Kata Baku dan Kata Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia

Kata baku adalah kata yang digunakan sesuai dengan kaidah dan pedoman bahasa yang berlaku. Kaidah dan pedoman kata baku bahasa Indonesia adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Maka, jika kita ingin mengecek apakah sebuah kata itu baku atau tidak baku, kita bisa mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Baca Juga: Kata Baku dan Tidak Baku: positip atau positif?

Jika kata yang digunakan tidak sesuai kaidah dan pedoman bahasa Indonesia disebut kata tidak baku. Penggunaan kata tidak baku itu tidak salah, tetapi tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Kalimat atau bahasa formal sebaiknya menggunakan kata baku. Namun, jika ada kata tidak baku dalam kalimat formal bukanlah sebuah kesalahan, hanya terjadi ketidaksesuaian. 

Misalnya dalam sebuah surat resmi terdapat penggunaan kata tidak baku, surat tersebut tidak salah, hanya perlu perbaikan kesesuaian penggunaan kata, mungkin sang pembuat surat tidak paham kata baku dan kata tidak baku.

Continue reading “Kata Baku dan Kata Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia”

Gara-gara Youtube

Dua bulan sudah kita berada di rumah, orangtua bekerja di rumah, anak-anak sekolah di rumah, dan ibadah pun di rumah. Merasa bosan ga sih? 

Mencermati orang-orang di sekitar saya, saat pandemi yang paling terkuras adalah kuota internet. Syukur Puji Tuhan, sudah berlangganan internet rumah, sehingga bisa pakai kuota ramai-ramai, tidak perlu rebutan kuota.

Bosan juga di rumah terus, tapi saya yakin sekali, internet membantu kita semua keluar dari zona bosan di rumah. Asal ada kuota internet, di rumah pun tetap bisa berkelana ke mana-mana. Meeting bisa dilakukan dari rumah masing-masing, berdoa bisa dilakukan sama-sama walaupun di rumah masing-masing, pokoknya ada kuota internet lancar semuanya.

Laman apa yang paling banyak dibuka selama pandemi? Tentu jawabannya tergantung dari keperluan setiap orang. Saya perlu mengetahui informasi terbaru tentang Covid-19, maka saya bisa mengunjungi salah satu situs berita atau mengunjungi situs resmi pemerintah. Jika saya perlu mengikuti misa di gereja secara live streaming, saya bisa kunjungi Youtube. Saya mau nonton film box office, saya kunjungi Youtube. Saya mau cari kartun anak, saya klik Youtube. Saya mau cari resep kue, saya klik Youtube

Continue reading “Gara-gara Youtube”

Playground in Home

Halo ayah, ibu, om, tante, pakdhe, budhe… Siapa yang sudah merasa mulai jenuh menghadapi aksi anak-anak di rumah? Banyak pasti ya.. termasuk saya dan suami, setiap hari emosi sudah sangat memuncak. Teriakan, ocehan, omelan, terus terdengar. Namun teriakan, ocehan, omelan kita seakan tidak didengar, anak masih saja tidak bisa diatur, membuat rumah seperti kapal pecah terus-menerus, hingga rumah disulap menjadi playground.

Saya dan suami, sadar betul, emosi dan amarah bukan solusi untuk membuat anak menurut. Ingat, saat ini sedang terjadi pandemi yang mengharuskan kita di rumah saja. Sepanjang waktu berada di rumah itu sangat membosankan. Orang dewasa berada di rumah terus, lama-lama juga bosan. Apalagi anak-anak, rasa bosannya pasti sudah sampai puncak. Tetapi anak-anak bingung mengekspresikan rasa bosannya. Yang terjadi akhirnya anak membuat aksi imajinasi di rumah.

Kenan, usianya 5 tahun 4 bulan saat ini, rasa bosan di rumah tentu sudah menghinggapi hati dan pikiran sejak beberapa hari ini. Hasilnya, semua barang-barang di rumah menjadi jalan untuknya berekspresi mengusir kebosanan. 

Omelan saya sudah sering menggema, sebenarnya saya juga sudah berusaha menahan diri, menurunkan suara, menurunkan emosi, tapi akhirnya kadang meledak juga karena Kenan tak juga mendengar. Barang-barang di rumah, seperti kursi, bantal, gelas, sandal, sepatu, lap, dan lainnya dijadikan mainannya. Jika tak mengganggu aktivitas rumah, saya masih bisa menahan diri dan menahan emosi, tapi kemudian kursi tak bisa diduduki, atau yang dilakukan membahayakan keamanannya, saya pun mengomel dan berusaha mencegah Kenan melanjutkan aksinya. 

