Ulasan Buku Hello Kiddo: Sepuluh Anak Indian

Buku Sepuluh Anak Indian bercerita tentang sepuluh anak Indian yang sedang bermain didatangi oleh seekor beruang besar. Sepuluh anak Indian tidak takut takut pada beruang itu. Mereka malah ingin mengajak beruang menari dan bermain bersama.

Secara bertahap anak Indian mendatangi beruang. Pertama-tama yang datang adalah 3 anak Indian datang menemui beruang untuk mengajak bermain. Tetapi, si Beruang tidak berminat untuk bermain.

Satu, dua, tiga.
Tiga anak Indian mendekati beruang itu!
Apa yang akan mereka lakukan, ya?

Lalu, yang datang menemui beruang adalah 6 anak Indian. Enam anak Indian menggelitik beruang, tetapi beruang tidak bereaksi sama sekali.

Kemudian, 9 anak Indian datang mendekati si beruang. Kesembilan anak Indian itu mengagetkan si beruang. Beruang itu tidak bergerak sedikit pun.

Continue reading “Ulasan Buku Hello Kiddo: Sepuluh Anak Indian”

Buku Enid Blyton Petualangan Pohon Kelana Ajaib Negeri Camilan

Ketika itu beberapa bulan lalu, tiba-tiba ingin baca buku baru, buku anak. Meskipun saya bukan lagi anak-anak, membaca buku anak adalah favorit saya. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati, saya baca buku anak sekaligus ajak anak-anak saya juga untuk membacanya, itu pun jadi salah satu tujuan saya.

Ide memukau, ilustrasinya keren.

Dua kata untuk buku ini “IDENYA MEMUKAU.” Memang pantas Enid Blyton menjadi penulis buku anak yang menjadi pujaan dunia penulisan buku anak dan akan selalu menjadi panutan sepanjang zaman. Meskipun saya tidak mempunyai lengkap karya-karya Enid Blyton, saya benar-benar memuja karyanya. Saya kagum dengan ide-ide memukau dalam setiap cerita yang ditulisnya.

Continue reading “Buku Enid Blyton Petualangan Pohon Kelana Ajaib Negeri Camilan”

Kebaikan oleh Semua, Kumpulan Dongeng dan Cerita Anak

Judul: Kebaikan oleh Semua, Kumpulan Dongeng dan Cerita Anak
Penulis: Kelompok Cinta Anak Cinta Buku
Terbit September 2020

Di zaman yang serba instan dan serba digital seperti sekarang ini nilai kebaikan hampir hilang. Anak-anak cenderung bersikap egois, tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Untuk menjadi peduli dan baik pada orang di sekitarnya, anak-anak harus diberi tahu atau ditugasi untuk berbuat baik atau peduli.

Tentunya, kita tidak berharap generasi muda di masa depan menjadi manusia yang angkuh dan tidak peduli. Karenanya, anak-anak harus diberi “suplemen bacaan” yang bernilai karakter baik, salah satunya nilai kebaikan.

Nilai kebaikan merupakan salah satu nilai karakter yang mampu menyatukan perbedaan, hingga menghilangkan perbedaan itu. Menurut saya, sangat tepat saat penulis dari Kelompok Cinta Anak Cinta Buku memilih “kebaikan” menjadi tema besar untuk keseluruhan cerita dalam buku kumpulan cerita anak ini. Oleh karena itu, buku ini layak dibacakan untuk anak. Bahkan, orang dewasapun sambil membacakan untuk anaknya juga dapat mengambil manfaatnya.

Continue reading “Kebaikan oleh Semua, Kumpulan Dongeng dan Cerita Anak”

Resensi Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja

Keistimewaan Read Aloud dalam Proses Belajar Membaca Tanpa Mengeja

JUDUL BUKU : Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja
PENULIS : Vidya Dwina Paramita
PENERBIT : Bentang
CETAKAN : Pertama, Maret 2020
TEBAL : xii + 192 halaman
ISBN : 978-602-291-690-1

Membaca buku ini mengingatkan saya pada pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, tentang pendidikan anak usia dini yang berbunyi: kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung. Di usia emasnya, anak-anak usia dini memang tak perlu dibebani dengan kewajiban belajar seperti harus bisa membaca, bisa berhitung, dan bisa menulis. Anak-anak usia dini harus belajar dengan hati senang tanpa terbeban.

Namun, fakta yang terjadi orang tua menjadi resah saat anak mereka yang duduk di bangku taman kanak-kanak belum bisa membaca. Saat sekolahnya dianggap tak mampu mengajari anak mereka membaca, anak-anak yang masih suka bermain ini harus menghabiskan waktu di tempat les calistung karena saat anak masuk SD harus bisa membaca.

Baca juga: Resensi buku Seni Berbicara pada Anak Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Cara instan belajar membaca pada akhirnya akan membuat anak tidak mencintai proses “belajar” hingga akhirnya takut pada “belajar”.

Mengajari anak usia dini belajar membaca bukanlah sebuah kesalahan, namun orang tua perlu memahami tahap belajar membaca yang benar sehingga anak tidak stres saat harus belajar.

Dalam buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, Vidya Dwina Paramita, menjabarkan pengalamannya sebagai praktisi pendidikan anak usia dini, saat mempraktikkan belajar membaca tanpa mengeja dengan metode Montessori.

