Kehabisan Waktu untuk Menulis

#ibupenulis #diaryibupenulis #kehabisanwaktumenulis #curahanhati

Mungkin ini sebuah pernyataan yang sangat klise ketika seorang ibu di rumah yang mempunyai profesi sebagai penulis lepas atau freelance mengatakan jika tidak punya waktu untuk menulis. Tapi sungguh,terutama satu tahun belakangan ini saya merasa kehabisan waktu. Tidak ada waktu untuk menulis. Kalaupun bisa menulis tidak terlalu baik hasil tulisannya.
Mungkin tetap saja terdengar sangat klise, TIDAK ADA WAKTU untuk menulis. Tapi inilah yang terjadi. Di kepala ini rasanya begitu banyak kata-kata yang ingin dikeluarkan tetapi ketika pada akhirnya ada sedikit waktu untuk menulis, tidak bisa ditumpahkan dan kadang itu hanya menjadi lelehan air mata.
Mungkin semua ibu penulis pernah merasakan apa yang saya rasakan sekarang, mungkin, bisa juga tidak. Mungkin juga ini adalah fase yang harus dilewati dan ketika fase itu sudah terlewati akan ada kelegaan (bisa bebas menulis). Mungkin ketika anak saya sudah mulai besar, saya bisa bebas menulis. Saat ini anak ke-2 saya masih berusia 4 tahun. Saya tidak mungkin meninggalkannya (membiarkannya) dan tidak ingin juga saya berikan pada orang lain untuk mengasuhnya. Mungkin nanti jika anak saya sudah masuk SD, saya bisa lebih fokus menulis. Semuanya serba mungkin.
Mungkin semua ibu penulis melewati fase-fase ini.

  • Fase kesulitan menulis karena kehabisan waktu.
  • Fase kehabisan waktu menulis karena harus mengurus anak.
  • Fase tidak ada waktu tersisa karena harus mengurus pekerjaan domestik.
  • Fase kehabisan waktu karena harus mengurus orang tua lansia.
  • Fase kehilangan waktu menulis karena terjebak pada rutinitas.

MUNGKIN nanti ketika anak saya sudah beranjak mandiri, saya bisa sampai pada fase, bisa punya lebih banyak waktu untuk menulis. Mungkin, semoga saja.

Menulis itu Gampang

Menulis itu memang gampang, yang sulit adalah memulainya, membuatnya menarik, dan menjualnya. 😄

Nulis Buku Laris A la Yoris: Menulis Buku Laris Tidak Melulu Soal Menulis

Nulis Buku Laris A la Yoris: Tidak Hanya Menulis, Raih Perhatian Pembaca

Menulis Novel Best Seller: Editing, Tema, Kemasan, Menerbitkan

Menulis Novel Best Seller: Alasan, Ide, Dan Peta

Menulis Novel Best Seller: Karakter, Plot, Dialog, Setting

TULISKAN CERITAMU! (Panduan Menulis Pemula)

Menulis Fiksi Mini Langsung Bisa

Menulis Melegakan Hati Menurunkan Amarah

Suatu pagi menjelang siang, para Bapak tetangga berkumpul karena ajakan salah satu Bapak tetangga mendengar keributan dari sebuah rumah keluarga muda. Mereka betkumpul di depan rumah, sebelah rumah keluarga muda itu.

Terdengar sang wanita berteriak-teriak penuh amarah. Para Bapak tetangga hanya berkumpul saja di depan rumah, tidak bertindak apa-apa. Mungkin kalau dalam keributan itu terdengar “piring terbang” para bapak tetangga akan bertindak dan tidak membiarkan keributan itu.

Akhirnya keributan dari rumah keluarga muda itu terhenti, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semoga. Kemudian para Bapak membubarkan diri, termasuk Pak Suami.

Saya tidak bermaksud membahas tentang keributan dalam keluarga. Yang ingin saya bahas adalah semua orang siapa pun itu punya amarah, rasa marah, sekaligus juga punya rasa sabar. Amarah itu bisa ditahan hingga tidak menjadi meledak dengan rasa sabar. Tapi kemampuan seseorang dalam mengelola amarah itu berbeda-beda.
Amarah yang tidak terkelola akhirnya meledak, seperti yang terjadi pada keluarga tetangga. Pertengkaran dalam keluarga adalah hal biasa, tapi akan lebih baik jika tidak sampai terdengar oleh tetangga.

Saya juga punya amarah dan rasa marah. Tetapi saya mencoba menghalau dan meredakannya. Caranya? MENULIS.
Ya, dengan menulis saya bisa meredakan amarah.  Semua rasa dan amarah saya tumpahkan dalam tulisan. Isi tulisan bisa caci maki pada seseorang yang membuat kita marah, bisa juga berisi harapan dan keinginan yang tak terwujud.
Menulis menjadi sebuah kesenangan yang bisa melegakan hati sehingga bisa menurunkan kadar amarah. Amarah itu tidak akan hilang, hanya melesap dalam tulisan.

