Sore ini ibu saya bertanya pada saya, “Normal baru iku opo?” Dengan bahasa sederhana saya mencoba memberikan jawaban. Normal baru atau new normal itu misalnya dulu sebelum pademi, memakai masker ke mana-mana itu berarti tidak normal atau orang yang sakit. Sekarang setelah pandemi terjadi dan masih ada, memakai masker itu adalah normal, normal yang dimaksud adalah normal baru.
Kata normal baru atau new normal ini menjadi perbincangan hangat saat ini di Indonesia juga di dunia. Ada begitu banyak info grafis yang menjelaskan teknis pelaksanaan ketika normal baru di berlakukan di semua aspek kehidupan kita.
Tidak banyak buku parenting yang pernah saya baca. Tapi, akhir-akhir ini saya menyempatkan membaca buku parenting. Bahkan, saat melihat ada buku parenting yang temanya menarik, saya langsung ingin membelinya. (Menarik dalam arti saya perlu lebih mendalami ilmunya.) Saat ada keinginan beli buku baru, pasti yang terlintas di pikiran saya membeli buku bertema parenting. Seperti saat ini, saya melihat sebuah buku tema parenting yang sedang saya sukai, buku tentang Montessori yang berjudul Dr. Montessori’s Own Handbook. Bulan ini mungkin belum ada pengeluaran untuk buku, bulan depan buku ini harus bisa saya miliki.
Buku yang ingin dibeli ☺️
Saat menjelang kelahiran si kakak, 6 tahun lalu, saya tidak tertarik membeli buku bertema parenting. Yang saya beli malah buku-buku anak sehingga Kenan saat dalam kandungan hingga sekarang usia 5 tahun suka sekali dibacakan buku anak.
Saat menjelang kelahiran si adik, saya mulai merasa kurang percaya diri, apakah saya sudah benar mengasuh si kakak? Apakah aktivitas yang saya berikan pada si kakak berguna untuk perkembangan otaknya? Ada banyak pertanyaan lain yang muncul di benak saya. Ada banyak cara untuk mencari jawaban dari pertanyaan saya itu, salah satunya melalui membaca buku, itu yang saya pilih.
Membaca buku parenting sambil mengasuh Krisan.
Mulailah saya meyempatkan waktu membaca buku parenting yang saya miliki. Kenapa buku yang saya pilih, padahal ada begitu banyak artikel parenting di internet? Saya pilih buku karena lebih bisa dipertanggungjawabkan isinya. Buku yang saya pilih pun, buku-buku yang ditulis oleh mereka yang terjun langsung dalam mengasuh anak, baik itu guru (praktisi) maupun orangtua yang berpengalaman mengasuh anak hingga menjadi pakar pendidikan dan parenting.
Setelah saya membaca buku-buku parenting, saya rasakan sekali bahwa MEMBACA BUKU PARENTING ITU PENTING. Penting buat siapa? Buku parenting baik dibaca oleh orangtua, calon orangtua, orangtua muda, pasangan baru menikah, guru, penulis buku bacaan anak, praktisi pendidikan, dan siapa pun yang ingin mengetahui tentang pola asuh anak. Ada banyak sekali jenis buku parenting. Kita bisa membaca buku parenting sesuai yang kita butuhkan.
Bagi saya saat ini membaca buku-buku parenting yang terkait dengan Montessori itu penting. Kenapa? Sekolah Kenan tidak menerapkan Montessori, jadi saya bisa menerapkan kelas Montessori di rumah. Selain itu, informasi tentang seluk-beluk Montessori bisa saya terapkan untuk si adik, Krisan. Membaca buku parenting itu sungguh penting bagi siapa saja yang ingin mengetahui informasi baik itu teori pola asuh anak maupun cerita pengalaman orangtua yang menghadapi langsung tumbuh kembang anak.
Bagi saya pribadi, membaca buku parenting menyakinkan saya bahwa pola asuh yang selama ini saya lakukan sudah benar. Misalnya, saya menemukan di buku parenting yang saya baca, aktivitas yang saya lakukan bersama Kenan itu bisa dikatakan mirip Montessori dan layak dilanjutkan serta bisa dipraktikkan pada adiknya, Krisan. Dari membaca buku parenting juga saya menemukan teori-teori yang mendukung pola asuh yang saya lakukan, sehingga saya rasa percaya diri saya pun mulai bertumbuh lagi. Karena rasa percaya diri itu saya jadi ingin membagikan aktivitas saya bersama Kenan dalam sebuah buku. Semoga bisa terwujud, amin.
