Resensi: Pola Pengasuhan Berkesadaran ala Yehudis Smith

Buku ini menjadi panduan pengasuhan (parenting) yang aplikatif bagi para orang tua milenial. Yehudis Smith tidak hanya menawarkan paradigma baru, yakni membaharui pengasuhan konvensional menjadi pengasuhan berkesadaran, melainkan juga memberikan langkah dan contoh konkret dalam pengasuhan anak.

Seringkali kita merasa kalau pola pengasuhan orang tua kita zaman dulu lebih “keras” daripada sekarang. Sebagian lain merasa bahwa “produk” pengasuhan konvensional jauh lebih berdampak, menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Namun, dari pengalaman Smith sebagai Conscious Parenting Coach, pengasuhan model lama (konvensional) perlu melakukan pembaharuan cara dan makna, yang disebut Smith Pengasuhan Berkesadaran.

Smith bilang kalau dalam pengasuhan berkesadaran, orang tua berperan sebagai fasilitator. Dalam pengasuhan konvensional, orang tua berperan sangat dominan bahkan otoriter yang mengendalikan anak, kenakalan dipahami sebagai hal jelek dan harus dicegah, tujuan mendisiplinkan anak berarti memaksa untuk menurut, serta konflik itu adalah sesuatu yang negatif dan harus dicegah. Sementara dalam pengasuhan berkesadaran, Smith mendefinisikan ulang dengan pengertian baru. Orang tua seharusnya berperan sebagai fasilitator,  kenakalan dipahami sebentuk pesan dari anak, tujuan mendisiplinkan berarti mengajarkan keterampilan hidup, serta konflik adalah peluang untuk mengajar dan belajar.

 

Pengasuhan berkesadaran berarti memberikan ruang untuk diri sendiri (orang tua) berefleksi. Jika ingin anak disiplin, orang tua harus nyontohin dulu bertindak disiplin. Pahami bahwa amarah yang berlebihan bisa membuat dampak negatif, bahkan trauma pada anak. Mulai dari pembelajaran hal terjadi sehari-hari. Smith kasih saran, kalau dalam situasi tertentu orang tua memarahi anak hingga suara meninggi, maka coba diamlah sejenak, tarik napas dalam-dalam melalui hidung dan hitung sampai 10. Saat oksigen masuk ke otak, maka dopamin dan serotonin yang diproduksi akan bantu memberi dampak rasa tenang.

Studi menunjukkan anak-anak yang memiliki hubungan sehat dan kuat dengan orang tua mereka lebih besar kemungkinannya untuk berhasil di hampir semua ranah kehidupan mereka. Menurut Smith, kenakalan anak merupakan upaya mereka mengomunikasikan kebutuhan tertentu.

Ada lima langkah dalam pola Pengasuhan Berkesadaran:

  1. Cari ketenangan di tengah suasana panas

Smith mengajak para orang tua menyadari terlebih dahulu apa sebab sebuah masalah terjadi. Perilaku anak yang penuh dinamika, seperti menangis dan merengek, ngambek tanpa sebab, agresif, tidak sopan, tidak menggubris perkataan atau nasihat orang tua terkadang menyulut rasa stres. Maka, langkah pertama dalam pola pengasuhan ini adalah menengok ke dalam diri sendiri, merenungi akar dari penyulut (masalah) dan apa yang bisa dilakukan untuk melangkah maju.

Menarik napas dalam-dalam dapat menstimulus otak untuk lebih tenang. Di lain waktu, orang tua perlu rehat dulu agar nantinya bisa menjalin konunikasi yang sehat dengan anak. Selanjutnya, lihatlah apa yang dilakukan anak secara positif, karena setiap perilaku adalah sebentuk upaya merkea untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Begitu suasana sudah cukup tenang, dekati anak dan katakan: “Ibu tahu kita tadi kesulitan berkomunikasi.” Mulailah berdiskusi dengan tenang, lalu berilah pengakuan: “Ibu kesal dan kau juga, jadi kita mungkin sempat bicara sembarangan padahal tidak berniat begitu.” Pengakuan ini penting tanpa mempermalukan pihak manapun. Ajak anak untuk bertanggung jawab terhadap perkataannya. Lalu perbaiki: “Ayo kita coba lagi.”

