Akihiro mengubur semua keinginannya. Saat Akihiro sudah masuk sekolah, dia ingin ikut latihan kendo atau judo. Namun ketika dia membicarakannya pada neneknya, nenek menolak karena latihan kendo dan judo membutuhkan biaya untuk membeli seragam. Nenek Osano menyarankan Akihiro latihan lari saja, karena latihan lari tidak membutuhkan biaya.  Akihiro tentu kecewa dengan jawaban neneknya tetapi dia melakukan apa yang dikatakan neneknya. Dan, ternyata ketika dia bersekolah di SMP, Akihiro terpilih menjadi kapten baseball di sekolah karena latihan lari usulan dari neneknya. Bahkan tanpa diduga oleh Akihiro, neneknya membelikan sepatu atletik seharga 10.000 yen karena dirinya terpilih menjadi kapten.

Kehidupan yang dijalani oleh Akihiro dan neneknya di Saga memang tidak mudah, tetapi begitu banyak hal yang membuat Akihiro merasa bangga memiliki nenek seperti neneknya itu. Sehingga Akihiro menuangkan seluruh kisah kehidupan bersama neneknya ke dalam buku ini. Tepat sekali ketika Akihiro Tokunaga atau Yoshichi Shimada memberi judul buku ini Nenek Hebat dari Saga.

Siapapun yang membaca buku ini pasti akan terinspirasi. Buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan usia. Nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh Nenek Osano patut kita jadikan teladan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang datang dalam kehidupan kita sehari-hari. Nenek Osano berkata: ada dua jalan buat orang miskin, miskin muram dan miskin ceria. Kita mau memilih yang mana?

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, Editor dan Penulis yang tinggal di Jakarta.