Gerakan Literasi Nasional kembali akan mempertemukan penulis-penulis dari seluruh Indonesia. Awal tahun 2019 ini semua penulis yang pernah memenangkan sayembara buku dari Badan Bahasa atau mendapat surat penunjukan langsung untuk menulis buku tentu amat menanti-nanti, sayembara penulisan buku seperti apa yang akan diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Ayo, masuk kamar. Mau dibacain buku apa?” Begitulah ajakan saya setiap malam ketika mau tidur. Bahkan ketika Kenan tidak mau tidur, rayuan membaca buku ini dan itu, bisa membuatnya menurut untuk masuk ke kamar.
Setiap malam, mulut saya harus siap membacakan paling sedikit 2 cerita atau dua buku bergambar. Nah, kebetulan beberapa hari ini, buku saya menjadi pilihan pertama untuk dibacakan. Saya senang sekali bisa memikat hati anak lanang melalui buku karya saya sendiri.
Kesal tidak jika melihat seorang anak, masuk ke rumah kita tanpa permisi, nyelonong begitu saja? Kalau saya kesal sekali, walaupun anak itu saya kenal. Dalam hati saya berucap, “Ini anak pasti tidak diajari tata krama sama orangtuanya.”
Fakta lain, sebuah keluarga (ayah, ibu, dan anaknya) bertamu ke rumah. Belum dipersilakan oleh yang punya rumah, si anak langsung aja mengambil makanan suguhan di meja, semua jenis makanan dicoba, padahal yang punya rumah belum mempersilakan. Saya yang melihat hal ini, sangat turut kesal juga. “Ini anak pasti tidak diajarkan tata krama oleh orangtuanya.”
Budaya tata krama lainnya yang sering diabaikan anak, misalnya meminta maaf saat berbuat salah, mengucapkan terima kasih saat diberi barang, mengembalikan barang yang dipinjam, meminta izin saat menggunakan barang milik orang lain, dan masih banyak lagi. Perkembangan karakter anak tergantung orangtuanya, jadi ketika seorang anak berbuat tidak sopan, bukan salah anak.
Kenan meniru saat saya membuat puding, mengupas telur, dan bekerja di depan laptop
Pendidikan karakter anak, tata krama salah satunya, dimulai dari orang-orang terdekat anak yaitu ayah, ibu, kakak, nenek, kakek, dan lainnya, dalam keluarga. Ketika pendidikan karakter itu tidak diterima anak dalam keluarganya, anak akan berperilaku jauh dari tata krama atau sopan santun.
Judul: Beras Tabanan – Perjalanan dari Lumpur hingga Dapur
Penulis: I Gusti Made Dwi Guna
Penerbit: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2018
Sinopsis Kover
Proses mengolah tanah untuk menanam padi di Bali sangat unik. Keunikan yang dimaksud mulai dari cara mengolah tanah, peralatan yang digunakan, hingga pemaknaan yang sangat memperhatikan keselarasan dengan lingkungan. Proses yang dijalani para petani di Bali dalam menanam, memelihara, hingga memanen padi menarik untuk kita ikuti. Perjalanan beras hingga siap disantap dapat kita simak dalam buku ini.
Judul: Kakek Bali Memasak
Penulis: Ni Kadek Heny Sayuti
Penerbit: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2018
Sinopsis Kover
Ning dan Tu Jenni adalah dua sahabat yang tumbuh bersama di sebuah desa di Pulau Bali. Ning senang memasak sementara Tu Jenni kurang terampil dalam memasak. Suatu hari, mereka tidak sengaja melihat Kakek Kerupuk yang terkena musibah. Bahan kerupuk yang akan diolah Kakek handur dicakar ayam. Ning dan Tu Jenni ingin membantu kakek, dan mereka mengalami peristiwa unik dalam membuat kerupuk klejat.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.