Sekilas Novel: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau MerahGambar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Ketiga, April 2012
ISBN: 978-979-22-7913-9
Harga: Rp 72.000,00

Menurut saya novel ini unik dari segi setting-nya, karena mengangkat cerita tentang pengemudi sepit di Sungai Kapuas.

Tokoh utamanya Borno, pemuda lulusan SMA yang menjadi pengemudi sepit. Tokoh lainnya: Mei, Pak Tua, Andi, Bang Togar, Cik Tulani, Koh Acong, dan masih banyak lainnya.

Resensi Buku: Cookie karya Jaqcueline Wilson

Kue Cookie Pembawa Keberuntungan

Peresensi: Paskalina Oktavianawati

Judul buku : Cookie ~ Penulis : Jacqueline Wilson ~ Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta ~ Cetakan : Jakarta, Januari 2012 ~  Tebal buku : 376 halaman ~ ISBN : 978-979-22-7934-4 ~ Harga : Rp 48.000,-

GambarPuluhan buku anak-anak telah ditorehkan tangannya dan tidak sedikit yang telah mendapatkan penghargaan. Bukunya menarik karena dikemas bersama dengan ilustrasi-ilustarasi pendukung. Sebagai penulis buku anak, dia bukan  hanya dikenal di Inggris, tetapi di seluruh dunia. Bahkan menurut polling, dia terpilih anak Inggris sebagai penulis favorit anak-anak itu. Di Inggris saja bukunya terjual lebih dari 25 juta. Wow!

Dialah Jacqueline Wilson. Jacqueline Wilson lahir di Bath pada tahun 1945. Sejak kecil Jacky terobsesi menjadi penulis, bahkan dia menulis novel pertamanya pada usia sembilan tahun.

Dari puluhan karyanya, Jacqueline Wilson selalu mengangkat karakter anak perempuan dalam novel-novelnya. Karakter anak perempuan tersebut cenderung mempunyai banyak masalah di kehidupannya, baik itu dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan sekolah, baik itu masalah ekonomi, maupun masalah psikologis. Continue reading “Resensi Buku: Cookie karya Jaqcueline Wilson”

Calon Novelku: Taman Bacaan di Atas Bukit

Taman Bacaan di Atas Bukit

Karya Paskalina Oktavianawati

Bagian I Wisata Alam

“Selamat pagi, Puske,” sapa Neya pada kucing putih yang mengeong di pojok kamar Neya.

“Hari ini aku akan pergi berwisata alam bersama teman-teman. Yah, sayangnya aku tidak bisa mengajakmu, Puske. Kamu tunggu aku di rumah ya.” Puske hanya mengeong mendengar ucapan Neya sambil sesekali menjilat kakinya.

Neya sudah mempersiapkan perlengkapan yang dibawa sejak semalam. Mama membantu Neya merapikan ransel yang barang-barang apa saja yang perlu dibawa. Neya membawa pakaian ganti, sarung tangan, jaket, selimut, makanan ringan, sebotol minuman, senter, sandal jepit, syal, perlengkapan mandi, dan yang pasti  tak akan ketinggalan dua buah novel. Continue reading “Calon Novelku: Taman Bacaan di Atas Bukit”

Cerita rakyat Banten: Legenda Gunung Pinang

SEMILIR angin senja pantai teluk Banten mempermainkan rambut Dampu Awang yang tengah bersender di bawah pohon nyiur. Pandangannya menembus batas kaki langit teluk Banten. Pikirannya terbang jauh. Jauh sekali. Meninggalkan segala kepenatan hidup dan mengenyahkan kekecewaan atas ibunya. Menuju suatu dunia pribadi dimana hanya ada dirinya sendiri. Ya, hanya dirinya.

“Ibu tidak akan izinkan kamu pergi, Dampu.” Dia teringat kata-kata Ibunya tadi pagi.

“Tapi, Bu…” sergah Dampu Awang.

“Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!” Wajah ibunya mulai memerah. “Ibu tahu, nong. Kamu pergi supaya kita tidak sengsara terus. Tapi ibu sudah cukup dengan keadaan kita seperti ini,” lanjut ibunya sambil terus menginang. Continue reading “Cerita rakyat Banten: Legenda Gunung Pinang”

Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung

Ki Sarmin adalah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia amat baik hati dan suka membantu. Suatu ketika, musibah menimpanya. Tiba-tiba saja kakinya lumpuh dan tidak ada yang mampu menyembuhkan. Ki Samir tabah dan sabar menghadapi hal itu. Ia banyak berdoa kepada yang Maha Kuasa supaya diberikan kesembuhan.

Pada suatu malam, seorang lelaki tua mendatangi Ki Sarmin dalam mimpi. Lelaki tua itu berkata: “Kalau ingin penyakitmu sembuh, pergilah engkau seorang diri ke kaki Gunung Karang. Temukan satu batu cekung, lalu bertapalah selama empat puluh malam diatas batu itu. Di akhir tapamu, air panas akan memancar dari batu itu. Mandilah engkau dengan air itu pun akan sembuh.” Continue reading “Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung”