Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung

Ki Sarmin adalah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia amat baik hati dan suka membantu. Suatu ketika, musibah menimpanya. Tiba-tiba saja kakinya lumpuh dan tidak ada yang mampu menyembuhkan. Ki Samir tabah dan sabar menghadapi hal itu. Ia banyak berdoa kepada yang Maha Kuasa supaya diberikan kesembuhan.

Pada suatu malam, seorang lelaki tua mendatangi Ki Sarmin dalam mimpi. Lelaki tua itu berkata: “Kalau ingin penyakitmu sembuh, pergilah engkau seorang diri ke kaki Gunung Karang. Temukan satu batu cekung, lalu bertapalah selama empat puluh malam diatas batu itu. Di akhir tapamu, air panas akan memancar dari batu itu. Mandilah engkau dengan air itu pun akan sembuh.” Continue reading “Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung”

Legenda dari Jawa Barat: Situ Bagendit

Situ Bagendit

Legenda dari Jawa Barat.

Pada zaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi. Continue reading “Legenda dari Jawa Barat: Situ Bagendit”

KASIH IBU (HC. Andersen)

***************************

Kasih Ibu

HC. Andersen

***************************

Wali Kota berdiri di dekat jendela yang terbuka. Ia memakai kemeja licin berkanji, bros di renda kemejanya, dan mukanya dicukur sangat bersih. Ia mencukurnya sendiri. Wajahnya jadi tergores sedikit, tapi luka itu sekarang tertutup secarik kertas koran.

“Sini, Nak!” ia memanggil. Anak itu tidak lain anak si wanita tukang cuci, yang saat itu kebetulan lewat dan dengan penuh hormat melepas topinya. Paruh topinya sudah patah sehingga topi itu bisa dilipat dan dimasukan saku. Bocah yang memakai baju compang-camping tersebut berdiri diam. Pakaiannya bersih dan ditambal sangat rapi. Dengan memakai sepatu kayu yang berat, ia berdiri tegap bagai berhadapan dengan raja.

“Hebat sekali kau!” ujar Wali Kota.

“Anak yang baik! Ibumu pasti sedang mencuci baju di kali, dan minuman keras di sakumu pasti untuknya. Ibumu payah! Beberapa banyak yang kau bawa?”

“Setengah liter, Pak!” sahut anak itu, engan suara lirih dan ketakutan.

“Dan tadi pagi ia minum sebanyak itu juga?” sang wali kota melanjutkan.

“Tidak, itu kemarin, Pak!” bocah itu menjawab.

“Dua kali setengah liter berarti satu liter! Ia sama sekali tak berguna! Orang-orang kelas rendah memang payah. Bilang pada ibumu ia mestinya malu. Dan jangan sampai kalau jadi pemabuk ya. Tapi kurasa bagaimanapun kau bakal jadi pemabuk. Anak yang malang! Sekarang pergilah.”

Anak itu pun pergi. Ia terus memegang topi, dan angin meniup rambutnya yang kuning sehingga tegak di kepalanya. Ia menyusuri jalan, berbelok memasuki gang, dan berjalan menuju kali tempat ibunya berdiri di dalam air di samping papan cuci. Air kali mengalir deras karena pintu bendungannya dibuka. Kain-kain terbawa arus dan nyaris menjungkirbalikan papan cuci. Si tukang cuci terpaksa berpegangan kuat-kuat.

“Tenagaku hampir habis!” serunya. “Untung saja kau datang, aku butuh penyegar. Dingin sekali di dalam air. Aku sudah enam jam berdiri di tempat ini. Ada yang kau bawa untukku?”

Si bocah menyeluarkan botol dan ibunya menempelkannya di bibir lalu meneguk isinya. “Oh, enak sekali! Badanku jadi hangat! Rasanya seenak makanan panas, dan harganya lebih murah. Minum, anakku! Kau tampak begitu pucat, kau mungkin kedinginan, cuman mengenakan pakaiaan tipis seperti itu! Padahal sekarang musim gugur. Oh, dinginnya air ini! Semoga aku tidak sakit. Tidak akan. Biar aku minum lagi, dan kau juga, tapi sedikit saja, kau tidak boleh membiasakan diri minum, anakku yang malang.” Continue reading “KASIH IBU (HC. Andersen)”

Dongeng: Ikan Emas Ajaib

Dongeng dari Rusia

Zaman dahulu kala, di sebuah pulau bernama Buyan, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Pekerjaan si Kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Suatu hari ketika si Kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang terperangkap di dalamnya.

“Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si Kakek.

Dengan sekuat tenaga si Kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti layaknya manusia.

“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si Ikan Emas.

Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “Aku tidak memerlukan apapun darimu, tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”

Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, Nenek menanyakan hasil tangkapan Kakek.

“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itu pun sudah aku lepas kembali,” kata Kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa berbicara. Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”

“Lalu apa yang kau minta,” tanya Nenek.

“Tidak ada,” kata Kakek. Continue reading “Dongeng: Ikan Emas Ajaib”