  1. Pahami perilaku anak

Masing-masing anak di usianya memiliki kenakalan yang unik. Bisa jadi para orang tua akan merasa kesal jika tidak memahaminya secara baik. Kenakalan anak usia 1-3 tahun seperti merebut, mengamuk dan kabur.  Atau tiba-tiba kita dihubungi guru karena anak kita di pre-school menggigit lengan temannya. Sementara kemungkinan kenakalan anak usia 3-5 tahun seperti mengamuk dan bertindak kasar secara fisik seperti mendorong, memukul. Kenakalan anak usia 6-12 tahun seperti bersikap tidak sportif, melawan, dan merundung. Sedangkan kenakalan remaja (usia 13-19 tahun) berupa berbohong, mendebat atau membantah, murung dan lancang.

Smith menawarkan solusi untuk menghadapi kenakalan itu dengan memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak, yang disebutnya kelekatan aman (secure attachment). Kelekatan aman membantu anak-anak membangun keterampilan fungsi eksekutif. Kelekatan aman merupakan umpan balik positif. Mulailah sejak dini, misalnya jika bayi menangis di tempat tidurnya, orang tua memasuki kamar, menggendong, menghibur, dan membarikannya kembali. Manfaat kelekatan aman di antaranya; orang tua menjadi suaka aman yang memberi penegasan, penghiburan, dan perlindungan; serta orang tua menjadi lebih mampu mengatur emosinya sendiri, dengan tetap bersikap tenang.

  1. Bangun rasa aman

Saat tiba-tiba sepulang sekolah anak marah-marah, masuk pintu, dan membanting pintu, mungkin kita akan terpancing secara emosional untuk segera berlari dan menegurnya. Smith memberikan ilustrasi jika ada anak bersikap demikian. Langkah pertama, lakukan mirroring, katakan seperti yang anak katakan: “Menurutmu Ibu menyuruhmu begitu. Menurutmu tidak adil, Ibu menyuruhmu begitu?” Pastikan agar perkataan itu tersampaikan dengan jelas.

Beri pengakuan: tanyakan kepada anak: “Benarkah itu maksudmu?” Jika anak mengiyakan, lanjut dengan berkata: “Kau tadi membanting pintu keras-keras. Kau mengepalkan tangan. Benarkah demikian?” Setelah ia merasa diakui dan dipahami, kemungkinan besar anak akan menceritakan apa yang dialaminya hari itu.

Beri keleluasaan. Misalnya seorang ayah kepada anaknya Sophie, “Kau marah sekali. Kalau begitu, Ayah duduk di sini saja dulu. Akan Ayah tunggu sampai kau siap bicara kepada Ayah.”

  1. Bangun hubungan emosional

Sediakan waktu untuk menjalin hubungan dengan anak. Di tengah kesibukan sehari-hari, anak senantiasa berupaya menjalin hubungan positif dengan orang tua. “Ibu sekarang harus mencuci baju, tapi kelihatannya kau ingin ditemani, ya? Bagaimana kalau kau membantu Ibu memasukkan handuk ke mesin pengering?”

  1. Memecahkan persoalan bersama-sama

Duduklah bersama anak pada saat tenang dan silakan bertukar ide menyusun daftar pernyataan positif untuk anak. Afirmasi positif merupakan cara efektif untuk meningkatkan kepercayaan anak pada dirinya sendiri.

 

Cara lain untuk membantu anak tetap positif dan mengembangkan pola pikir bertumbuh (growth mindset) adalah dengan mengajarinya bersyukur atas semua karunia dan hal positif lainnya. Ajukan pertanyaan dan tulis dalam jurnal: “Apa kejadian yang paling kau sukai seminggu ini? Apa yang ingin kau capai hari ini? Sebutkan sesuatu yang sangat mahir kau kerjakan.”

