Bersama Jadi Lebih Ringan karya Paskalina Askalin

Pada akhir pekan, Remi mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Seperti akhir pekan ini, Remi mengajak adiknya, Sasa membaca buku. Karena Sasa belum bisa membaca dengan lancar, Remi yang membacakan buku.

โ€œKak, Sasa mau dibacakan buku Tedi Kelinci Jujur,โ€ pinta Sasa.

Remi mencari buku yang disebut Sasa dan membacakannya. Sasa duduk di samping Remi dengan tenang.

Saat kakak beradik itu tenggelam dalam bacaan, bunda mereka sedang sibuk membuat brownis kukus kesukaan Remi dan Sasa.

โ€œTang tang ting ting tang tang tung tung….โ€ terdengar dering telepon masuk dari gawai yang tergeletak di meja. Remi segera mengambil gawai itu dan memberikan pada bundanya.

โ€œWow, Bunda buat brownis. Asyikk!โ€ seru Remi ketika melihat bundanya memasukkan adonan brownis ke dalam loyang. Bunda hanya tersenyum saja dan segera menekan tanda menerima telepon di gawainya.

Remi ingin melihat bundanya membuat brownis tapi terdengar suara Sasa memanggil.

โ€œKak Remi, ayo lanjut dibacakan lagi bukunya,โ€ teriak Sasa. Remi pun segera mendekati Sasa dan melanjutkan membaca.

Empat puluh lima menit kemudian, Bunda memanggil Remi dan Sasa untuk mencicipi brownis yang dibuat bunda.

โ€œEit.. sudah cuci tangan belum?โ€ tanya Bunda saat melihat Remi dan Sasa hendak mengambil kue.

Remi dan Sasa menggeleng. Bunda meminta keduanya untuk cuci tangan. Remi berkilah jika tidak pergi keluar rumah kenapa harus cuci tangan.

โ€œVirus dan kuman ada di mana-mana, di dalam rumah atau di luar rumah. Kalian sudah memegang buku-buku, pasti ada debu yang menempel di tangan,โ€ tegas Bunda. Jika sudah begitu, Remi tak berani membantah. Remi langsung menggandeng adiknya menuju wastafel.

โ€œHmm enak, Bunda,โ€ kata Sasa setelah memakan kue brownisnya.

Sambil makan brownis, bunda juga membuatkan teh manis untuk mereka. Bunda pun turut duduk dan menikmati brownis dan teh manis. Namun, kemudian Bunda menunjukkan raut muka yang serius.

โ€œKak Remi dan Sasa tahu kan tentang berita ada virus korona. Virus itu kini sudah mewabah juga di Indonesia, virus korona disebut juga Covid-19.โ€

โ€œApa virus itu berbahaya,โ€ potong Remi.

โ€œTentu, virus itu sangat berbahaya karena telah merenggut banyak korban jiwa. Oleh karena itu, untuk memutus penyebaran virus ini, pemerintah membuat kebijakan yang mengharuskan sekolah diliburkan dan anak-anak belajar di rumah secara daring. Semua masyarakat Indonesia diharuskan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah dari rumah. Tadi Bundaย  menerima telepon dari guru kelas Kak Remi yang memberi tahu jika mulai hari Senin besok hingga 14 hari ke depan semua siswa belajar di rumah. Jika wabah Covid-19 masih belum hilang, waktu belajar di rumah bisa diperpanjang. Tidak hanya sekolah Kak Remi, semua sekolah mulai dari PAUD hingga SMA/SMK.โ€

โ€œHore libur!โ€ teriak Remi.

โ€œMeskipun libur sekolah, kalian harus tetap di rumah, belajar di rumah, dan tidak boleh beraktivitas di luar rumah.โ€

โ€œJadi Remi tidak bisa main bola sama teman-teman?โ€ sahut Remi.

โ€œTidak bisa, Sayang. Kak Remi bisa main di rumah sama adik, bunda, dan ayah.โ€

Remi menghela napas panjang. Tak terbayang olehnya harus di rumah terus, tidak sekolah, juga tidak bisa main dengan teman-teman.

โ€œSelesai makan brownis, Kak Remi dan Sasa jangan lupa beresin buku-buku yang dibaca ya. Baca bersama, rapi-rapi juga bersama.โ€

โ€œSiap, Bunda.โ€

***

Remi masih berada di tempat tidur ketika Bunda membangunkannya.