Continue reading “Menulis Melegakan Hati Menurunkan Amarah”

Selalu Ada Ketika Lebaran

​#day10 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro

Ketika Lebaran tiba, beberapa hal unik yang saya temukan adalah:

1. Mudik

Lebaran identik dengan mudik. Ketika Lebaran tiba bagi mereka yang merantau di kota lain akan segera merencanakan mudik ke kampung halaman. Mudik menjadi kesempatan untuk pulang bagi siapa saja yang jauh dari rumah orangtua.


2. Angpau

Angpau adalah amplop kecil yang diisi uang untuk hadiah. Pemberian angpau ini adat kebiasaan pada Tahun Baru Cina yang sudah diadopsi oleh siapa saja yang mau memberikan hadiah. Pada hari raya Lebaran mereka yang telah bekerja akan memberikan angpau pada keponakanya. Nenek  dan Kakek akan memberikan angpau pada cucu-cucunya.

Bagi anak-anak tentu yang paling bersemangat  adalah berburu angpau dari Om, Tante, Nenek, Kakek, dan saudara yang telah memiliki penghasilan.

3. Baju Lebaran

Bagi anak-anak baju Lebaran seperti sebuah kewajiban. Apalagi jika ia sudah berhasil menyelesaikan puasa sebulan penuh. Baju Lebaran menjadi hadiah yang membahagiakan buat anak-anak. Namun, biasanya orang dewasa pun tak mau ketinggalan untuk beli baju Lebaran.

4. Kue Lebaran

Lebaran tanpa kue rasanya tidak mungkin ya…  Ketika Lebaran tiba, ibu-ibu sibuk membuat kue-kue Lebaran. Ada macam-macam kue Lebaran, kue kering, kue putri salju, kue nastar, kue kacang, stick keju, dan masih banyak lagi. Tiap daerah memiliki makanan khas kue Lebaran masing-masing. 

5. Ketupat dan Opor Ayam

Ketupat dan opor ayam juga menjadi menu wajib di Hari Lebaran. Namun, tidak semua daerah menjadikan ketupat dan opor ayam sebagai menu wajib. Menu Lebaran biasanya menyajikan makanan daerahnya masing-masing. Di Jawa Timur, ada yang menyajikan nasi pecel, bakso, dan rawon sebagai menu wajib di hari Lebaran.

6. Silaturahmi Lebaran

Pasti akan ada silaturahmi dalam perayaan Lebaran. Lebaran menjadi saat yang tepat untuk bertemu dengan keluarga yang lama tak bertemu. Lebaran juga bisa menjadi waktu yang tepat untuk perdamaian bagi mereka yang berselisih.

Mudik, baju Lebaran, kue Lebaran, menyantap ketupat dan opor ayam tidak akan sempurna tanpa adanya silaturahmi Lebaran.  Jadi, jangan menjadi tak bersilaturahmi jika tidak ada kue Lebaran dan baju Lebaran. Silaturahmi-lah yang paling utama di hari Lebaran.

Selamat Idulfitri untuk saudaraku, sahabatku, dan teman-temanku yang merayakannya. Selamat merayakan Hari Lebaran, semoga ibadah puasa yang dijalankan diterima sehingga menjadikan hati dan jiwa kembali menjadi baru.
25 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayamenulis

#penulis

Rasa Tradisional, Sego Pecel hingga Kopi Hitam

​#day8 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #rasatradisional #traditionaltaste #kampunghalaman

Pulang ke kampung halaman, yang paling ingin dilakukan adalah mengulang masa lalu dengan mencicipi rasa tradisional minuman dan makanannya.

Pulang ke Bojonegoro yang paling saya rindukan adalah makan sego pecel, minum kopi asli buatan sendiri, dan sarapan serabi.

Sego pecel mengingatkan saya pada 22 tahun yang lalu, ketika simbah saya berjualan sego pecel setiap pagi. Rasa sambal pecelnya tiada duanya. Kini Simbah telah berpulang kembali pada Sang Pencipta, resep sego pecel sudah diadopsi oleh Bulik dan Budhe. Sego pecel buatan Bulik dan Budhe juga enak, cukup untuk mengobati rindu.

Kopi hitam buatan sendiri, selalu ada hingga kini. Simbah selalu membuat kopi sendiri. Kopi disangrai dengan kuali tanah, kemudian ditumbuk sendiri hingga halus. Rasa tradisional sungguh terasa jika minum kopi ini.
Continue reading “Rasa Tradisional, Sego Pecel hingga Kopi Hitam”