Kegiatan belajar mengajar (KBM) daring yang dilakukan anak saya, Kenan, sudah berakhir dua minggu lalu, tetapi aktivitas belajar tetap saya jadikan rutinitas setiap hari, walaupun hanya 10-30 menit.
Saya tetap ingin mempertahankan kebiasaan belajar di rumah pada Kenan. Saat Kenan KBM daring dengan gurunya, sebenarnya kan tetap emaknya yang harus mengajak anak, memberikan instruksi, memberi apresiasi, dan sebagainya. Jadi, selanjutnya tinggal menggali kreativitas belajar di rumah yang menyenangkan.
Belajar di rumah sudah dilakukan Kenan sejak usia 2 tahun, bahkan kurang. Saat Kenan sudah bisa mencoret-coret saya sodorkan buku dan spidol warna. Walau kadang buku tidak dicoret, malah disobek-sobek.
A: Sudah ada KBBI Luring di gawai kamu? B: Apa itu KBBI Luring? A: Ah masa kamu tidak tahu. Kamu kan orang Indonesia, bahasa yang kamu pakai bahasa Indonesia. B: Jelaskan saja apa KBBI Luring itu? A: Baiklah, aku jelaskan.
KBBI Luring terdiri dari dua kata KBBI dan luring. KBBI adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, sedangkan luring adalah akronim dari luar jaringan yang berarti terputus dari jejaring komputer, internet, dan sebagainya.
Jadi KBBI Luring adalah kamus bahasa Indonesia yang bisa digunakan tanpa harus tersambung jaringan internet. Aplikasi KBBI Luring dapat diunduh secara gratis di Playstore. Pengunaan KBBI Luring sangat mudah. Berikut ini tampilan KBBI Luring.
Kebalikan dari KBBI Luring, KBBI Daring adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan, sehingga membutuhkan sambungan internet. Klik KBBI Daring.
Bagaimana kita akan mengatakan pada anak “Nak tanganmu kotor, ayo cuci tangan?’ Jika anak tidak tahu kotor itu apa.
Dulu ketika saya masih kecil, bermain tanah adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan menggunakan media tanah, saya bisa menciptakan aneka macam permainan asyik dari tanah. Main masak-masakan, membuat kue mainan, membangun istana pasir, membuat gelas piring dari tanah, dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda juga ingat, apa permainan favorit Anda saat masih kecil yang berkaitan dengan tanah?
Kenan bermain pasir campur air
Kita pernah mengalami menjadi anak kecil, sekarang kita menghadapi anak kecil juga yang ternyata suka sekali bermain dengan tanah atau pasir. Walaupun ada anak yang dilarang orangtuanya bermain tanah, anak tetaplah suka bermain pasir.
Kenan termasuk anak yang tidak suka memegang benda yang kotor atau basah, tapi kalau bermain tanah atau pasir, Kenan mau-mau saja. Kenan tidak menunjukkan rasa jijik dan takut kotor.
Bermain pasir atau tanah adalah mainan favorit anak-anak. Apa ada anak yang tidak suka main pasir? Ada. Anak yang sudah terlanjur didoktrin orangtuanya bahwa tanah itu kotor tidak boleh disentuh, tanah banyak kuman bla bla bla, jadinya anak menjadi fobia pada tanah. Mungkin anak seperti itu yang tidak suka main tanah.
Kenan bermain truk tanah
Saat anak kita bermain tanah atau pasir, ada pembelajaran yang bisa dipetik lho. Apa saja itu?
Mengajarkan cuci tangan yang benar
Setelah bermain tanah atau pasir, otomatis orangtua akan meminta anak untuk cuci tangan dengan benar. Oleh karena itu, orangtua bisa sekaligus mengajarkan pada anak tentang mencuci tangan.
Kenan mencuci tangan
Memberikan informasi tentang kuman dan bahayanya
Anak cerdas akan bertanya, kenapa harus mencuci tangan. Jawaban orangtua dapat sekaligus memberikan informasi kepada anak tentang kuman dan bahaya. Tidak perlu penjelasan yang mendetail, yang penting anak tahu jika di tanah ada kuman yang bisa membuat tubuh sakit. Cara untuk menghilangkan kuman itu dengan mencuci tangan dengan benar.
Melatih motorik dan kreativitas
Bermain tanah membuat anak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Berdiri, duduk, berjongkok, menggenggam tanah, menyendok tanah, semua itu membuat motorik anak menjadi terlatih.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.