Ibu di Rumah: Main Lego dan Angka (Berhitung)

Hari ini target menulis saya adalah menyelesaikan corat-coret naskah buku aktivitas yang tersisa 10 halaman lagi. Apakah bisa sesuai target? TIDAK.

Ibu di rumah punya segudang rencana segudang keinginan, yang terealisasi tidak sesuai rencana, dan jauh dari keinginan. Tapi tidaklah jadi soal karena memang di sinilah ada banyak cerita tersimpan dari seorang ibu di rumah.

Saya tak bisa membiarkan anak lanang bermain dengan keasyikannya sendiri. Urusan naskah bisa dilanjut nanti saja. Saatnya mencari ide, bermain apa hari ini? Continue reading “Ibu di Rumah: Main Lego dan Angka (Berhitung)”

Ibu di Rumah: Bermain Tebak-tebakan Sambil Belajar Huruf

Ada banyak cara belajar mengenal huruf yang bisa dilakukan ibu di rumah. Cara belajarnya pun tidak harus menggunakan buku.
Hari ini (13 Juli 2019) Kenan tidak belajar dari buku, dan memang belajar tidak harus dari buku khan? Ibu di rumah harus bisa lebih kreatif ketika mengajak anak belajar. Bila perlu kata-kata belajar itu tidak digunakan, ajak anak bermain dan bermain.

Akhir-akhir ini memang sulit mengajak Kenan untuk bermain (belajar) bersama buku. Maunya Kenan terus bermain. Ibu di rumah harus mencari cara terbaik bisa bermain terus dan terus, namun tetap bisa menyisipkan belajar di dalamnya.
Seperti yang terjadi malam ini. Kenan duduk di samping saya sambil menonton salah satu program tv swasta. Meminta Kenan untuk bisa duduk tenang itu pun sulit. Maunya Kenan, kapan pun, pagi, siang, sore, malam terus saja bermain. Continue reading “Ibu di Rumah: Bermain Tebak-tebakan Sambil Belajar Huruf”

Dilema Ibu (Menulis) di Rumah

Ketika saya memutuskan diam (kerja menulis) di rumah dan tak ingin terikat kontrak menjadi karyawan di mana pun serta saya ingin lebih banyak waktu untuk anak lanang, saya tahu ada banyak sekali risiko dan tantangannya. Risiko pertama adalah saya tidak punya penghasilan tetap. Lalu tantangannya lebih pada bagaimana saya menguasai diri, mengatur waktu, antara menemani anak lanang dan pekerjaan editing tiba-tiba serta keinginan menulis.

Continue reading “Dilema Ibu (Menulis) di Rumah”

Anak Aktif Suka Membantu

Ayah, Kenan aja yang palu
Ayah, Kenan aja….
Ayah, Kenan aja….
Bunda, Kenan yang goreng telur
Bunda, Kenan aja….
Bunda, Kenan aja….

Begitu Kenanutama Sinduaji yang kini berusia 4,5 tahun. Semua pekerjaan di rumah maunya dia yang kerjakan.

Ketika seorang anak usia 4-5 tahun membantu kegiatan di rumah, sebenarnya sama saja dengan memperlama pekerjaan itu selesai. Kadang, saya tidak bisa menahan marah karena pekerjaan yang seharusnya selesai cepat malah jadi tidak selesai bahkan jadi berantakan. Saya rasa ini dialami oleh semua orang tua yang miliki anak balita. Continue reading “Anak Aktif Suka Membantu”

Ibu di Rumah Siap Bermain Apa Saja

Bun, ayo main kejar-kejaran
Bun, ayo main bola
Bun, ayo main petak umpet
Bun, ayo main dokter
Bun, ayo main gunting rambut
Bun, ayo main masak-masakan

Bun, ayo main. Bun, ayo main. Kalimat sakti ini sering membuat saya tersadar jika harus selalu ada untuknya. Saya memilih bekerja di rumah demi menemani anak lanang setiap saat. Ketika kalimat sakti itu muncul, rasanya saya tak kuasa menolak. Walau kadangkala, pekerjaan dadakan (editing, writing) memaksa saya harus menolak ajakannya bermain, hati saya bergemuruh dan sangat-sangat merasa berdosa padanya.

Menjadi ibu di rumah adalah pilihan sangat-sangat benar menurut saya. Walaupun kadang ekonomi keluarga agak terganggu, rasanya terbayar dengan rasa bahagia selalu dekat dengan anak lanang. Uang dan harta bisa dicari nanti, masa kecilnya di usia emas (golden age) tidak akan bisa terulang. Continue reading “Ibu di Rumah Siap Bermain Apa Saja”