Cerita anak: Anak dalam Cermin

Sumber:

anak-dalam-cermin

Blyton, Enid. 2007. Anak dalam Cermin dan Cerita-cerita lain. Jakarta: Gramedia

Anak dalam Cermin

Ronnie mempunyai sifat yang aneh. Kalau teman-temannya datang ke rumahnya, Ronnie tak pernah membiarkan mereka bermain-main dengan mainannya.

“Apakah benar kau ini, Ronnie!” ucap ibu Ronnie pada suatu hari. “Bukankah kau ingin bermain-main dengan maian Harry kalau kau kebetulan sedang bermain di rumahnya? Juga kalau sedang di rumah Angela—kau ingin meminjam balok susunnya, bukan? Mengapa kau tak memperbolehkan teman-temanmu bermain dengan mainanmu?”

“Ah,” sahut Ronnie, “aku tak senang jika mainanku dipakai anak lain.”

“Mudah-mudahan saja kau tak berteman dengan anak yang seperti kau—tak mau meminjamkan mainannya kepadamu!” ujar Ibu pula. “Kalau tidak begitu, kau takkan tahu betapa buruknya sifatmu itu. Kita harus mau membagi apa yang kita miliki bila keadaan memungkinkan.”

Ada satu hal yang paling digemari Ronnie—ia sangat suka bercermin! Di kamar ibunya ada sebuah cermin berukuran sangat besar—tingginya sama dengan tinggi ruangan! Ronnie senang sekali berdiri di depannya sambil mengamat-amati segala sesuatu yang terpantul di situ.

Continue reading “Cerita anak: Anak dalam Cermin”

Tak Ada yang Mubazir

Cici meletakkan tas kresek berisi jeruk di meja depan ibunya yang sedang menikmati tek manis hangat.

“Bu, Cici beli jeruk murah pada tukang buah keliling,” kata Cici.

“Oh, ya? Jangan-jangan rasanya tidak manis,” kata Ibu.

Kata penjualnya sih, ditanggung manis,” kata Cici seraya mengupas sebuah jeruk.

“Bah! Tukang buah pembohong!” pekik Cici setelah mencoba sejuring jeruk yang ternyata berasa asam.

“Kamu tadi tidak mencobanya?”

Cici menggeleng, “Cici percaya saja. Tukang buah yang itu biasanya tidak bohong,” jawab Cici.
Continue reading “Tak Ada yang Mubazir”