Bulan November sudah tiba, akhir tahun sudah di ambang pintu. Bulan Oktober sudah berlalu tapi tak boleh dilupakan begitu saja.
Selama bulan Oktober ada 15 tulisan yang saya unggah di laman ini dan merupakan yang terbanyak selamat tahun 2022.
Tidak semua rencana di bulan Oktober dapat terlaksana dengan baik. Bahkan bisa dibilang dari 100% rencana yang dituliskan hanya sekitar 25% yang terealisasi. Tidak masalah, tetap semangat, masih ada hari esok, masih ada November ceria.
Apa saja yang ingin saya lakukan di bulan November?
Mengawal anak lanang, bola-bola tersayang, Kenan dan Krisan.
Kakak Kenan ingin mempunyai subscriber yang banyak untuk channel youtube-nya. Saya bantu dengan mengunggah tulisan blog KENAN KRISAN STORIES untuk mempromosikan channelnya.
Untuk Adik Krisan, “Mami akan mengawal kamu setiap hari menciptakan dunia yang ceria dengan kata-katamu.”
Tiga bulan lalu, bicara Adik Krisan masih sangat-sangat minim, PUJI TUHAN, sejak bulan Oktober 2022, setiap hari kosakatanya bertambah terus, bicaranya semakin lantang, walaupun hanya satu dua kata (belum tersusun kalimat lengkap), Mami benar-benar bersyukur. Mami, Mama… begitu Adik Krisan mau memanggil. Dia tidak mau memanggil Bunda. Dia maunya memanggil Mama. Eh, tapi beberapa hari ini maunya memanggil Mami. Apapun panggilanmu yang penting kamu senang.😍
Challenge Menggambar Pada bulan November ini saya awali dengan mengikuti challenge menggambar yang dilakukan oleh salah satu penulis buku anak favorit saya, Mbak Renny Yaniar. Apa yang saya gambar dapat dilihat di Instagram @paskalin_askalin.
Solusi Editing Buku Selanjutnya di bulan November ini saya akan unggah satu kata yang sering salah penulisan alias tidak sesuai KBBI atau EYD di IG @solusieditingbuku.
Akhir-akhir ini saya sering mengajak si adek antre di rumah sakit. Jika saya pergi sendiri, saya tidak akan lupa membawa sebuah buku bacaan untuk mengisi waktu nunggu antrian. Karena saya pergi bersama anak lanang (2,7 tahun) ada banyak persiapan yang harus dilakukan dan ada banyak barang yang harus saya bawa.
Membawa Bekal Makan Siang
Meskipun di rumah sakit ada swalayan saya tetap membawa bekal makan siang dan juga makanan. Sudah beberapa kali ke rumah sakit tetap saja situasi yang akan dialami bisa berbeda.
Setelah pagi tadi antre untuk pendaftaran dan registrasi, sore ini pergi ke rumah sakit lagi untuk bertemu dokter. Jadwal dokter ysng akan ditemui pukul 17.00 mulai prakteknya.
Sore ini saya dan anak lanang ditemani si Ayah untuk pergi ke dokter spesialis bedah umum Rumah Sakit Sari Asih.
Tepat pukul 17.00 wib kami baru bisa meluncur ke rumah sakit karena menunggu ayah yang baru pulang kantor dan si Kakak.
Persiapan sebelum pergi sama dengan tadi pagi, saya juga mau bekal makan untuk si Adek makan malam karena takutnya antrean akan lama.
Sekitar pukul 17.30 kami sudah sampai di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat. Saya dan anak lanang langsung menuju ke tempat pemeriksaan dokter atau poliklinik. Saya tidak menyerahkan berkas apapun pada perawat, karena sudah diambil oleh perawat tadi siang. Saya hanya tinggal datang untuk bertemu dengan dokter.
Saya tanya pada perawat apakah Dokter sudah ada. Dia menjawab jika Dokternya sudah ada dan saya tinggal menunggu dipanggil. Tidak lama, ternyata hanya sekitar 10 menit saya menunggu nama saya sudah dipanggil untuk bertemu dengan dokter. Dan pemeriksaan dokter juga tidak lama, setelah bicara sedikit ini itu ini itu ini itu, dokter memberikan resep obat dan cara untuk menangani luka di kaki ini.
Kata dokter saya harus membersihkan dan mengompres luka dua kali dalam sehari dan untuk mengetahui penyebab lain saya juga diberikan surat rekomendasi untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam. Huhuhuhuhu ini menjadi PR, bertemu satu dokter saja harus antre lagi di dokter yang lain dan membuat jadwal baru.
Menurut dokter saya harus datang lagi untuk kontrol 10 hari lagi. Jika obat dan tindakan yang dilakukan tidak mengubah kondisi luka, akan diberikan obat yang berbeda. Ya, saya berharap lukanya akan segera baik, setelah ini, 10 hari ke depan, semoga, amin.
