





Menulis Membuat Kita Ada dan Hidup







Sudah bisa membaca dan berhitung saja tidak cukup untuk mempersiapkan anak masuk SD. Ada banyak tantangan materi dan soal yang baru dijumpai anak di sekolah dasar. Buku 250 Soal Jadi Anak SD adalah buku soal terlengkap yang akan membantu anak mempersiapkan diri masuk sekolah dasar.

Buku 250 Soal Jadi Anak SD lengkap soalnya, banyak variasi soalnya. Berikut ini keunggulan buku 250 : ๐๐
๐ Dalam buku 250 Soal Jadi Anak SD tidak hanya ada 250 soal, lho, melainkan ada 375 soal (250 soal + 125 soal).
๐ Bentuk soal dalam buku 250 Soal Jadi Anak SD bervariasi sehingga dapat melatih anak siap menghadapi variasi soal yang dihadapi di SD.
๐ Buku 250 Soal Jadi Anak SD dapat digunakan oleh anak kelas TK B hingga kelas 2 SD.
๐ Buku 250 Soal Jadi Anak SD disajikan berwarna sehingga menarik perhatian minat anak untuk belajar bersama buku ini
๐Beli buku
Ingin tahu tampilan isi buku 250 Soal Jadi Anak SD, tonton videnya ๐
๐Beli buku
Satu hal yang saya patut syukuri sebagai catatan tahun 2022 adalah anak kedua saya akhirnya bisa berbicara. Di usianya yang kedua tahun di bulan Maret 2022, orang mengatakan si Adek tidak bisa bicara. Tapi kini, di penghujung tahun 2022, si Adek sudah bisa berbicara lumayan lancar. Setiap hari selalu ada perkembangan.
Semuanya terjadi tanpa perlu pergi ke dokter dan tanpa perlu ikut kelas terapi bicara. Apa yang saya lakukan untuk membantu si Adek?
Sebagai rasa syukur saya, saya bagikan apa yang saya lakukan melalui tulisan pertama tahun 2023.
Setelah menyadari ada sedikit ketidakberesan pada kemampuan berbicara si Adek, saya membaca banyak artikel tentang keterlambatan bicara dan cara mengatasinya. Dari beragam informasi yang saya baca, beragam aktivitas sudah saya lakukan pada si Adek dapat merangsangnya lancar berbicara.
Aktivitas itu di antaranya:

Lima hal yang
Baca juga: Catatan Ibu di Rumah: Anakku Sudah Bisa Bicara Lancar
#catatanakhirtahun2022 #ibudirumah #paskalinaaskalin
Bulan Maret 2022, si Adek berusia dua tahun. Di usianya yang kedua giginya sudah tumbuh dengan sempurna. Berat badan sesuai dengan usianya. Tapi, bicaranya belum lancar. Si adek bisa memanggil “ayah”, tapi semua orang dipanggil ayah. Apa yang terjadi?
Sebagai Ibu tidak rela rasanya ketika anak disebut tidak bisa bicara. Saya selalu meralat omongan siapa pun yang bilang kalau si Adek tidak bisa bicara lancar. Dengan tegas pasti saya bilang, “Adek bukan TIDAK BISA bicara, tapi BELUM bisa.
Jujur, sebenarnya hati saya bergetar, bertanya-tanya, ada apa dengan si Adek. Saya baca-baca artikel tentang speech delay dan bagaimana mengatasinya. Saya sempat mengutarakan pada si Ayah, apakah perlu konsultasi ke dokter di klinik tumbuh kembang anak?
Waktu terus berjalan, wacana untuk pergi ke dokter saya lupakan. Karena kesulitan mencari waktu untuk pergi ke dokter, saya yakin, perlahan tapi pasti, si Adek akan bisa bicara lancar.
Puji Tuhan, saya sungguh bersyukur, keyakinan saya benar, si Adek kini sudah bisa berbicara. Memang belum lancar berbicara, tetapi sudah bisa mengungkapkan apa yang dilakukannya. Misalnya kemarin, si Adek menghabiskan kopi milik saya. Si Adek berkata, “Mamah, kopi mamah habis.”
Si Adek sudah bisa bilang, terima kasih Mamah, terima kasih Ayah, tolong isi botolnya, dan sebagainya. Saya bersyukur untuk setiap perkembangan kemampuan bicara yang terjadi pada si Adek.
Setiap saat, setiap detik menit jam, saya bersama si Adek terus-menerus. Dalam hati dan pikiran saya mencatat banyak kata yang akhirnya terucap dari bibir si Adek. Saya sering menangis menatap si Adek saat tidur. Saya sering menangis haru dalam hati, karena akhirnya bisa merangkai kalimat. Puji Tuhan, saya sangat bersyukur karena tak perlu ada dokter atau terapis untuk membantu si Adek berbicara lancar.

