Model Belajar si Kakak, Model Belajar Anak Zaman Sekarang

Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya. Saat anak-anak lahir, saat itulah orangtua “bersekolah” menjadi orangtua.

Dulu, saat saya masih kuliah di Kota Gudeg, saya selalu santai menghadapi waktu ujian atau tes semester.  Saya lihat teman-teman begitu sibuk buka-buka buku atau tanya sana sini.
Saya selalu santai menghadapi ujian, karena saya sudah persiapkan beberapa hari sebelumnya. Entah saya penganut cara belajar apa, pokoknya saat akan ujian saya ingin hadapi dengan tenang, tidak grusa-grusu. Hasilnya, saya lulus cepat kurang dari 4 tahun dan meninggalkan jauh sahabat-sahabat dekat saya di kampus.

Omong-omong tentang model belajar atau cara belajar, saya sebagai orang tua, agak kesulitan mendampingi anak belajar zaman sekarang. Si Kakak, anak saya yang masih kelas satu, paling susah kalau disuruh belajar.
Perlu waktu dan tenaga ekstra untuk mengajaknya belajar. Belajar dalam arti mengulang pelajaran untuk persiapan penilaian esok harinya.
Setelah akhirnya mau belajar, si Kakak bisa diajak kerja sama untuk belajar. Bahan materi yang harus dipelajari bisa dipelajari si Kakak. Tapiโ€ฆ nah ada tapinya๐Ÿ™„๐Ÿ˜„

Gaya atau model belajar si Kakak tidak bisa disamakan dengan anak lain. Saya dan Pak Suami harus bisa menyesuaikan diri.
Bisa dilihat di foto berikut ini.

Si Kakak didampingi oleh Pak Suami sedang belajar matematika. Karena besok akan ada penilaian matematika. Meskipun sekolah masih dilakukan secara daring, penilaian tetap harus murni penilaian.

Si Kakak belajar sambil tiduran? Jika dihadapi dengan amarah, rasanya kesel banget. Anak tidak belajar sesuai mau kita atau sesuai keadaan normal, malah tiduran.

Saya akhirnya menyadari dan Pak Suami juga sepertinya tak ingin “ambil pusing”, yang penting proses belajar terlaksana.

Saat ini saingan orangtua dalam mengasuh adalah gawai. Menurut saya, sebagai orangtua kita tidak perlu ngotot meminta anak melakukan sesuai mau kita. Setiap anak unik. Setiap anak punya cara untuk bersikap dan berperilaku. Yang penting hasil akhirnya sama, meskipun caranya berbeda.

Lain hari, si Kakak harus belajar untuk penilaian bahasa Indonesia tentang kalimat ajakan dan kalimat pujian. Meminta si Kakak duduk tenang lalu berlatih materi yang akan dinilai adalah kesulitan tersendiri. Ya sudahโ€ฆ saya menyesuaikan. Tanpa menghentikan aktivitas bermain si Kakak, saya mengetes materi yang dinilaikan secara lisan.
Misalnya,
– Kakak, buat kalimat ajakan untuk mengajak temanmu berenang
– Kakak, tulis kalimat pujian untuk sepeda baru Juan
-Kakak, kalimat ini termasuk kalimat apa, “Wah, sepatunya bagus sekali.”

Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya. Saat anak-anak lahir, saat itulah orangtua “bersekolah” menjadi orangtua. Saya sering terkesima dan tersadar menyadari anak saya sudah bukan balita lagi. Saya harus bisa mengikuti perkembangan usianya. Dan, mau tidak mau, saya harus terus belajar menjadi orangtua yang bisa bekerja sama dengan anak.

Visited 60 times, 1 visit(s) today