Bertemu dokter tidak lama, sebelum pukul 18.00 semua urusan di poliklinik sudah selesai. Urusan dengan dokter sudah selesai, tapi masih ada yang harus dilakukan dan kemungkinan ini akan lama. Apa itu? Antrean di bagian farmasi. Ada kemungkinan sangat antre.
Pukul 18.45 Kami bertiga mulai mengantre di Farmasi Rumah Sakit Sari Asih. Antrean tidak bisa dihindari. Jika ingin mendapatkan obat dari resep yang diberikan oleh dokter mau tidak mau harus mengantre.
Sambil menunggu antrean, saya tawarkan makan pada Adek Krisan. Dia menggangguk dan bekal pun dibuka. Adek Krisan dan saya makan bekal. Si Ayah memilih tidur sambil duduk.
Satu jam berlalu nama saya belum juga dipanggil dan orang-orang tampak mulai gelisah. Untuk yang tidak sabar untuk menunggu, petugas apoteker memberikan saran dan cara mengambil obat resep menggunakan ojek online. Petugas apoteker yang akan memesankan ojek online dan mengirimkan obat ke alamat pasien jika obat sudah siap.
Sebenarnya ini layanan yang sangat bagus, tapi kalau sudah terlanjur menunggu saya memilih lebih baik menunggu saja. Kecuali memang jika ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, mau tidak mau menggunakan tawaran yang diberikan oleh petugas apoteker.
Dua jam sudah berlalu duduk menunggu di bagian Farmasi Rumah Sakit Sari Ciputat, nama saya belum juga dipanggil. Anak saya sudah mau tidak mau diam. Jalan ke sana ke mari, lari ke sana kemari kadang duduk kadang tiduran di kursi.
Tidak hanya kami yang gelisah, semuanya sudah mulai gelisah, dan menunjukkan kegelisahan dengan caranya masing-masing. Ada yang berdiri, maju ke depan bertanya terus-menerus hingga emosi.
Saya pun yang awalnya duduk di paling belakang, lalu beberes yang dibawa, kemudian pindah duduk di kursi tunggu paling depan.
Akhirnya setelah tiga jam nama saya pun dipanggil. Syukurlah semua obat yang diresepkan ada dan bisa dibawa pulang. Puji Tuhan.
Pukul 9 malam lewat kami baru bisa pulang, keluar dari area Rumah Sakit Sari Asih Ciputat dan meluncur pulang.
Sungguh perjuangan yang luar biasa untuk sebuah luka kecil sebenarnya. Karena ada begitu banyak yang harus dilibatkan dan ada begitu banyak waktu yang harus dibuang dan ada begitu banyak emosi yang terlontar. Tapi tentu saja luka ini tidak bisa saya sepelekan. Semoga tindakan yang dilakukan oleh dokter dan obat yang diresepkan benar-benar manjur, amin.
Doa utama hari ini adalah Tuhan berikan cuaca yang baik untuk hari ini karena saya harus bolak-balik ke rumah salit hari ini. Luar biasa Tuhan mendengarkan doa saya. Cuaca hari ini sungguh baik hati. Terima kasih Tuhan.
Hari ini, Jumat, 14 Oktober 2022, sudah direncanakan untuk bertemu dengan dokter bedah umum rumah sakit sari asih. Jika ingat beberapa hari ke belakang, sudah terlalu banyak lelah yang dilalui, baik lelah hati maupun raga.
Pukul sekitar pukul 8.30 ojek online sudah dipesan beberapa menit lagi tiba. Sekitar pukul 9 saya sampai di rumah sakit Sari Asih. Situasi sudah ramai dan pastinya antrean di loket registrasi juga sudah padat.
Saya mengambil nomor antrean di mesin antrean, benar saja, saya mendapat nomor antrian 134 dan baru berjalan sampai nomor 50 (kalau tidak salah). Masih ada tempat duduk kosong di belakang, segera saya menghampiri tempat duduk itu bersama anak lanang.
Nomor antrean D134
Satu jam berlalu, nomor antrean masih jauh menuju nomor 134. Bagi saya tidak masalah mengantre karena itu sudah pasti terjadi. Saya sudah mempersiapkan kemungkinan mengantre lama. Saya mengantre bersama anak lanang. Segala kebutuhannya harus saya siapkan supaya anak lanang bisa anteng dan duduk manis.
Karena tadi anak lanang belum makan nasi jadi saya buka bekal. Saya tawarkan makan dan dia langsung makan dengan teman lauk seadanya. Anggap saja berada di rumah sendiri ya Dek. 😆
Antrean masih panjang, kanan-kiri, depan-belakang, orangtua-muda, dan anak-anak sedang mengantre juga. Saya dan anak lanang sibuk dengan makan bekal. Anak lanang makan dengan lahap hingga habis bekalnya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.