Kenan dan Kereta

Dulu dan sekarang masih sama, ternyata. Kata mereka dulu ketika saya kecil paling hobi lihat kereta lewat. Dan sekarang, anak saya pun sama, seharian ini bolak-balik ke dekat rel kereta untuk menikmati pemandangan kereta lewat dari jarak dekat.

Bukan sebuah kebiasaan bagus, saya sadari itu. Kewaspadaan harus  menjadi prioritas. Melihat kereta dari jarak dekat (kurang dari 5 meter) adalah sebuah bahaya. Harapan saya ini hanya terjadi hari ini. Besok Kenan mulai terbiasa dengan keadaan di sini, terbiasa dengan deru kereta yang lewat setiap beberapa menit sekali.
Continue reading “Kenan dan Kereta”

​Sebuah Perjalanan: Kertajaya

#day1 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro

Setelah sekian lama, hari ini aku melakukan mudik Lebaran ke Bojonegoro. Ini bukan sebuah kebiasaan, demi silahturahmi keluarga, demi keinginan ibuku.
Mudik Lebaran, aku menamainya sebuah kisah PULANG.

Aku lahir di kota kecil ini. Aku menyelesaikan sekolah dasarku, kelas VI di SD Klangon 1 Bojonegoro, dan aku menyelesaikan SMP-ku di SMPN 2 Bojonegoro. Banyak kisah dan cerita selama 4 tahun aku di Bojonegoro. Tetapi kisahku belum terjalin lagi hingga saat ini. Kisahku hanya milikku sendiri.

Bojonegoro adalah kota kelahiranku, kota kelahiran ibuku dan juga adikku. Bojonegoro, kota kecil tempat aku pulang ketika aku merantau kuliah di Yogyakarta. Bojonegoro, melukis indah di ingatan dan hatiku.

Sekarang, aku pulang. Membawa serta buah cintaku. Ini kepulanganku yang kedua, setelah 2 tahun lalu, aku membawa serta buah hatiku pulang.

Anakku kini akan memiliki kisahnya sendiri tentang Bojonegoro.

16 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

Sebuah Catatan: Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017

foto bersama
Berfoto bersama penulis buku terbilih, panitian dan pejabat berwenang dari  Badan Bahasa.

Menjadi bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) itu membanggakan buat saya. Seluruh proses yang berliku saya nikmati dengan penuh bahagia. GLN ini memperkuat alasan saya untuk kembali menjelajah rimba literasi. Ketika waktu menulis sudah mengejar saya, saya putuskan tak ada lagi title karyawan tersemat di dada saya. Saya penulis maka saya akan menjalani pilihan saya dengan bahagia.

Saya lupa, tanggal berapa saya mendapat kabar tentang sayembara penulisan bahan bacaan ini. Yang pasti, setelah itu pikiran saya tertuju pada tema buku yang mau saya tulis.

Saya akhirnya putuskan untuk mengambil tema kuliner. Dengan berbekal hasil foto dari jepretan kamera sendiri, saya menulis buku tentang jajanan tradisional. Satu bulan, kemudian waktu diperpanjang lagi, masih terasa kurang, di detik-detik terakhir akhirnya harus berjuang  mati-matian menyelesaikan dua naskah buku.

Pada  20 April 2017, saya menuju ke Kantor Badan Bahasa untuk menyerahkan dummy buku saya. (Terbayang 2 hari sebelumnya, begadang tanpa tidur hanya ditemani kopi, demi mencapai deadline.) Tanggal 21 April 2017 saya susulkan buku kedua saya untuk ikut dalam sayembara. Selanjutnya berserah pada Tuhan.

Jawaban Tuhan datang 17 Mei 2017, ada judul buku saya didaftar buku terpilih, Puji Tuhan! Tetapi proses masih berlanjut. Menurut kabar-kabar yang beredar, hadiah akan diberikan September. Yahhhh mau bagaimana lagi, aturan-aturan panitia tidak bisa dilanggar.