โ€œRemi, ayo bangun, sudah jam 6 pagi,โ€ kata Bunda.

Remi sebenarnya sudah bangun, tetapi karena tidak sekolah Remi malas bangun. Kegiatan belajar daring juga baru mulai jam 10.

โ€œAyo bangun, Kak,โ€ seru Sasa, adik Remi yang berumur 6 tahun. Sasa menarik selimut Remi dengan kencang, membuat Remi terpaksa bangun.

Sudah seminggu Remi dan adiknya melakukan belajar daring melalui aplikasi Zoom dan Whatsapp. Cara belajar yang berbeda membuat Remi dan Sasa masih bersemangat di minggu pertama belajar daring.

Jam di dinding menunjukkan pukul 7 pagi. Remi sudah selesai mandi dan bersiap untuk sarapan.

Ayah, Bunda, dan Sasa sudah duduk di meja makan.

โ€œUh Kak Remi lama sekali. Aku sudah lapar nih,โ€ protes Sasa.

โ€œIya maaf.โ€

Semuanya sarapan dengan lahap. Sejak pandemi Covid-19 terjadi, Remi dan keluarga setiap hari selalu sarapan bersama. Sebelum ada pandemi, karena ayah Remi pergi lebih pagi untuk bekerja, jadi tidak pernah sarapan bersama.

โ€œSekarang masih pukul 7.30, belajar daring baru dimulai pukul 10. Nah, bagaimana kalau kita bagi tugas pekerjaan rumah ya.โ€

Remi mengerutkan dahi mendengar perkataan bundanya. Dalam hati Remi bertanya-tanya kenapa harus mengerjakan pekerjaan rumah.

โ€œBun, ayah bantu cuci piring.โ€

โ€œSasa bantu nyapu ya, Bun.โ€

โ€œRemi bantuโ€ฆ..โ€ Remi tidak tahu harus bantu apa.

โ€œKak Remi, bantu ngepel saja. Kan Sasa yang nyapu,โ€ usul Sasa.

โ€œTerus, Bunda tugasnya apa?โ€ tanya Remi penasaran.

โ€œBunda mau cuci dan setrika baju, lalu masak untuk makan siang kita. Terima kasih ya, Kak Remi dan Dek Sasa juga Ayah mau bantu pekerjaan Bunda.โ€

โ€œKalau dikerjakan sama-sama jadi lebih ringan, Bun,โ€ kata Sasa. Bunda memberikan dua jempol pada Sasa.

Sesuai pembagian kerja, semua mengerjakan tugasnya. Biasanya semua pekerjaan itu, bunda yang kerjakan sendirian. Karena semua berada di rumah, sekarang bisa dikerjakan bersama-sama.

Tidak perlu waktu lama, Remi dan Sasa mengerjakan tugasnya. Ayah juga sudah selesai. Bunda yang masih sibuk mencuci baju. Setelah menyelesaikan tugasnya, Remi jadi sadar jika bunda sangat luar biasa bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Dalam hati Remi bergumam, โ€œSelama di rumah aku akan selalu membantu Bunda.โ€

Waktu belajar daring masih satu jam lagi. Remi berniat hendak membaca buku untuk mengisi waktu. Tapi Sasa mengajak Remi main congklak.

โ€œMain congklak yuk, Kak.โ€

***

Setiap hari, Senin-Jumat, Remi dan Sasa dibimbing belajar daring oleh gurunya. Remi kelas 5 sekolah dasar, jadi sudah bisa belajar daring secara mandiri. Sasa masih duduk di TK B, jadi proses belajar daring masih harus ditemani bunda atau ayah.

Hari Rabu ini, Remi akan belajar daring melalui Whatsapp. Remi menggunakan gawai milik Bunda. Sudah ada grup Whatsapp khusus kelas Remi yang dipandu oleh guru kelasnya. Guru kelas Remi memberi tugas membuat cerita bertema gotong royong dalam keluarga. Tugasnya harus dikirimkan melalui email paling lambat besok pagi.

โ€œSudah, Bunda.โ€ Remi memberikan smartphone pada Bunda. Bunda heran, kenapa Remi sebentar sekali belajar daring. Bunda bertanya kepada Remi apa sebabnya.

