Sebenarnya ini kabar yang terlambat dikabarkan. Tapi saya rasa tidak masalah, walaupun terlambat kabar baik layak dibagikan dalam tulisan.
Tanggal 28 April kemarin ternyata diperingati sebagai Hari Puisi Nasional. Penetapan Hari Puisi Nasional ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah dalam mengapresiasi karya-karya puisi sang Penyair Legendaris Indonesia, Chairil Anwar, sekaligus mengenang wafatnya, 28 April 1949.

PANDUAN MENULIS PUISI UNTUK ANAK SD – GRATIS
Tahukah kamu puisi-puisi karya Chairil Anwar? Berikut ini tujuh puisi karya Chairil Anwar.
📌 Tujuh Puisi Chairil Anwar
Puisi 1
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Puisi 2
Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Puisi 3
Sia-Sia
Penghabisan kali itu kau datang
Membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Continue reading “Tujuh Puisi Karya Chairil Anwar: Selamat Hari Puisi Nasional 28 April”






Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.