Pola pikir bertumbuh merupakan batu fondasi dari tujuan kita sebagai orang tua berkesadaran, sebab kita sendiri sedang dalam perjalanan untuk senantiasa bertumbuh dan bisa mengajarkan kepada anak-anak untuk senantiasa bertumbuh juga. Semangat berjuang!

Data Buku
Judul: Rethinking Discipline, Mudah Mendisiplinkan Anak dengan Pengasuhan Berkesadaran
Penulis: Yehudis Smith
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: April 2022

Peresensi adalah Yohanes Budi, Mentor Penulisan Fiksi, Penulis Kumpulan Cerpen: “Menua Bersama Senja” (Pohon Cahaya, 2024)

Resensi Buku: Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 1

#resensibuku #reviewbook #tokojajananajaib #zenitendo #nyonyabeniko #penerbitpop #imprintkpg #bukubaru #kumpulancerita #resensipaskalina

Kemalangan berubah jadi kebahagiaan. Kebahagiaan berubah jadi kemalangan.  Zenitendo memilih pembeli. Jika pembeli menjadi bahagia, Zenitendo-lah yang menang. Jika pembeli mengalami nasib malang, Zenitendo-lah yang kalah.

Nyonya Beniko, Pemilik Toko Jajanan Ajaib, Zenitendo

Minggu lalu, minggu pertama di bulan April saya melihat sekilas kover buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 1. Entah mengapa saya langsung ingin membeli buku ini dan ingin membacanya. Mungkin, Nyonya Beniko, pemilik toko Zenitendo itu memiliki aura mistis yang mampu membuat siapa saja menatapnya langsung mampir ke tokonya atau beli bukunya. Ih kok jadi serem…

Aura Nyonya Beniko pada kover itu pun mengenai saya hingga membuat saya langsung membeli buku ini, mungkin hehehe.

Kemarin saya menyelesaikan membaca buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 1. Jadi ingin membaca buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 2, semoga terbeli bulan depan. Semoga.

Buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 1 adalah adalah buku pertama di tahun 2024 yang saya baca hingga selesai. Saya memang mentarget bawa buku ini harus selesai saya baca secepatnya kenapa karena saya ingin anak saya ikut membaca buku ini usia anak saya masih 9 tahun tapi menurut saya ketika sudah selesai membaca buku ini anak usia SD bisa membaca buku ini semua isinya aman untuk dibaca oleh anak usia SD.

Awalnya saya mengira buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo adalah sebuah novel. Saya keliru. Ternyata buku ini berisi beberapa cerita. Buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo adalah kumpulan cerita.

Dalam buku ini ada 6 cerita yang masing-masing memiliki keunikan, makna, dan akhir cerita yang berbeda-beda. Keenam cerita itu meliputi Permen Jeli Putri Duyung, Biskuit Binatang Buas, Es Berhantu, Pancing Kue Ikan, Cokelat Karisma, dan Pohon Pemasak.

Nyonya Beniko, pemilik toko jajanan ajaib Zenitendo, secara ajaib menuntun seseorang yang sedang “galau”, bermasalah, sedih, dan frustasi untuk datang berkunjung ke tokonya. Kemudian  memberikan jajanan ajaib dengan harga yang sesuai.

Cerita Permen Jeli Putri Duyung mengisahkan tentang anak perempuan 11 tahun bernama Mayumi. Mayumi sedang murung karena besok adalah pelajaran olahraga renang di sekolahnya. Mayumi tidak bisa berenang. Mayumi ingin besok tidak masuk sekolah saja. Dia berangan-angan bisa renang atau setidaknya tidak takut air.

Dengan berbagai pikiran itu Mayumi melangkah gontai dalam perjalanan pulang sekolah. Tiba-tiba, ia merasa dipanggil oleh seseorang. Mayumi pun mengangkat wajahnya. 

Mayumi berada di sebuah jalan pertokoan antara sekolah dan rumahnya. Selain karena itu jalan pintas ia juga suka suasana riang di sana. Karena itu, ia selalu melewati jalan tersebut. Ia sudah kenal setiap toko yang berderet di sepanjang jalan. Atau begitulah seharusnya.