โ€œBu Guru memberi tugas mengarang, Bunda. Paling lambat besok harus dikirim ke email. Nanti sore, Remi pinjam laptop Bunda ya?โ€

โ€œOh begitu. Ya pakai saja laptop Bunda. Lho, tapi kenapa Remi terlihat tidak semangat. Ada apa?โ€

Remi menjelaskan pada bundanya jika Bu Guru memberi tugas membuat cerita tetapi dia tidak paham tentang tema gotong royong dalam keluarga. Setahu Remi gotong royong biasa dilakukan di luar rumah bersama tetangga atau gotong royong membersihkan halaman sekolah bersama teman-teman.

โ€œSekarang kan ada Covid-19, kita tidak boleh keluar rumah, harus jaga jarak, tidak boleh bersentuhan dengan orang lain. Bagaimana kita bisa bergotong royong.โ€ Bunda tersenyum mendengar perkataan Remi.

โ€œRemi Sayang, gotong royong adalah bekerja bersama-sama, saling tolong, dan saling bantu. Saling bantu bisa dilakukan di mana saja, termasuk di rumah. Kemarin kita gotong rotong dalam keluarga, yaitu membantu bunda mengerjakan pekerjaan rumah. Kita bisa sama-sama membersihkan halaman dan sekitar rumah, jadi kita bisa bergotong royong dalam keluarga.โ€

Giliran Remi yang senyum-senyum. Remi sudah paham yang dimaksud gotong royong dalam keluarga. Remi berencana akan menulis cerita tentang aktivitas gotong royong dalam keluarganya.

โ€œKak Remi, Bunda, ayo kita bantu ayah di depan,โ€ ajak Sasa dari arah pintu.

โ€œAyo, kita akan gotong royong. Wah jadi sumber cerita buat tugas deh.โ€

โ€œSumber cerita apa sih,โ€ Sasa penasaran.

โ€œIh anak kecil mau tahu aja.โ€

โ€œKak Remi, Sasa udah besar lho, udah 6 tahun, bentar lagi juga sekolah di tempat Kak Remi,โ€ protes Sasa.

โ€œOh iya, adik Kak Remi udah gede. Maaf, ayo, ayo, bantu ayah.โ€ Bunda memberi isyarat supaya Remi dan Sasa duluan ke depan untuk bantu ayah.

Remi dan Sasa menuju ke halaman rumahnya. Tampak di halaman, ayahnya sedang mencabuti rumput kecil-kecil. Ayah meminta Remi dan Sasa untuk menyapu daun-daun kering. Remi dan Sasa langsung mengerjakan apa yang diminta ayahnya.

Selama semingguย  lebih, sejak mereka berada di rumah terus-menerus, halaman rumah dan sekitarnya tidak dibersihkan. Biasanya sore-sore, ayah atau bunda menyapu halaman. Tetapi karena menghindari mengobrol dengan tetangga kanan-kiri, ayah dan bunda memilih untuk membiarkan halaman kotor. Nah, saat ini para tetangga sudah paham untuk menjaga jarak satu sama lain dan tidak berkerumum, sehingga ayah mengajak Remi dan Sasa juga bunda untuk bersama-sama membersihkan halaman. Jika ada tetangga yang lewat, dapat disapa dari jarak jauh saja.

Ketika ayah, Remi dan Sasa sudah selesai membersihkan halaman rumah, bunda menghampiri dengan membawa jus buah. Rasanya menyegarkan sekali, setelah lelah membersihkan halaman lalu minum jus buah.

โ€œAduhโ€ฆ sudah siang,โ€ keluh Remi.

โ€œKenapa?โ€ tanya ayah.

โ€œRemi belum mengerjakan tugas menulis cerita.โ€

โ€œSetelah ini kan bisa Remi kerjakan. Sekarang minum jus buah, lalu mengerjakan tugas. Tugas itu harus dikerjakan sendiri ya, tidak ada gotong royong mengerjakan tugas sekolah, kecuali itu tugas kelompok. Jangan lupa setelah ini mandi dulu, supaya bersih dari kuman,โ€ tegas bunda.

โ€œSiap, Bunda.โ€

Visited 56 times, 1 visit(s) today