Latihan Soal Pendidikan Kewarganegaraan Kelas 2 SD

Ketika guru kelasnya atau wali kelasnya memberikan jadwal penilaian, yang pusing dan degdegan bukan anaknya tapi ibunya alias saya. Saya belum tahu apakah ibu-ibu lain merasakan hal yang sama, merasa deg-degan ketika anaknya belum belajar untuk penilaian besok. Meskipun besok ada penilaian, Kakak santai-santai aja.๐Ÿ™„

Dan pada akhirnya sayalah yang harus bergerak mempersiapkan penilaiannya supaya dia bisa mengerjakan soal-soal. Biasanya, kalau  sudah mepet waktu tidur, Kakak baru memikirkan penilaiannya besok.๐Ÿ˜š

Sebelum libur Lebaran, Kakak ada penilaian mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan. Gurunya hanya memberikan informasi halaman-halaman buku Tematik 2F untuk dipelajari. Sulit sekali meminta Kakak untuk baca materi-materi bahan penilaian. Biasanya gurunya memberikan materi review berupa soal pilihan ganda dan essay. Pada penilaian kali ini tidak ada review materi berupa soal.

Akhirnya untuk membantu Kakak belajar penilaian Pendidikan Kewarganegaraan ini saya buat latihan soal pilihan ganda dan essay. Selain membantu Kakak belajar, latihan soal ini saya tawarkan dan saya unggah di TipTip.

Baca juga: Mengenal TipTip Lebih Dekat

Dengan diunggah di TipTip semoga ada orangtua yang terbantu juga saat menemani anaknya belajar untuk persiapan penilaian.

Latihan Soal Pendidikan Kewarganegaraan

Menulis Melegakan Hati Menurunkan Amarah

Suatu pagi menjelang siang, para Bapak tetangga berkumpul karena ajakan salah satu Bapak tetangga mendengar keributan dari sebuah rumah keluarga muda. Mereka betkumpul di depan rumah, sebelah rumah keluarga muda itu.

Terdengar sang wanita berteriak-teriak penuh amarah. Para Bapak tetangga hanya berkumpul saja di depan rumah, tidak bertindak apa-apa. Mungkin kalau dalam keributan itu terdengar “piring terbang” para bapak tetangga akan bertindak dan tidak membiarkan keributan itu.

Akhirnya keributan dari rumah keluarga muda itu terhenti, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semoga. Kemudian para Bapak membubarkan diri, termasuk Pak Suami.

Saya tidak bermaksud membahas tentang keributan dalam keluarga. Yang ingin saya bahas adalah semua orang siapa pun itu punya amarah, rasa marah, sekaligus juga punya rasa sabar. Amarah itu bisa ditahan hingga tidak menjadi meledak dengan rasa sabar. Tapi kemampuan seseorang dalam mengelola amarah itu berbeda-beda.
Amarah yang tidak terkelola akhirnya meledak, seperti yang terjadi pada keluarga tetangga. Pertengkaran dalam keluarga adalah hal biasa, tapi akan lebih baik jika tidak sampai terdengar oleh tetangga.

Saya juga punya amarah dan rasa marah. Tetapi saya mencoba menghalau dan meredakannya. Caranya? MENULIS.
Ya, dengan menulis saya bisa meredakan amarah.  Semua rasa dan amarah saya tumpahkan dalam tulisan. Isi tulisan bisa caci maki pada seseorang yang membuat kita marah, bisa juga berisi harapan dan keinginan yang tak terwujud.
Menulis menjadi sebuah kesenangan yang bisa melegakan hati sehingga bisa menurunkan kadar amarah. Amarah itu tidak akan hilang, hanya melesap dalam tulisan.

Continue reading “Menulis Melegakan Hati Menurunkan Amarah”

Lima Aktivitas yang Dapat Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak

Satu hal yang saya patut syukuri sebagai catatan tahun 2022 adalah anak kedua saya akhirnya bisa berbicara. Di usianya yang kedua tahun di bulan Maret 2022, orang mengatakan si Adek tidak bisa bicara. Tapi kini, di penghujung tahun 2022, si Adek sudah bisa berbicara lumayan lancar. Setiap hari selalu ada perkembangan.

Semuanya terjadi tanpa perlu pergi ke dokter dan tanpa perlu ikut kelas terapi bicara. Apa yang saya lakukan untuk membantu si Adek?

Sebagai rasa syukur saya, saya bagikan apa yang saya lakukan melalui tulisan pertama tahun 2023.