Akan tetapi Mayumi menemukan sebuah toko yang belum pernah dilihatnya. Di ujung gang yang agak sempit di antara toko kroket dan toko makanan kering tampak sebuah toko jajanan. (hlm. 4)

Sampailah Mayumi di toko jajanan ajaib Zenitendo. Mayumi tertarik untuk memasuki toko itu. Jajanan-jajanan di toko itu seakan memancarkan aura “lain”, seolah menyembunyikan kekuatan istimewa baginya.

Setelah diamati baik-baik, nama-nama makanan yang dijual di situ bahkan juga agak aneh. Permen Mata Kucing, Cintailah Sampai Tulang: Permen Soda Kalsium Bentuk Tulang Permen Karamel Bekal Serdadu, Jus Koktail Kegelapan, Permen Karet Siluman, Cokelat Koin Perak, Kue Mochi Maneki-Neko, Gulali Warna Pelangi, Agar-agar Hantu Gemetar, Stik Tak Boleh, Permen Cangkang Kura-kura, Kaleng Tamasya, Bakpao Telur Walet, Keripik Kelelawar, dan masih ada lagi. (hlm. 6)

Bagi anak perempuan berusia 11 tahun di manapun, di seluruh ujung dunia manapun, masa usia yang penuh rasa ingin tahu, membaca nama-nama jajanan seperti di atas pastilah akan  tertarik untuk melihat dan membelinya. Begitu juga dengan Mayumi, dia semakin terdorong masuk ke toko  jajanan ajaib  Zenitendo.

Kegalauan Mayumi tentang pelajaran renang seakan “pecah”. Apalagi disambut oleh Nyonya Beniko, pemilik toko jajanan ajaib Zenitendo.

“Selamat datang di Zenitendo, toko yang hanya dapat ditemukan oleh orang beruntung yang sedang mencari keberuntungan. Permintaan pengunjung yang beruntung pasti akan Beniko ini kabulkan.”

Mendapat sambutan seperti itu membuat Mayumi heran sekaligus senang. Karena saat itu dia juga sedang mempunyai keinginan yang tidak mungkin dapat diwujudkan dengan cepat. Ketika ditanya tentang keinginannya Mayumi langsung menjawab dengan mantap, “Aku ingin bisa berenang.”

Mendengar jawaban Mayumi, Beniko mengambil kotak seukuran kotak pensil dari rak jajanan. Pada kotak itu tertera tulisan Permen Jeli Putri Duyung. Energi ajaib pada jajanan itu seakan sudah menghipnotis Mayumi. Dia sangat menginginkan kotak itu, apapun caranya.

Mayumi mendapatkan kotak Permen Jeli Putri Duyung dengan harga 10 yen. Mayumi mendekap dan membawanya pulang dengan bahagia.

Apakah Mayumi mendapatkan keinginannya? Apakah Mayumi akhirnya bisa berenang? Keajaiban apa saja yang ditemukan Mayumi pada kotak Permen Jeli Putri Duyung? Mayumi mungkin bisa wujudkan keinginannya jika membaca baik-baik kertas petunjuk pada kotak. 

Untuk bisa mengetahui akhir dari kisah Mayumi ini, Sahabat Pembaca harus baca buku ini. Akhir cerita Permen Jeli Putri Duyung ini dipenuhi ketegangan yang berakhir menarik. Sahabat pembaca, harus baca! 🤗

***

Buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 1 ini bukan sekadar cerita fantasi atau misteri. Menurut saya cerita dalam buku ini memiliki banyak pesan bermakna bagi pembacanya. Jadi buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh pembaca semua usia, baik  anak-anak, remaja, maupun dewasa.

Beberapa pesan bermakna itu, misalnya sebelum memakan atau menggunakan jajanan ajaib baca petunjuknya dengan saksama supaya apa yang diharapkan dapat tercapai. Saya rasa hal ini sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita sering tergesa-gesa mengonsumsi atau menggunakan suatu barang tanpa membaca petunjuknya terlebih dahulu. Ketika terjadi kesalahan barulah kita sadar kesalahan kita dan menyesal. Mengapa kita tidak membaca petunjuknya terlebih dahulu?

