Playground in Home

Halo ayah, ibu, om, tante, pakdhe, budhe… Siapa yang sudah merasa mulai jenuh menghadapi aksi anak-anak di rumah? Banyak pasti ya.. termasuk saya dan suami, setiap hari emosi sudah sangat memuncak. Teriakan, ocehan, omelan, terus terdengar. Namun teriakan, ocehan, omelan kita seakan tidak didengar, anak masih saja tidak bisa diatur, membuat rumah seperti kapal pecah terus-menerus, hingga rumah disulap menjadi playground.

Saya dan suami, sadar betul, emosi dan amarah bukan solusi untuk membuat anak menurut. Ingat, saat ini sedang terjadi pandemi yang mengharuskan kita di rumah saja. Sepanjang waktu berada di rumah itu sangat membosankan. Orang dewasa berada di rumah terus, lama-lama juga bosan. Apalagi anak-anak, rasa bosannya pasti sudah sampai puncak. Tetapi anak-anak bingung mengekspresikan rasa bosannya. Yang terjadi akhirnya anak membuat aksi imajinasi di rumah.

Kenan, usianya 5 tahun 4 bulan saat ini, rasa bosan di rumah tentu sudah menghinggapi hati dan pikiran sejak beberapa hari ini. Hasilnya, semua barang-barang di rumah menjadi jalan untuknya berekspresi mengusir kebosanan. 

Omelan saya sudah sering menggema, sebenarnya saya juga sudah berusaha menahan diri, menurunkan suara, menurunkan emosi, tapi akhirnya kadang meledak juga karena Kenan tak juga mendengar. Barang-barang di rumah, seperti kursi, bantal, gelas, sandal, sepatu, lap, dan lainnya dijadikan mainannya. Jika tak mengganggu aktivitas rumah, saya masih bisa menahan diri dan menahan emosi, tapi kemudian kursi tak bisa diduduki, atau yang dilakukan membahayakan keamanannya, saya pun mengomel dan berusaha mencegah Kenan melanjutkan aksinya. 

Saya jadi ingat konsep pembelajaran Montessori yang ditulis oleh Vidya Dwina Paramita dalam buku Jatuh Hati pada Montessori. Konsep itu adalah “follow the child“. Dalam konsep ini orangtua atau guru membebaskan anak mengeksplorasi sesuai keinginannya namun bukan berarti membiarkan anak sebebas-bebasnya. Ada batas yang harus dipegang oleh orangtua atau guru, yaitu aspek keamanan serta norma sopan santun dan kebaikan.

Saya pun ketika melarang atau meminta Kenan berhenti bermain atau bereksplorasi adalah ketika keamanannya terganggu dan melanggar kesopanan.

Sudah dua hari ini (hari ini hari kedua), Kenan membuat playground-nya sendiri di rumah. Kursi-kursi, bantal, dan kasur menjadi perlengkapannya membuat playground-nya. Saya yakin sekali, dalam imajinasinya Kenan sedang membuat playground seperti yang pernah dimainkannya di mal-mal. 

Aksinya pun dimulai. Kenan berlari kemudian mulai meniti satu per satu kursi yang sudah disusunnya bak anak tangga. Apa yang terjadi dengan saya? Saya pun memintanya berhati-hati, pelan-pelan, jangan lari, ahhhhh sebenarnya itu perkataan sia-sia, Kenan pasti akan berlari, tidak akan bisa pelan-pelan. 

Akhirnya saya menyerah. Saya membiarkan Kenan beraksi dengan playground-nya. Saya memperhatikan saja dan memotretnya. Puji Tuhan, masih aman-aman saja, Kenan beraksi tanpa terluka atau kejedot kursi. 

Foto-foto ini saya jepret kemarin, 15 Mei 2020.

Playground in home ternyata amat menyenangkan buat Kenan. Hari ini saya biarkan dia membangun kembali playground-nya. Playground itu sebuah kreativitasnya, jika dilarang malah jadi amarah dan emosi. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain, kapan pun dan di mana pun. Orangtua cukuplah mendukung anaknya berkreasi dan menjaga kreasinya aman dan tidak membahayakan.

Playground in home, baru satu aksi saja, masih banyak yang akan dilakukan Kenan di rumah. Saya nasihati diri saya untuk tetap sabar menghadapi aksi-aksi kreatif Kenan. Anak-anak perlu ditemani dan didukung. Selagi tak membahayakan dan mengganggu orang lain, saya dukung akan aksi Kenan. 

Di rumah saja, saat yang tepat untuk lebih mendekatkan anak dan orangtua, kakak dan adiknya, atau mengajak anak bermain sepuas-puasnya. 

