Bermain huruf dan kata dapat menjadi pilihan untuk mempersiapkan anak masuk sekolah SD atau PAUD/TK
Cerita Ibu di Rumah
Saat ada dua atau tiga anak berkumpul dan bermain, saya tidak bisa membiarkan mereka bermain begitu saja tanpa pengawasan. Jadi, buat para ibu yang anaknya bermain bersama anak-anak saya di rumah, pastilah dalam pengawasan saya. Seperti halnya kemarin, ada anak yang nanti mau masuk SD bermain dengan anak saya, yang sedang saya persiapkan untuk masuk TK. Lalu, ada si Kakak yang tahun ini duduk di kelas 4 tahun ini.
Biasanya si Kakak menjadi komandan buat adek-adeknya, tapi kali ini dia sedang tidak bergairah bermain. Inginnya si Kakak bermain dengan teman seusianya. Tetapi entah mengapa hari ini teman-temannya tidak ada yang nongol. Jadilah dia di rumah saja berteman ponsel.
Si Adek dan temannya akhirnya hanya bermain bebas , berlari-lari, bergelut, tidak punya tujuan dan tidak jelas. Apalagi semua mainan mobil yang ada, 80% saya simpan di luar rumah. Mereka bingung mau main apa hingga akhirnya saya ambil alih.
Ide arisan huruf sebenarnya sudah ada sejak pertengahan tahun 2018. Ketika itu anak saya, Kenan (3,5 tahun) ikut acara arisan ibu-ibu lingkungan. Belum lama sebelumnya, saya sudah membelikan Kenan magnet huruf.
Pulang dari arisan, tiba-tiba muncul ide di benak saya tentang arisan huruf. Ide itu saya katakan pada Kenan, dan ternyata dia tertarik dengan ide itu. ARISAN HURUF maksudnya adalah 26 huruf ditulis di kertas kecil lalu dilinting seperti kocokan arisan. Cara bermainnya adalah Kenan mengocok huruf itu dan mengambil 1 lalu membuka kertas. Misalnya huruf yang tertulis M, maka Kenan akan mengambil magnet huruf M di papan. Lintingan huruf dikocok lagi, huruf yang keluar akan dicari oleh Kenan. Begitu seterusnya, sampai Kenan mau berhenti bermain (paling lama bertahan 30 menit saja).
Persiapan Masuk PAUD: Mengenal Huruf Dimulai dari A I U E O
Hari ini saya mengajak anak saya yang berusia 4 tahun untuk beraktivitas mengenalkan huruf vokal a i u e o. Menurut beberapa sumber, untuk memudahkan anak mengenal huruf, mulailah dari huruf vokal dan kata yang diawali huruf vokal a i u e o.
Orangtua atau guru atau pendamping anak dapat membacakan atau melagukan/menyanyikan huruf vokal tersebut.
a untuk apel i untuk ikan itik u untuk unta, ular, ulat, uang e untuk ekor, ember o untuk obor, obeng, orang
Kalau kita melihat video-video cara belajar atau mengenalkan huruf lainnya tampak begitu sangat manis dan rapi videonya. Namun ketika dipraktikkan belum tentu semanis itu. Anak kadang mempunyai keinginan sendiri, beraktivitas dengan caranya sendiri. Cara yang kita berikan tidak menarik baginya.
Anak saya, Krisan, beraktivitas menarik garis
Untuk mengenalkan huruf vokal ini saya gunakan lembaran aktivitas yang dibuat langsung dengan perintah menarik garis, huruf vokal dengan kata yang diawali huruf vokal. Sebelum aktivitas menarik garis, saya nyanyikan (bacakan) terlebih dahulu huruf dan katanya. Tanpa diminta anak saya langsung mengikuti.
Bisa dikatakan aktivitas yang saya lakukan bersamanya hari ini berhasil mengenalkan huruf vokal walaupun belum 100%. Selanjutnya, saya memintanya menarik garis huruf vokal yang sama. Untuk menarik garis dan menemukan pasangan yang diminta, bisa dilakukan dengan baik oleh anak saya. Kemudian, saya mau mengakhiri aktivitas mengenal huruf bersamanya, karena ada banyak pekerjaan dapur menunggu🤭. Eh, tapi anak saya menulis sesuatu yang membuat saya terkesima. Anak saya membuat corat coret garis yang dikatakan sebagai huruf X. Woww, dia sudah mengenal huruf X. 😍
Anak saya, Krisan, menulis huruf X
Dia menulis huruf X berulang-ulang dan saya pun disuruhnya untuk menulis huruf X. Lalu, saya minta dia untuk menulis huruf O dan dia melakukannya dengan baik.