Toko jajanan ajaib hanya bisa dikunjungi satu kali oleh setiap orang sesuai keinginan Nyonya Beniko. Tidak bisa membeli jajanan ajaib untuk kedua kalinya. Keberhasilan dan kelanggengan hasilnya tergantung pada si pembeli jajanan ajaib.

Jajanan ajaib mampu mewujudkan keinginan seseorang. Tetapi ketika keinginan itu telah terwujud, tetaplah “membumi” artinya tetap rendah hati dan tidak sombong. Jika terjadi sebaliknya, harus siap kembali seperti semula, seperti saat sebelum mendapatkan jajanan ajaib dari toko jajanan ajaib Zenitendo.

Apakah dalam cerita buku Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 1 ada cerita hantu? Ada. Saya tergesa membacanya, takut😆. 

Cerita ketiga berjudul Es Berhantu. Pasti ada hantu-hantunya, saya agak seram mengisahkannya. Yuk langsung baca buku ini, Sahabat Pembaca! Meski ada hantu, tetap masih aman dibaca oleh usia anak. 

Ditulis oleh Paskalina Askalin 

Data Buku

Judul: Toko Jajanan Ajaib, Zenitendo 1

Penulis: Reiko Hiroshima

Ilustrator: Jyajya

Penerbit: Penerbit POP, Imprint KPG

Cetakan: keempat, 2024

Harga: Rp 70.000

Resensi Buku: Yang Unik dan Menarik dari Buku Terima Kasih, Otta!

Review Buku: Yang Unik dan Menarik dari Buku Terima Kasih, Otta!

Buku Terima Kasih, Otta! berisi 10 dongeng anak tentang kebaikan. Nilai kebaikan selalu menarik untuk diangkat menjadi tema sebuah cerita. Kebaikan itu sifatnya universal, siapa pun, apa pun, bisa memberikan kebaikan untuk lingkungan sekitarnya.

Dongeng pertama berjudul “Sayur! Sayur! Siapa Beli?” mengisahkan tentang Bengi dan Danil yang membantu Kakek Beki menjual sayuran. Bengi dan Danil tergerak hati membantu karena melihat tidak ada satupun yang membeli sayuran Kakek Beki. Akhirnya dengan bantuan Bengi dan Danil sayuran yang Kakek Beki habis terjual.

Ada keunikan dari dongeng “Sayur! Sayur! Siapa Beli?” yaitu mengangkat kearifan lokal pasar terapung. Mungkin akan lebih baik jika diberi penjelasan tentang pasar terapung sehingga ketika orang tua membacakan dongeng dapat sekaligus memberikan pengetahuan pada anak.

Dalam salah satu dongeng ada yang memasukkan unsur permainan tradisional atau mainan tradisional. Dongeng ini menjadi menarik selain memberikan pesan kebaikan juga memberikan pengetahuan atau mengenalkan pada anak tentang permainan atau mainan tradisional.

Baca juga: Resensi Buku Toko Jajajan Ajaib Zenitendo 1

Dongengnya berjudul “Mainan Rusak Ombi”. Dongeng ini mengisahkan tentang mainan milik Ombi yang terbuat dari kulit semangka rusak. Hal itu membuat Ombi sangat sedih. Kemudian Ruru dan Zea, teman Ombi, mengajak Ombi membuat mainan dari pelepah daun pisang. Mereka membuat mainan kuda-kudaan dari pelepah daun pisang.

Jika memiliki pohon pisang di sekitar rumah, usai membacakan buku ini orang tua dapat mengajak anaknya membuat kuda-kudaan seperti dalam dongeng. Hal ini dapat menambah ketertarikan anak pada buku dan bonding orang tua-anak.