Saya jadi ingat konsep pembelajaran Montessori yang ditulis oleh Vidya Dwina Paramita dalam buku Jatuh Hati pada Montessori. Konsep itu adalah “follow the child“. Dalam konsep ini orangtua atau guru membebaskan anak mengeksplorasi sesuai keinginannya namun bukan berarti membiarkan anak sebebas-bebasnya. Ada batas yang harus dipegang oleh orangtua atau guru, yaitu aspek keamanan serta norma sopan santun dan kebaikan.

Saya pun ketika melarang atau meminta Kenan berhenti bermain atau bereksplorasi adalah ketika keamanannya terganggu dan melanggar kesopanan.

Sudah dua hari ini (hari ini hari kedua), Kenan membuat playground-nya sendiri di rumah. Kursi-kursi, bantal, dan kasur menjadi perlengkapannya membuat playground-nya. Saya yakin sekali, dalam imajinasinya Kenan sedang membuat playground seperti yang pernah dimainkannya di mal-mal. 

Aksinya pun dimulai. Kenan berlari kemudian mulai meniti satu per satu kursi yang sudah disusunnya bak anak tangga. Apa yang terjadi dengan saya? Saya pun memintanya berhati-hati, pelan-pelan, jangan lari, ahhhhh sebenarnya itu perkataan sia-sia, Kenan pasti akan berlari, tidak akan bisa pelan-pelan. 

Akhirnya saya menyerah. Saya membiarkan Kenan beraksi dengan playground-nya. Saya memperhatikan saja dan memotretnya. Puji Tuhan, masih aman-aman saja, Kenan beraksi tanpa terluka atau kejedot kursi. 

Foto-foto ini saya jepret kemarin, 15 Mei 2020.

Playground in home ternyata amat menyenangkan buat Kenan. Hari ini saya biarkan dia membangun kembali playground-nya. Playground itu sebuah kreativitasnya, jika dilarang malah jadi amarah dan emosi. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain, kapan pun dan di mana pun. Orangtua cukuplah mendukung anaknya berkreasi dan menjaga kreasinya aman dan tidak membahayakan.

Playground in home, baru satu aksi saja, masih banyak yang akan dilakukan Kenan di rumah. Saya nasihati diri saya untuk tetap sabar menghadapi aksi-aksi kreatif Kenan. Anak-anak perlu ditemani dan didukung. Selagi tak membahayakan dan mengganggu orang lain, saya dukung akan aksi Kenan. 

Di rumah saja, saat yang tepat untuk lebih mendekatkan anak dan orangtua, kakak dan adiknya, atau mengajak anak bermain sepuas-puasnya. 

Ayah, ibu, banyakin sabar saja ya.. tekan segala kebosanan dan ikat emosi dengan kencang sehingga tak meledak-ledak di mana-mana. Semoga pandemi segera berlalu… 

Menceritakan Kembali Fabel dari Provinsi Jambi – Harimau Pemakan Durian

Tip singkat: Jika Anda ingin menceritakan kembali sebuah cerita, baca cerita aslinya berulang kali, 2-3 kali baca, lalu tutup buku dan mulai menulis kembali cerita dengan gaya bahasa sendiri.

Suatu hari penduduk Desa Kemingking dihebohkan oleh hilangnya hewan ternak mereka setiap malam. Kepala desa memutuskan supaya setiap malam ada warga desa yang berjaga.

Hingga suatu malam ketika beberapa penduduk desa sedang berjaga malam terdengar suara tanda-tanda kedatangan pencuri ternak. Ketika penduduk desa hendak menangkap basah si pencuri, penduduk desa malah lari tunggang langgang. Pencuri itu ternyata seekor harimau.
Penduduk desa segera melaporkan hal tersebut pada kepala desa.

 

Continue reading “Menceritakan Kembali Fabel dari Provinsi Jambi – Harimau Pemakan Durian”

Bermain untuk Mengisi Waktu di Rumah

Anak usia 5 tahun mana mau diajak belajar terus, maunya pasti main-main dan main.

Seorang anak tetangga datang ke rumah hendak mengajak anak saya main. Dengan tegas saya katakan, “Maaf ya, Kenan tidak main.” Si anak ini memang berbeda dengan anak lain, sering keluar masuk rumah seluruh penghuni kompleks sehingga membuat penghuni kompleks enggan untuk membiarkan anak itu masuk. Kadang kala, saya membiarkan anak ini masuk. Namun, hari ini dan seterusnya hingga virus korona tak lagi terdengar saya tidak akan membebaskan orang, baik anak maupun siapa saja untuk keluar masuk rumah saya. Bukan sombong dan tak suka bertetangga, ini dilakukan demi keamanan keluaga saya dari terinfeksi COVID-19. Wabah belum berlalu gaes… tetap lakukan social distancing dan physical distancing.

Continue reading “Bermain untuk Mengisi Waktu di Rumah”