Melalui buku ini, Vidya mengajak para orang tua dan guru untuk merenung sejenak dan memikirkan kembali cara-cara dan metode yang digunakan untuk mengajarkan baca tulis pada anak-anak. Apakah cara-cara yang dilakukan sudah cukup membantu anak tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat? Apakah betul kita sudah membantu anak-anak? Atau, jangan-jangan kitalah yang membuat anak-anak tak menyukai proses seumur hidup bernama “belajar”?

Dalam Montessori, terdapat dua tahap dalam pengajaran membaca. Tahap yang pertama adalah Tahap Pra-Membaca dan yang kedua adalah Tahap Teknis Membaca. Biasanya, kita sibuk berkutat pada tahap yang kedua, sementara kunci utama kesuksesan ternyata justru ada pada tahap pra-membaca. (Hal. 37)

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-membaca, di antaranya berbincang, bernyanyi, mendengar kata-kata berima, menyimak dongeng, dan read aloud. Mengingat pentingnya kegiatan read aloud dalam tahap belajar membaca tanpa mengeja, Vidya membahas secara khusus pentingnya read aloud pada halaman 47 sampai dengan halaman 54.

Kenapa read aloud begitu istimewa? Ada 4 alasan, pertama, read aloud membantu memperkuat bonding antara orang tua dan anak. Kedua, read aloud membangun cinta segitiga antara orang tua, anak, dan buku. Ketiga, melalui read aloud, anak mendapat asupan kosakata bahasa baku. Keempat, read aloud dapat meningkatkan prestasi akademis. Berdasarkan keempat alasan itu disimpulkan bahwa kemampuan akademis (membaca dan menulis) dimulai dengan kemampuan mendengar. Anak mengumpulkan kosakata yang ia dengar. Ia memahami meskipun belum dapat ia sampaikan secara verbal (berbicara).

Ketika tahap pra-membaca telah terlewati, selanjutnya ada tiga syarat utama pengajaran kemampuan membaca bagi anak usia dini. Pertama, kegiatannya harus dipastikan merupakan kegiatan yang menyenangkan. Kedua, kegiatannya merupakan kegiatan yang bermakna. Ketiga, kegiatannya sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Dalam buku ini, Vidya menjabarkan dengan detail tahap teknis membaca yang bisa diikuti oleh orang tua dan guru dengan sangat mudah. Dan, seluruh kegiatan dalam tahap ini amat kental dengan peralatan yang digunakan di kelas Montessori.

Bagaimana tahap praktis membaca tanpa mengeja dimulai? Pada tahap awal pengenalan huruf, dalam Montessori dikenal metode fonik. Dengan metode ini anak dilatih untuk mengenali bunyi huruf, bukan nama huruf dalam alfabet. Anak yang terbiasa mengenali bunyi huruf yang terdapat dalam kata terbukti dapat segera mengorelasikan deretan huruf yang ia baca dengan maknanya (hlm. 65).

Kemudian, orang tua atau guru dapat mengikuti tahap demi tahap praktis belajar membaca dengan mudah. Namun, satu hal yang sering kali diingatkan Vidya, bahwa semua kegiatan yang dilakukan bersama anak saat belajar membaca harus menyenangkan.

Resensi ini ditulis oleh Paskalina Askalin

Resensi Buku: Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Judul : Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas
Halaman : xx + 404
Penulis : Joanna Faber dan Julie King
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun : Februari 2020
ISBN : 978-623-216-595-3

Cara Kreatif Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, mencuci tangan adalah keharusan, apalagi jika sudah memegang banyak benda di luar rumah atau bepergian jauh dari rumah, sebagai orangtua kita harus terus menerus mengingatkan anak untuk mencuci tangan. Namun, bukan perkara mudah meminta anak usia 4 atau 5 tahun untuk mencuci tangan. Ada saat anak malah jadi mengamuk hanya karena diminta mencuci tangan. Alhasil, anak dan orangtua menjadi bersitegang.

Adakah cara yang lebih baik untuk meminta seorang anak melakukan apa yang diminta orangtuanya tanpa membuat si anak mengamuk? Adakah cara terbaik meminta si kakak berhenti mengganggu adik? Adakah cara untuk memberi tahu anak tanpa perlu emosi?

Jawabannya ada. Semuanya ada di buku Seni Berbicara pada Anak Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas. Buku ini lebih lengkap dari yang Anda bayangkan. Dalam buku ini, Joanna Faber dan Julie King memberikan jawaban bagi para orangtua yang meminta strategi untuk menghadapi si kecil. Ada anak 2 tahun yang tidak bisa diajak kerja sama, anak usia 3 tahun yang kasar, anak 4 tahun yang galak, anak 5 tahun yang tidak bisa diatur, anak 6 tahun yang egois, dan anak 7 tahun yang tidak patuh.

Baca juga: Ulasan Buku: Mewujudkan Khayalan Anak yang Tidak Masuk Akal

Joanna Faber dan Julie King adalah pakar pendidikan dan parenting yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Mereka berdua mendampingi banyak orangtua dalam berbagai lokakarya dan komunitas untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam mendidik anak. Dalam buku ini adalah ratusan kisah nyata dari pengalaman Joanna dan Julie sendiri, juga pengalaman banyak orangtua (komunitas/peserta pelatihan) dalam mendidik anak tanpa emosi dan amarah, tanpa “ngegas”.

Continue reading “Resensi Buku: Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas”