Puisi: Bebaskan Hati, Segarkan Jiwa

Bebaskan Hati, Segarkan Jiwa

Rasanya lega
Rasanya ahhh menyenangkan
Itulah rasanya
Bisa menyegarkan jiwa
Bisa menenangkan hati
Bisa bernapas sungguh bernapas

Biarlah dinding berbicara
Biarlah pohon bergunjing
Biarlah air berisik
Segalanya hanya sebatas tahu
Semuanya hanya sebatas kepo

Rasanya menyenangkan
Rasanya melegakan
Mungkin ini cara Tuhan
Supaya tetap hidup
Supaya terap berdiri
Tidak membiarkan terhenti

Hidup akan selalu berjuang
Tanpa perjuangan berarti berakhir
Tanpa terlihat tanpa diketahui
DIA menopang
DIA membantu

Nikmati hidup
Nikmati kesempatan
Nikmati yang ada
Selagi masih ada

 

Paskalina Askalin

Depok, 3 September 2024, 11.22 am

 

Saat menulis puisi ini, di waktu yang sama Bapa Paus tiba di Indonesia dalam perjalanan Apostoliknya.

Selamat datang Bapa Paus, semoga kedatanganmu membawa berkat melimpah untuk umat Katolik di Indonesia, terkhusus untuk keluargaku, semoga segala yang jahat menjauhi keluargaku. Amin

 

Penggunaan Kata โ€œdiโ€ Dipisah dan Disambung

Penggunaan Kata โ€œdiโ€ Dipisah dan Disambung

Saat melakukan editing, sering saya menemukan penggunaan “di” secara tidak tepat. Penggunaan “di-” yang seharusnya disambung malah dipisah. Penggunaan “di” yang seharusnya dipisah malah disambung.

Ada banyak orang yang belum paham penggunaan kata โ€œdiโ€ dipisah dan disambung. Yuk, mari kita pelajari bersama, cara membedakan penggunaan kata โ€œdiโ€ dipisah dan disambung.

Coba perhatikan kata-kata di bawah ini! Manakah yang penggunaan kata โ€œdiโ€ dipisah dan disambung yang benar?

  • di cuci – dicuci
  • dibuka – di buka
  • dimeja – di meja
  • dimakan – di makan
  • di bawah – dibawah
  • digelas – di gelas
  • di buang – dibuang

Penulisan yang benar adalah

  • dicuci
  • dibuka
  • di meja
  • dimakan
  • di bawah
  • di gelas
  • dibuang

 

Kata dicuci, dibuka, dimakan, dan dibuang, ditulis serangkai (disambung) karena di- berfungsi sebagai imbuhan atau prefiks.

Contoh penggunaan kata โ€œdiโ€ sebagai imbuhan dalam kalimat:

  • Sampah itu tidak dibuang pada tempatnya.
  • Pisang yang ada di meja itu dimakan oleh adik.
  • Baju merah itu belum dicuci oleh Titi.
  • Kotak itu belum dibuka sejak diambil.

Kata โ€œdiโ€ pada kata di meja, di bawah, dan di gelas, ditulis dipisah karena โ€œdiโ€ sebagai kata depan atau preposisi. Menurut EYD V, kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. CEK EYD V KEMDIKBUD.

Contoh penggunaan kata โ€œdiโ€ sebagai kata depan dalam kalimat:

  • Ibu menaruh kue di meja makan.
  • Adik bersembunyi di bawah meja.
  • Minuman itu belum dituangkan di gelas.

 

 

Masih Adakah Kepedulian di Antara Kita?

Masih Adakah Kepedulian di Antara Kita?

Masih ingat dengan kabar viral, ditemukan sepasang lansia dalam kondisi meninggal dunia di rumahnya. Menurut kabar, lansia ini lama tidak dijenguk oleh anak-anaknya.

Belum lama, saya juga melihat sebuah berita tentang seorang wanita dievakuasi dari rumah kos sempit dalam kondisi meninggal oleh Tim Damkar. Diduga wanita ini hamil dan meninggal tiga hari lalu.

Masih banyak lagi, baik kabar viral maupun tidak viral, kabar berita sejenis tentang penemuan orang ditemukan meninggal di rumahnya setelah beberapa hari, bukan karena kejahatan. Sungguh memilukan.

Melihat begitu banyaknya berita tentang penemuan orang setelah beberapa hari, saya jadi berpikir, apa yang terjadi dengan KEPEDULIAN kita, KEPEKAAN kita? Rumah-rumah saling menempel tembok, tidak berjauhan. Ada tetangga di kanan kiri depan belakang rumah. Kenapa tidak ada tetangga yang peduli?

Kenapa setelah bau busuk menusuk hidung kepedulian itu baru menyeruak? Bahkan bukan kepedulian juga sebenarnya, bukan untuk memberi pertolongan, karena hanya ponsel yang akhirnya sibuk merekam peristiwa dan ingin cepat-cepat mengunggahnya ke media sosial lalu bangga karena postingannya menjadi viral.

Setiap waktu kita terpukau oleh tontonan video berisi kepedulian konten kreator terhadap orang-orang yang “kesusahan”, yang entah nyata atau hanya sebuah konten. Dengan cepat jempol kita menekan โ™ฅ๏ธ dan membagikan video “kepedulian” itu. Dengan begitu, seakan kita sudah turut peduli.

Kita semua sibuk peduli di dunia media sosial sehingga kita lupa untuk peduli pada orang-orang di sekitar kita. Bahkan, saat melihat seseorang terkena musibah, bukannya cepat menolong, malah sibuk merekam atau melakukan live streaming.

Merekam peristiwa yang terjadi bukan kesalahan, tetapi menolong dan menyelamatkan terlebih dahulu itu lebih baik.

Ayo, Peduli Orang-orang di Sekitar Kita!

Ayo, peduli orang-orang kita mulai peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Untuk menjadi peduli, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Orang-orang di sekitar kita, di dekat kita, juga ada yang perlu kepedulian kita.

โ™ฅ๏ธ Peduli Tetangga

Tetangga adalah orang terdekat kita. Bahkan tetangga bisa menjadi lebih dari keluarga. Sebagai tetangga sudah seharusnya saling peduli, saling care, bukannya saling membalikkan badan saat ketemu.

Secara teori, tetangga seharusnya begitu, namun pada faktanya tidak semua tetangga itu bisa menerima kita dengan baik. Sebagai tetangga saya berusaha memahami keunikan-keunikan tetangga saya. Ada tetangga yang baik sekali, ada tetangga yang โ€œtidak kenal sama tetanggaโ€.

Mungkin kita dianggap sok tahu, ketika berniat menolong atau membantu tetangga yang sedang kesulitan. Ketika mendengar sesuatu yang janggal terjadi pada tetangga, secara spontan kita berinisiatif untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Saya mendengar ketidakberesan pada tetangga depan rumah saya. Ketidakberesan itu saya kisahkan dalam tulisan Kisah Menjelang Malam Anak Terkunci di Dalam Mobil.

โ™ฅ๏ธ Peduli untuk Menolong

Beda dulu, beda sekarang. Dulu, ketika terjadi suatu peristiwa, kita cepat-cepat menolong. Sekarang, ketika terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan, kita cepat-cepat untuk merekamnya dan jadi lupa untuk menolong. Ayo, peduli untuk menolong terlebih dahulu, bukannya berlomba untuk menampilkan rekaman paling viral.

Ayo, kita kembali menjadi manusia sebagai makhluk sosial, bukannya makhluk โ€œmedia sosialโ€. Kita masih makhluk sosial. Kita makhluk saling membutuhkan.

Saat mengalami kecelakaan atau musibah, yang kita butuhkan ditolong, bukan โ€œdiberitakanโ€ (direkam). Karakter kepedulian kita sebagai manusia, sungguh diuji.

Tanpa sadar kita telah menjadi โ€œmakhluk media sosialโ€. Kita begitu rajin bertegur dalam komentar di media sosial, hingga lupa bertegur sapa dengan suami/istri, anak, keluarga kita.

Kepedulian atau kepekaan kita pada apa yang terjadi di sekitar pun, semoga tidak berakhir pada sebuah konten. Sudah banyak konten-konten kepedulian, yang entah nyata atau hanya sekadar drama.

Ayo, teman, sahabat, kawan semuanya, kembalilah untuk peduli, sungguh-sungguh peduli.

Merekam peristiwa yang terjadi bukan kesalahan, tetapi menolong dan menyelamatkan terlebih dahulu itu lebih baik.

 

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI

 

Masih Adakah Kepedulian di Antara Kita?

Masih Adakah Kepedulian di Antara Kita?

Masih ingat dengan kabar viral, ditemukan sepasang lansia dalam kondisi meninggal dunia di rumahnya? Menurut kabar, lansia ini lama tidak dijenguk oleh anak-anaknya.

Belum lama, saya juga melihat sebuah berita tentang seorang wanita dievakuasi dari rumah kos sempit dalam kondisi meninggal oleh Tim Damkar. Diduga wanita ini hamil dan meninggal tiga hari lalu.

Masih banyak lagi,ย  baik kabar viral maupun tidak viral, kabar berita sejenis tentang penemuan orang ditemukan meninggal di rumahnya setelah beberapa hari, bukan karena kejahatan. Sungguh memilukan.

Melihat begitu banyaknya berita tentang penemuan orang setelah beberapa hari, saya jadi berpikir, apa yang terjadi dengan KEPEDULIAN kita, KEPEKAAN kita? Rumah-rumah saling menempel tembok, tidak berjauhan. Ada tetangga di kanan kiri depan belakang rumah. Kenapa tidak ada tetangga yang peduli?

Kenapa setelah bau busuk menusuk hidung kepedulian itu baru menyeruak? Bahkan bukan kepedulian juga sebenarnya, bukan untuk memberi pertolongan, karena hanya ponsel yang akhirnya sibuk merekam peristiwa dan ingin cepat-cepat mengunggahnya ke media sosial lalu bangga karena postingannya menjadi viral.

Setiap waktu kita terpukau oleh tontonan video berisi kepedulian konten kreator terhadap orang-orang yang “kesusahan”, yang entah nyata atau hanya sebuah konten. Dengan cepat jempol kita menekan โ™ฅ๏ธ dan membagikan video “kepedulian” itu. Dengan begitu, seakan kita sudah turut peduli.

Kita semua sibuk peduli di dunia media sosial sehingga kita lupa untuk peduli pada orang-orang di sekitar kita. Bahkan, saat melihat seseorang terkena musibah, bukannya cepat menolong, malah sibuk merekam atau melakukan live streaming.

Merekam peristiwa yang terjadi bukan kesalahan, tetapi menolong dan menyelamatkan terlebih dahulu itu lebih baik.

Ayo, Peduli Orang-orang di Sekitar Kita!

Ayo, peduli orang-orang kita mulai peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Untuk menjadi peduli, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Orang-orang di sekitar kita, di dekat kita, juga ada yang perlu kepedulian kita.

โ™ฅ๏ธ Peduli Tetangga

Tetangga adalah orang terdekat kita. Bahkan tetangga bisa menjadi lebih dari keluarga. Sebagai tetangga sudah seharusnya saling peduli, saling care, bukannya saling membalikkan badan saat ketemu.