Dari aktivitas hari ini saya menyimpulkan bahwa saat mengenalkan huruf pada anak, kita tidak perlu berpatokan pada video yang sudah dilihat jutaan orang. Kita jadikan video-video viral itu sebagai referensi saja, saat mempraktikkan dengan anak, sesuaikan dengan keinginan anak kita. Lakukan aktivitas yang menyenangkan dan sesuai keinginan anak, bukan aktivitas sesuai keinginan orangtua.
Lakukan aktivitas yang menyenangkan dan sesuai keinginan anak, bukan aktivitas sesuai keinginan orangtua.
Pagi-pagi anak saya nangis karena ingin mainan punya temannya yang kemarin dia mainkan. Dengan polosnya dia bilang bahwa itu adalah mainan miliknya, bukan milik temannya.
Usianya bulan depan genap 4 tahun, masih dalam usia emasnya. Pada usia emasnya ini dia belajar banyak hal terutama dalam kaitan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Pikir saya, inilah saatnya saya mengajarkan salah satu tata krama dalam bermain, yaitu MEMINJAM dan MENGEMBALIKAN.
Saat anak saya menangis ingin mainan temannya, saya biarkan saja dulu sampai tangisnya mereda dengan sendirinya. Setelah tangis dan emosinya mereda, saya ajak berbicara perihal meminjam mainan dan harus mengembalikannya.
Apakah anak saya paham? Paham. Dia paham dengan caranya sendiri.
“Kalau Adek meminjam mainan teman, berarti Adek harus mengembalikannya selesai bermain.”
Berulang kali saya ucapkan kalimat itu hingga dia ikut mengucapkannya. Beberapa hari ke depan persoalan meminjam mainan ini pasti akan terus ada. Karena baru di bulan Februari ini di saat usianya akan genap 4 tahun saya mulai membebaskannya untuk bermain sendiri ke rumah teman sebayanya alias rumah tetangga.
Setiap kali dia pulang bermain, saya pasti akan bertanya atau meminta dia bercerita bermain apa dan bagaimana dia diperlakukan.
Hari ini dia belajar tata krama tentang meminjam dan mengembalikan, besok dan besoknya lagi akan banyak tata krama yang dipelajarinya.
Dalam konten ini saya ingin menceritakan bagaimana aktivitas mengenalkan huruf dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Aktivitas “menyenangkan” bagi setiap anak tentunya berbeda-beda. Aktivitas yang dilakukan anak saya, menyenangkan baginya, belum tentu menyenangkan bagi anak yang lain.
Aktivitas mengenalkan huruf yang saya berikan menyesuaikan keadaan dan ide yang muncul seketika saat melihat aktivitas anak saya. Anak saya sangat aktif, suka sekali bergerak alias tidak bisa diam. Oleh karena itu, perlu aktivitas yang bergerak untuk bisa membuatnya tertarik pada sesuatu. Lalu, muncullah ide taman alfabet. Selengkapnya tentang taman alfabet dapat dibaca pada konten ini. Kemudian muncullah ide arisan huruf dan pintu suku kata, serta kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengenalkan huruf.
Semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan sambil bermain, sehingga tidak berasa seperti belajar. Karena asyiknya beraktivitas mengenal huruf sambil bermain, anak saya mengulang berkali-kali aktivitasnya.
Semua aktivitas mengenalkan huruf yang dilakukan anak saya diceritakan dalam konten ini beserta foto-fotonya. Semua aktivitas yang tampak difoto memang terlihat apa adanya. Ya.. karena saya tidak sedang membuat konten seperti zaman sekarang. Saya sedang menemani anak saya bermain dengan huruf-huruf.
Semua aktivitas yang saya ceritakan pada konten ini adalah versi saya dan anak saya. Bunda, Mama, Moms, pembaca konten ini yang ingin menciptakan kegiatan pramembaca pramenulis yang menyenangkan bisa membuat versi sendiri menyesuaikan dengan kesukaan anak dan situasi yang ada.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.