Tahun 2023 akan segera datang, saya harus terus memberikan rangsangan beragam aktivitas buat si Adek. Sehingga bicaranya menjadi lebih lancar lagi. Terima kasih Tuhan atas semua perkembangan baik pada tumbuh kembang si Adek.
Baca juga: Lima Aktivitas yang Mengatasi Keterlambatan Bicara
Sebelum saya menulis panjang saya ucapkan
๐โ๐โ๐
SELAMAT NATAL 2022 & SELAMAT TAHUN BARU 2023 untuk Sahabat Pembaca yang merayakan. Semoga suka cita Natal senantiasa mengisi hati dan terang cahaya menyinari langkah di tahun yang baru nanti.
๐โ๐โ๐
Hari ini saya mengikuti acara Misa Natal Adiyuswo yang diadakan Gereja Katolik Santo Barnabas Pamulang. Misa ini dikhususkan untuk para lansia (lanjut usia). Saya ikut misa ini untuk menemani ibu saya, yang sudah lansia.

Pada Misa Adiyuswo ini hampir 80% berusia lansia, yang 20% adalah yang menemani, seperti saya, entah itu anak, cucu, atau keluarga lainnya. Namanya juga misa yang khusua diadakan untuk lansia.
Saya tertarik untuk menulis catatan hari ini tentang para lansia karena ada hal menarik yang patut dicontoh oleh saya dan kita yang masih berusia di bawah 50 tahun. Apa itu? SEMANGAT.
Contohlah Semangat Para Lansia
Mereka, para lansia memiliki semangat yang luar biasa. Saya sebagai orang yang berusia muda, rasanya malu. Saya malu karena terlalu banyak mengeluh atas masalah yang dihadapi. Seakan-akan masalah kita adalah yang terberat.
Pada acara perayaan Natal Adiyuswo yang diadakan setelah misa, para oma dan opa bergembira bersama, bernyanyi, dan melupakan bahwa usia mereka tidak muda lagi. Para oma dan opa ini menampilkan berbagai hiburan, seperti menyanyi dan menari. Mereka juga berjoged bersama dalam sukacita Natal.

SECUIL KISAH SEJUTA INSPIRASI
Di antaranya sekian banyak oma dan opa, termasuk ibu saya, ada sepasang oma-opa yang menarik perhatian saya. Perkiraan saya, oma-opa ini berusia di atas 75 tahun. Oma-opa ini sudah tidak mampu berjalan normal. Mereka berdua bergandengan dan berjalan saling menopang, salah satunya membawa kruk. Oma-opa ini satu lift dengan saya dan ibu saya saat turun dari tempat acara natalan.

Batin saya berkata, “Mereka sungguh cinta sejati.” Mereka pasti akan saling setia hingga akhir hayat. ๐
Ketika saya dan ibu saya duduk di lobi gedung menunggu pesanan taksi online datang, oma-opa itu pun duduk seperti menunggu jemputan. Saya pikir mungkin mereka menunggu jemputan.
Tidak berapa lama, oma-opa ini beranjak berdiri dan menuju parkiran. Saat itu ada sekelompok orang baru turun dari tempat acara. Saat melihat oma-opa itu mereka membantu untuk melewati dua anak tangga di depan lobi.
Salah satu di antaranya bertanya, “Sudah dijemput, Oma.”
“Tidak, ada mobil,” jawab si Oma.
Saya pun berpikir, kalau sudah ada mobil anaknya, kenapa anaknya tidak menemui malah menyuruh oma-opa itu jalan ke parkiran?
Tidak berapa lama saya melihat sebuah mobil tua lewat (mobil yang seusia dengan mereka), oma-opa itu duduk di depan. Si Opa menjadi pengemudinya. Deg, hati saya langsung bergetar.
Astaga, mereka membawa mobil sendiri. Kemana anak-anak mereka? Apa mereka tidak memiliki anak? Kalau punya anak, apa anak-anaknya tidak tahu mereka pergi ke gereja?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.