Yuk, Mengobrol! bagian untuk bahan diskusi/tanya jawab usai membaca dongeng

Satu lagi yang menarik dari buku dongeng Terima Kasih, Otta!. Setiap dongeng diakhiri dengan dua pertanyaan yang bisa digunakan oleh orang tua untuk berdiskusi dengan anak. Bagian diskusi atau tanya jawab tentang dongeng ini sebenarnya yang paling penting dalam proses membacakan buku untuk anak. Melalui tanya jawab ini dapat menciptakan bonding antara orang tua dan anak. Selain itu juga dapat menanamkan nilai-nilai karakter.

Baca juga: Ketagihan Baca Cerita dari Let’s Read

Buku Terima Kasih, Otta! saya rekomendasikan untuk orang tua yang mempunyai sedikit waktu untuk membacakan buku untuk anak-anak. Orang tua yang terlalu lelah dengan rutinitas aktivitas keseharian, juga saya rekomendasikan membacakan buku Terima Kasih, Otta!. Kenapa? Saya rekomendasikan buku Terima Kasih, Otta! karena 10 dongeng dalam buku Terima Kasih, Otta! ceritanya singkat dan padat. Setiap dongeng terdiri atas 5 halaman, sehingga tidak butuh waktu untuk membacakan setiap  dongengnya.  Orang tua dapat lebih banyak melakukan tanya jawab setelah membacakan dongeng menggunakan pertanyaan yang ada atau pertanyaan yang menyesuaikan kondisi atau pengalaman yang dialami anak.

Membacakan buku bermanfaat buat anak. Membacakan buku bisa cukup melelahkan bagi orang tua. Tapi rasa lelah itu akan terbayar dengan keajaiban yang terjadi kemudian. – Paskalina Askalin –

Membacakan buku bermanfaat buat anak. Membacakan buku bisa cukup melelahkan bagi orang tua. Tapi rasa lelah itu akan terbayar dengan keajaiban yang terjadi kemudian.

Paskalina Askalin

Data Buku
Judul: Terima Kasih, Otta!
Penulis: Wylvera W., dkk
Ilustrator: Rifqah Mufidah
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan Pertama, Februari 2024
Harga: Rp 54.000
Beli Buku Terima Kasih, Otta!

Book Review: Yuk Keliling Nusantara Mengenal Kekayaan Peribahasa di Nusantara

Judul: Yuk Keliling Nusantara 38 Peribahasa Nusantara
Penulis: @yukkelilingnusantara

Kalau saya bicara tentang peribahasa pasti ingat dengan dua peribahasa ini.

▶️ Tong kosong nyaring bunyinya
▶️ Tak ada gading yang tak retak

Sahabat, pasti tahu arti dua peribahasa itu, bukan. Peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya” berarti orang yang bodoh biasanya banyak bualnya (cakapnya), sedangkan peribahasa “tak ada gading yang tak retak” berarti tidak ada sesuatu yang tidak ada cacatnya.
Peribahasa biasa digunakan orang dalam percakapan untuk mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung.

Misalnya:
“Ah, kamu itu tong kosong nyaring bunyinya.”
“Sudahlah, jangan terlalu menyalahkan dia, tak ada gading yang tak retak.”

Menurut KBBI Luring, (1) peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan), (2) peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.

Jika Sahabat tahu arti peribahasa dalam bahasa Indonesia, bagaimana dengan peribahasa-peribahasa di bawah ini? Tahukah Sahabat asal daerah dan arti peribahasa ini?

(1) Biar parau buruk tetap bertambat di pengkalen
(2) Ibarato ujan umban ke gunung, mpuak besighak kidau kanan tunggal ke batang aki
(3) Se adhagang adhaging
(4) Fa paragon as sepa, mai dad uka moya
(5) Kina susurano bulengan
(6) Mopotuwawu kalibi, kuali,wawu pi’ili

Kalau Sahabat tahu bahasa daerah dari peribahasa di atas, tentu Sahabat akan tahu artinya. 😊 Peribahasa di atas saya kutip dari buku (lembar aktivitas) Yuk Keliling Nusantara: 38 Peribahasa Nusantara yang ditulis oleh @yukkelilingnusantara.