Secara teori, tetangga seharusnya begitu, namun pada faktanya tidak semua tetanggaย  itu bisa menerima kita dengan baik. Sebagai tetangga saya berusaha memahami keunikan-keunikan tetangga saya. Ada tetangga yang baik sekali, ada tetangga yang โ€œtidak kenal sama tetanggaโ€.
Mungkin kita dianggap sok tahu, ketika berniat menolong atau membantu tetangga yang sedang kesulitan. Ketika mendengar sesuatu yang janggal terjadi pada tetangga, secara spontan kita berinisiatif untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Saya mendengar ketidakberesan pada tetangga depan rumah saya. Ketidakberesan itu saya kisahkan dalam tulisan Kisah Menjelang Malam Anak Terkunci di Dalam Mobil.


โ™ฅ๏ธ Peduli untuk Menolong

Beda dulu, beda sekarang. Dulu, ketika terjadi suatu peristiwa, kita cepat-cepat menolong. Sekarang, ketika terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan, kita cepat-cepat untuk merekamnya dan jadi lupa untuk menolong. Ayo, peduli untuk menolong terlebih dahulu, bukannya berlomba untuk menampilkan rekaman paling viral.
Ayo, kita kembali menjadi manusia sebagai makhluk sosial, bukannya makhluk โ€œmedia sosialโ€. Kita masih makhluk sosial. Kita makhluk saling membutuhkan.

Saat mengalami kecelakaan atau musibah, yang kita butuhkan ditolong, bukan โ€œdiberitakanโ€ (direkam). Karakter kepedulian kita sebagai manusia, sungguh diuji.
Tanpa sadar kita telah menjadi โ€œmakhluk media sosialโ€. Kita begitu rajin bertegur dalam komentar di media sosial, hingga lupa bertegur sapa dengan suami/istri, anak, keluarga kita.

Kepedulian atau kepekaan kita pada apa yang terjadi di sekitar pun, semoga tidak berakhir pada sebuah konten. Sudah banyak konten-konten kepedulian, yang entah nyata atau hanya sekadar drama.
Ayo, teman, sahabat, kawan semuanya, kembalilah untuk peduli, sungguh-sungguh peduli.

Merekam peristiwa yang terjadi bukan kesalahan, tetapi menolong dan menyelamatkan terlebih dahulu itu lebih baik.

Paskalina Askalin


Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI.

Jumat Kebaikan, Jumat Berkah

Jumat Kebaikan, Jumat Berkah

Hari ini banyak orang yang berbahagia
Hari ini banyak orang yang tersenyum
Jumat kebaikan, Jumat berkah

Orang-orang tersenyum bahagia
Mengantre dengan penuh semangat
Bisa makan enak, dengan lauk super lezat
Bapak ibu dua anak, turut mengantre
Merayakan makan enak seminggu sekali
Jumat kebaikan, Jumat berkah

Biasanya makan dengan kerupuk
Biasnaya makan dengan tumis kangkung tempe goreng
Siang ini makan enak
Siang ini makan dengan balado telor
Ada juga yang makan dengan ayam goreng
Ada yang bisa pilih
Mau ayam goreng
Mau opor ayam
Mau soto ayam
Mau rendang
Mau ikan bandeng atau tongkol

Jumat kebaikan, Jumat berkah
Semua tersenyum bahagia
Menenteng kotak makanan gratis
Seakan membawa permata
Senyum tersembul terus menerus sambil membayangkan enaknya makan, siang ini

Makan gratis tersedia di mana-mana
Ada di samping rumah ibadah
Ada di depan warteg
Ada di restoran
Ads di rumah seseorang
Begitu banyak kebaikan di hari Jumat
Begitu banyak orang baik membagikan kebaikan
Hanya sekadar sekotak makan gratis
Tapi sungguh berarti bagi mereka

Jumat kebaikan, Jumat berkah
Semoga orang-orang baik terus ada.
Semoga kebaikan terus menebar di mana-mana
Jumat kebaikan, Jumat berkah

Depok, 23 Agustus 2024