Ayah, ibu, banyakin sabar saja ya.. tekan segala kebosanan dan ikat emosi dengan kencang sehingga tak meledak-ledak di mana-mana. Semoga pandemi segera berlalu… 

Menceritakan Kembali Fabel dari Provinsi Jambi – Harimau Pemakan Durian

Tip singkat: Jika Anda ingin menceritakan kembali sebuah cerita, baca cerita aslinya berulang kali, 2-3 kali baca, lalu tutup buku dan mulai menulis kembali cerita dengan gaya bahasa sendiri.

Suatu hari penduduk Desa Kemingking dihebohkan oleh hilangnya hewan ternak mereka setiap malam. Kepala desa memutuskan supaya setiap malam ada warga desa yang berjaga.

Hingga suatu malam ketika beberapa penduduk desa sedang berjaga malam terdengar suara tanda-tanda kedatangan pencuri ternak. Ketika penduduk desa hendak menangkap basah si pencuri, penduduk desa malah lari tunggang langgang. Pencuri itu ternyata seekor harimau.
Penduduk desa segera melaporkan hal tersebut pada kepala desa.

 

Continue reading “Menceritakan Kembali Fabel dari Provinsi Jambi – Harimau Pemakan Durian”

Bermain untuk Mengisi Waktu di Rumah

Anak usia 5 tahun mana mau diajak belajar terus, maunya pasti main-main dan main.

Seorang anak tetangga datang ke rumah hendak mengajak anak saya main. Dengan tegas saya katakan, “Maaf ya, Kenan tidak main.” Si anak ini memang berbeda dengan anak lain, sering keluar masuk rumah seluruh penghuni kompleks sehingga membuat penghuni kompleks enggan untuk membiarkan anak itu masuk. Kadang kala, saya membiarkan anak ini masuk. Namun, hari ini dan seterusnya hingga virus korona tak lagi terdengar saya tidak akan membebaskan orang, baik anak maupun siapa saja untuk keluar masuk rumah saya. Bukan sombong dan tak suka bertetangga, ini dilakukan demi keamanan keluaga saya dari terinfeksi COVID-19. Wabah belum berlalu gaes… tetap lakukan social distancing dan physical distancing.

Continue reading “Bermain untuk Mengisi Waktu di Rumah”

Menghabiskan Waktu di Rumah dengan Membaca Buku

Sudah hampir 3 pekan, kita berada di rumah. Banyak orangtua kerja dari rumah, semua anak-anak sekolah harus berada di rumah dan menjalani pembelajaran online. Bosan dan jenuh tentu sudah bisa kita rasakan, tetapi mau tidak mau kita harus menjalani hingga virus ini pergi dari bumi Indonesia.

Hari ini, 2 April, tepat diperingati sebagai Hari Buku Anak Sedunia. Di masa tanggap darurat yang mengharuskan semua orang berada di rumah,  baik sekali jika momen luar biasa ini dapat diabadikan melalui kegiatan membacakan buku anak untuk anak-anak yang belum bisa fasih membaca. Bagi anak-anak yang sudah mahir membaca, orangtua dapat membuat challenge dari aktivitas membaca di rumah.

Continue reading “Menghabiskan Waktu di Rumah dengan Membaca Buku”

Menghabiskan Waktu di Rumah, Mau Ngapain Aja?

Menurut data terakhir yang diperoleh dari https://corona.jakarta.go.id/id (diakses tanggal 1 April 2020) kasus positif korona mencapai lebih dari 1.600 orang. Setiap jam angka itu bisa berubah menjadi lebih banyak. Tentunya kita semua berharap dan senantiasa berdoa, wabah virus korona bisa segera berakhir. Amin

Kita semua tahu, bahwa penyebaran virus ini begitu cepat dan hanya kita sendiri yang bisa menghindarinya. Virus ini bisa ditularkan oleh siapa pun dan di mana pun. Oleh karena itu, dengan kita tetap berada di rumah dan melakukan social distancing kita sudah membantu Indonesia untuk memutus penyebaran virus korona. SO, STAY AT HOME YA GAES….

Sejak tanggal 16 Maret 2020, mulai diberlakukan kebijakan belajar di rumah untuk anak sekolah dan WFH (work from home) untuk para ASN maupun karyawan swasta. Semua masyarakat diminta (diperintahkan) untuk berada di rumah. Belum genap sebulan berada di rumah, rasanya sudah lama sekali, kebosanan sudah mulai menghantui.

Media sosial menjadi salah satu ruang untuk mengekspresikan kebosanan. Ada berbagai tantangan yang dilakukan di media sosial, entah tantangan serius hingga sebatas hiburan mengisi waktu.

Continue reading “Menghabiskan Waktu di Rumah, Mau Ngapain Aja?”