Bulan Agustus telah tiba, hari kemerdekaan harus dirayakan dengan meriah. Menjadi sebuah kebiasaan dan budaya masyarakat Indonesia, bulan Agustus akan diwarnai dengan kegiatan lomba-lomba 17 agustusan. Eh.. tapi pandemi belum berakhir, kegiatan lomba 17 agustusan pasti tidak boleh dilaksanakan karena akan menimbulkan kerumunan orang.
Ketika itu beberapa bulan lalu, tiba-tiba ingin baca buku baru, buku anak. Meskipun saya bukan lagi anak-anak, membaca buku anak adalah favorit saya. Sekali dayung dua tiga pulau terlewati, saya baca buku anak sekaligus ajak anak-anak saya juga untuk membacanya, itu pun jadi salah satu tujuan saya.
Ide memukau, ilustrasinya keren.
Dua kata untuk buku ini “IDENYA MEMUKAU.” Memang pantas Enid Blyton menjadi penulis buku anak yang menjadi pujaan dunia penulisan buku anak dan akan selalu menjadi panutan sepanjang zaman. Meskipun saya tidak mempunyai lengkap karya-karya Enid Blyton, saya benar-benar memuja karyanya. Saya kagum dengan ide-ide memukau dalam setiap cerita yang ditulisnya.
Pandemi mengubah segala aspek kehidupan kita. Anak-anak yang dulu (2 tahun lalu) dianjurkan jauh-jauh dari gawai, pada masa pandemi ini malah harus didekatkan dengan gawai. Anak-anak yang tidak mahir mengoperasikan laptop dan smartphone diajari oleh orang tua mereka supaya lebih lihai menggunakannya. Ah pandemi… Segeralah berlalu, pergilah!!
Hari ini bersejarah buat saya, sebagai seorang ibu, anak kedua saya Anselmus Kenanutama Sinduaji telah duduk di bangku SD.
Semalam saya mencoba untuk menarik hati si Kakak, dengan bertanya besok mau pakai baju yang mana? Sarapannya mau apa? Pasalnya, si Kakak agak kurang bersemangat untuk memulai sekolah pertamanya. Bisa jadi, si Kakak merasa takut atau deg-degan ketemu orang baru, meski hanya di Zoom. Saya mencoba yakinkan si Kakak, jika pembelajaran di SD pasti lebih menarik daripada di TK. Dan benar, ketika zoom perdana hari ini usai, saya tanya padanya, apakah menyenangkan cara Miss (bu guru) mengajar dan memandu acara hari ini. Si Kakak menjawab, iya. Puji Tuhan jika si Kakak mendapat pengalaman baik di hari pertamanya sekolah.
Melihat karya baru teman-teman penulis yang ada di sosmed, rasanya saya iri sekali. Betapa produktifnya mereka, kemana karya-karya saya?
Soal produktivitas menulis, tiga tahun terakhir ini saya merasa semakin kehilangan waktu untuk menulis. Dengan kata lain SAYA TAK PRODUKTIF MENULIS.
Ya, memang benar, saya tak produktif menulis. LALU, apakah saya benar-benar TIDAK menulis? Tentu tidak, saya tetap menulis. Saya menulis untuk diri saya sendiri dan saya juga sesekali menulis untuk di-share pada orang lain melalui website, buku, cerita, dan artikel.
Apa yang bisa saya lakukan dan dapatkan dari menulis?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.