Pada 26 Mei 2017, ada undangan dari Badan Bahasa. Isinya, mengundang penulis buku yang terpilih untuk hadir pada acara Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017 yang diselenggarakan 6 – 8 Juni 2017 di LPMP DKI Jakarta.

MENGATAK
Menulis dan mengatak

Setelah undangan muncul dipos-el, terbentuklah grup wa Penulis GLN 2017. Ada banyak polemik yang terjadi dalam percakapan di grup wa, salah satunya keharusan pengumpulan naskah dalam bentuk fail word, pdf, dan indesign. Bagi saya pribadi itu bukan mssalah, karena Indesign sudah saya kenal sejak tahun 2008. Tetapi bagi mereka para penulis, yang tidak lahir dari dunia penerbit, akan sedikit kelimpungan memenuhi keinginan panitia. Penulis harus menjadi pengatak masing-masing.

Syukur pada Tuhan acara Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017 bisa berjalan dengan lancar. Walau masih ada sedikit kekecewaan karena tidak membawa pulang hadiah, saya rasa setiap penulis yang hadir dalam pertemuan itu pastilah bisa menangkap makna dan manfaat, walaupun berbeda-beda bentuknya.

GLN1.jpg
Berfoto bersama sahabat baru #room1
GLN2
Teman sekamar #ROOM1

Setelah pertemuan itu saya jadi berteman dengan KATAK (pengatak) dan tergabung dalam ROOM 1. Apa itu? Tunggu postingan saya selanjutnya.

#salamliterasi

#gerakanliterasinasional

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

#GLN2017

 

Pengatakan Memiliki Kata Dasar Atak

Pengatakan memiliki kata Dasar Atak

Kata pengatakan belum lama saya pahami. Kata inu begitu sering  diucapkan dalam suatu grup wa yang saya ikuti karena buku saya terpilih dalam   sayembara yang diadakan Badan Bahasa.

Saya sudah lama berkecimpung di dunia editorial buku. Namun, kata pengatakan masih asing di telinga saya. 

“Bapak dan Ibu bisa bekerja sama dengan pengatak untuk mengatak naskah Bapak dan Ibu,” kata panitia sayembara.

Kemudian salah seorang berkomentar, “Kata pengatakan itu apa artinya ya, jika kata dasarnya katak, saya tidak menemukan arti yang cocok di Kamus Besar Bahasa Indonesia.”

Tentu saja dia tidak akan menemukan arti kata katak yang berkaitan dengan naskah atau buku, kata saya dalam hati. Awalnya saya juga mengecek kata dasar katak. Namun ternyata salah, kata dasar pengatakan adalah atak.

Atak merupakan istilah bidang grafika

Atak artinya (1) komposisi; tata letak, (2) tata letak huruf yang akan dicetak.

Turunannya, mengatak; pengatakan.

Tetapi jujur, saya tetap nyaman dengan penggunaaan kata layout dan layouter atau setting dan setter

Saya membayangkan apa yang terjadi ketika saya berkata pada seorang setter, “Pengatakan buku saya tolong dipercepat.” Mungkin setter itu menganggap saya salah ucap atau salah ketik.

Saya sadari betul, penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar merupakan suatu wujud kecintaan kita pada Indonesia. Di masa mendatang, pasti istilah pengatakan tidak lagi menjadi istilah yang langka. Semua masyarakat bisa paham bahasa Indonesia secara lebih mendalam.

#salamliterasi #paskalinaaskalin

#day1 #juni #nulis #sukasuka

Tentang Harapan

(1) Setiap orang harus punya harapan. Karena memiliki harapan sama artinya dengan memiliki hidup.

(2) Harapan membuat kita kuat. Karena memiliki harapan itu sama dengan punya masa depan.

(3) Ketika seorang berkata, AKU INGIN HIDUP 1000 TAHUN LAGI, itu berarti orang itu punya harapan. Walau secara sadar orang itu tahu hidupnya divonis 3 bulan lagi. Tetapi orang itu punya harapan, masih ada Tuhan yang mampu memberi keajaiban.

(4) Harapan tanpa perjuangan hanya omong kosong belaka.

APA HARAPANMU SAAT INI?