Book Review: Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa

Judul Buku : Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa ~ Penulis : Lie Shi Guang ~ Penerbit : Penerbit Andi ~ Tahun terbit : 2010 ~ Tebal : xxii + 250 hal ~ ISBN : 978-979-29-1405-4

=========================
Kita tentu mengenal istilah yin dan yang. Konsep yin dan yang berarti keseimbangan hidup antara kekayaan dan kebahagiaan. Konsep yin dan yang ini telah ada ribuan tahun yang lalu dan bersumber dari Kitab Perubahan (I-Ching). Bagi orang Tionghoa, kesuksesan hidup adalah keseimbangan yin-yang.

Buku Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa mengupas secara tuntas 8 rahasia kaya dan sukses pebisnis Tionghoa. Tiga rahasia dari delapan rahasia tersebut adalah kerja keras dan penuh semangat; memiliki motivasi kuat; dan cepat bertindak.

Untuk meraih kesuksesan, seseorang harus mau bekerja keras dengan penuh semangat. Tanpa kerja keras sukses tak akan teraih. Kemudian, seorang yang ingin sukses juga harus memiliki motivasi yang kuat. Orang Tionghoa sukses dalam berbisnis karena mereka merupakan orang yang penuh motivasi dan mendapat didikan hidup prihatin sejak kecil.

Kerja keras dengan semangat dan motivasi tinggi membangkitkan seseorang untuk bertindak cepat. Seorang pebisnis Tionghoa jarang menyia-nyiakan kesempatan setelah ia benar-benar menyakini kesempatan tersebut, apalagi jika kesempatan tersebut merupakan kesempatan emas yang sangat menguntungkan. Oleh karena itu, ketika melihat kesempatan, pebisnis Tionghoa akan bertindak cepat.

Lima rahasia lainnya, tentu dapat semakin menambah wawasan Anda dan mengembangkan semangat bisnis Anda. Baca lebih lengkapnya dalam buku ini.

Dapat dibaca juga di www.wisata-buku.com

Legenda dari Jawa Barat: Situ Bagendit

Situ Bagendit

Legenda dari Jawa Barat.

Pada zaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi. Continue reading “Legenda dari Jawa Barat: Situ Bagendit”

KASIH IBU (HC. Andersen)

***************************

Kasih Ibu

HC. Andersen

***************************

Wali Kota berdiri di dekat jendela yang terbuka. Ia memakai kemeja licin berkanji, bros di renda kemejanya, dan mukanya dicukur sangat bersih. Ia mencukurnya sendiri. Wajahnya jadi tergores sedikit, tapi luka itu sekarang tertutup secarik kertas koran.

“Sini, Nak!” ia memanggil. Anak itu tidak lain anak si wanita tukang cuci, yang saat itu kebetulan lewat dan dengan penuh hormat melepas topinya. Paruh topinya sudah patah sehingga topi itu bisa dilipat dan dimasukan saku. Bocah yang memakai baju compang-camping tersebut berdiri diam. Pakaiannya bersih dan ditambal sangat rapi. Dengan memakai sepatu kayu yang berat, ia berdiri tegap bagai berhadapan dengan raja.

“Hebat sekali kau!” ujar Wali Kota.

“Anak yang baik! Ibumu pasti sedang mencuci baju di kali, dan minuman keras di sakumu pasti untuknya. Ibumu payah! Beberapa banyak yang kau bawa?”

“Setengah liter, Pak!” sahut anak itu, engan suara lirih dan ketakutan.

“Dan tadi pagi ia minum sebanyak itu juga?” sang wali kota melanjutkan.

“Tidak, itu kemarin, Pak!” bocah itu menjawab.

“Dua kali setengah liter berarti satu liter! Ia sama sekali tak berguna! Orang-orang kelas rendah memang payah. Bilang pada ibumu ia mestinya malu. Dan jangan sampai kalau jadi pemabuk ya. Tapi kurasa bagaimanapun kau bakal jadi pemabuk. Anak yang malang! Sekarang pergilah.”

Anak itu pun pergi. Ia terus memegang topi, dan angin meniup rambutnya yang kuning sehingga tegak di kepalanya. Ia menyusuri jalan, berbelok memasuki gang, dan berjalan menuju kali tempat ibunya berdiri di dalam air di samping papan cuci. Air kali mengalir deras karena pintu bendungannya dibuka. Kain-kain terbawa arus dan nyaris menjungkirbalikan papan cuci. Si tukang cuci terpaksa berpegangan kuat-kuat.

“Tenagaku hampir habis!” serunya. “Untung saja kau datang, aku butuh penyegar. Dingin sekali di dalam air. Aku sudah enam jam berdiri di tempat ini. Ada yang kau bawa untukku?”

Si bocah menyeluarkan botol dan ibunya menempelkannya di bibir lalu meneguk isinya. “Oh, enak sekali! Badanku jadi hangat! Rasanya seenak makanan panas, dan harganya lebih murah. Minum, anakku! Kau tampak begitu pucat, kau mungkin kedinginan, cuman mengenakan pakaiaan tipis seperti itu! Padahal sekarang musim gugur. Oh, dinginnya air ini! Semoga aku tidak sakit. Tidak akan. Biar aku minum lagi, dan kau juga, tapi sedikit saja, kau tidak boleh membiasakan diri minum, anakku yang malang.” Continue reading “KASIH IBU (HC. Andersen)”