Setiap daerah di Nusantara mempunyai kekayaan bahasa yang luar biasa. Hal ini tentunya juga memperkaya khazanah peribahasa Nusantara.

Kalau Sahabat ingin mengetahui lengkapnya 38 Peribahasa Nusantara, sahabat bisa mengunduhnya di sini 👇

UNDUH PDF 38 PERIBAHASA NUSANTARA

Sekarang, yuk kita bedah arti peribahasa dari enam daerah di Nusantara.

Peribahasa “biar parau buruk tetap bertambat di pengkalen” berasal dari Bangka Belitung. Arti peribahasa ini adalah biar perahu buruk tetap berlabuh di dermaga, memaafkan kesalahan orang lain adalah kunci menjaga hubungan.

Peribahasa “Ibarato ujan umban ke gunung, mpuak besighak kidau kanan tunggal ke batang aki” berasal dari Bengkulu. Arti peribahasa ini adalah seperti air hujan jatuh ke gunung, walau memancar ke kiri dan ke kanan, akhirnya bersatu di sungai. Ragam pendapat bersatu dalam musyawarah mufakat.

Peribahasa “se adhagang adhaging” berasal dari Jawa Timur. Arti peribahasa ini adalah kalau berdagang haruslah berdaging, kalau bekerja haruslah berhasil.

Peribahasa ” fa paragon as sepa, mai dad uka moya” berasal dari Maluku. Arti peribahasa ini adalah seperti anjing menggonggong tetapi tidak menggigit.

Peribahasa “Kina susurano bulengan” berasal dari Sulawesi Utara. Arti peribahasa ini adalah tanggung jawab sudah terpenuhi.

Peribahasa “Mopotuwawu kalibi, kuali,wawu pi’ili” berasal dari Gorontalo. Arti peribahasa ini adalah menyatukan hati, perkataan, dan perbuatan.

Sahabat kini tahu arti peribahasa dari enam daerah di Nusantara. Jika ingin tahu lebih banyak tentang 38 Peribahasa Nusantara, Sahabat bisa mengunduhnya di sini☺️👇

UNDUH PDF 38 PERIBAHASA NUSANTARA

Kenapa buku ini dijual dalam bentuk PDF? Mungkin Sahabat bertanya akan hal itu. Buku Yuk Keliling Nusantara: 38 Peribahasa Nusantara mempunyai misi lain selain memperkenalkan peribahasa yang ada di daerah-daerah di Nusantara. Apa misinya? Misi lain buku ini adalah latihan menulis. Sambil memahami peribahasa dari berbagai daerah di Nusantara, Sahabat bisa mengajak anak, ponakan, dan adik untuk latihan menulis. Karena itulah, buku ini dijual dalam bentuk PDF, supaya Sahabat bisa mencetak sendiri lembar demi lembar sesuai kebutuhan.

Tampilan Isi Buku



Unduh PDF-nya pada link di bawah ini.

UNDUH PDF 38 PERIBAHASA NUSANTARA

Ulasan Buku Hello Kiddo: Sepuluh Anak Indian

Buku Sepuluh Anak Indian bercerita tentang sepuluh anak Indian yang sedang bermain didatangi oleh seekor beruang besar. Sepuluh anak Indian tidak takut takut pada beruang itu. Mereka malah ingin mengajak beruang menari dan bermain bersama.

Secara bertahap anak Indian mendatangi beruang. Pertama-tama yang datang adalah 3 anak Indian datang menemui beruang untuk mengajak bermain. Tetapi, si Beruang tidak berminat untuk bermain.

Satu, dua, tiga.
Tiga anak Indian mendekati beruang itu!
Apa yang akan mereka lakukan, ya?

Lalu, yang datang menemui beruang adalah 6 anak Indian. Enam anak Indian menggelitik beruang, tetapi beruang tidak bereaksi sama sekali.

Kemudian, 9 anak Indian datang mendekati si beruang. Kesembilan anak Indian itu mengagetkan si beruang. Beruang itu tidak bergerak sedikit pun.

Continue reading “Ulasan Buku Hello Kiddo: Sepuluh Anak Indian”