Setelah menyadari ada sedikit ketidakberesan pada kemampuan berbicara si Adek, saya membaca banyak artikel tentang keterlambatan bicara dan cara mengatasinya. Dari beragam informasi yang saya baca, beragam aktivitas sudah saya lakukan pada si Adek dapat merangsangnya lancar berbicara.
Aktivitas itu di antaranya:

Dibacakan buku sebelum tidur.
  1. Dibacakan Buku Setiap Hari
    Setiap malam atau siang, sebelum tidur, saya membacakan buku untuk si Adek. Karena sering dibacakan buku, si Adek jadi ketagihan dibacakan buku. Saat menjelang tidur, si Adek yang sudah memilih buku yang ingin dibacakan. Semakin banyak buku yang dibaca semakin banyak kosakata yang didengarnya.
  2. Menyanyikan lagu-lagu anak, saat menjelang tidur.
    Lagu yang didengarkan terus-menerus menambah bank kosa kata anak. Walaupun si Adek belum bisa mengutarakan kata yang didengarnya, bukanlah masalah. Saya yakin jika saatnya tiba, si Adek bisa menyanyi sendiri. Saat itu pun akhirnya tiba, sekarang si Adek sudah bisa mengikuti lagu yang didengarnya. Beberapa hari ini lagu Tayo si Bus Kecil menjadi lagu kesukaan si Adek. Sekitar tiga bulan belakangan ini, si Adek sudah bisa mengikuti lagu anak “Cicak” dan “Balonku”.
  3. Mendampingi anak saat asyik nonton Gawai.
    Seketat apapun orangtua melarang anak memakai gawai, tetap saja akan kalah. Orangtua melarang, tapi lingkungan sekitar membiarkan. Pada akhirnya yang bisa dilakukan adalah mendampingi anak saat dia menonton video YouTube. Si Adek pun suka menonton video di YouTube. Yang akhirnya saya lakukan adalah memanfaatkan apa yang ditonton untuk menambah pengetahuan si Adek. Melalui video kartun anak, saya ajak si Adek menyebutkan warna-warna mobil, menyebutkan jenis mobil, dan apapun yang bisa dikomunikasikan pada si Adek. Melalui aktivitas itu si Adek kini sudah mengetahui jenis warna dan jenis mobil, serta pengetahuan lainnya. Si Adek sudah bisa menyebut nama warna dengan benar.
  4. Selalu Mengajak Anak Berbicara.
    Di mana pun dan kapan pun, selalu ajak anak berbicara seakan dia bisa berbicara. Misalnya, saat mandi, secara berulang-ulang tekankan kata MANDI. “Adek sekarang sedang apa ya? Man-di. Adek MANDI sama Mama. Saat MANDI jangan lupa gosok GIGI. Adek sudah gosok GIGI belum?” Itu selalu saya lakukan pada si Adek hingga dia bisa mengucapkan kata mandi. Saat saya di dapur, saya ajak bicara tentang nama sayuran, bumbu, dan buah.
  5. Bermain dengan Anak Seusianya.
    Saat anak bermain dengan anak-anak seusianya, anak mendengar banyak kata dari ucapan temannya. Saya mengamati langsung saat si Adek bermain dengan anak tetangga, dia mencoba untuk meniru kata-kata yang didengar. Tentunya hal itu membantu melancarkan bicaranya. Tapi, perlu diperhatikan kata-kata apa yang ditiru oleh anak. Karena tidak semua yang didengarnya “kata baik”.

Lima hal yang

Baca juga: Catatan Ibu di Rumah: Anakku Sudah Bisa Bicara Lancar

Catatan Ibu di Rumah: Anakku Sudah Bisa Bicara Lancar

#catatanakhirtahun2022 #ibudirumah #paskalinaaskalin

Bulan Maret 2022, si Adek berusia dua tahun. Di usianya yang kedua giginya sudah tumbuh dengan sempurna. Berat badan sesuai dengan usianya. Tapi, bicaranya belum lancar. Si adek bisa memanggil “ayah”, tapi semua orang dipanggil ayah. Apa yang terjadi?

Sebagai Ibu tidak rela rasanya ketika anak disebut tidak bisa bicara. Saya selalu meralat omongan siapa pun yang bilang kalau si Adek tidak bisa bicara lancar. Dengan tegas pasti saya bilang, “Adek bukan TIDAK BISA bicara, tapi BELUM bisa.

Jujur, sebenarnya hati saya bergetar, bertanya-tanya, ada apa dengan si Adek. Saya baca-baca artikel tentang speech delay dan bagaimana mengatasinya. Saya sempat mengutarakan pada si Ayah, apakah perlu konsultasi ke dokter di klinik tumbuh kembang anak?

Waktu terus berjalan, wacana untuk pergi ke dokter saya lupakan. Karena kesulitan mencari waktu untuk pergi ke dokter, saya yakin, perlahan tapi pasti, si Adek akan bisa bicara lancar.
Puji Tuhan, saya sungguh  bersyukur, keyakinan saya benar, si Adek kini sudah bisa berbicara. Memang belum lancar berbicara, tetapi sudah bisa mengungkapkan apa yang dilakukannya. Misalnya kemarin, si Adek menghabiskan kopi milik saya. Si Adek berkata, “Mamah, kopi mamah habis.”

Si Adek sudah bisa  bilang, terima kasih Mamah, terima kasih Ayah, tolong isi botolnya, dan sebagainya. Saya bersyukur untuk setiap perkembangan kemampuan bicara yang terjadi pada si Adek.

Setiap saat, setiap detik menit jam, saya bersama si Adek terus-menerus. Dalam hati dan pikiran saya mencatat banyak kata yang akhirnya terucap dari bibir si Adek. Saya sering menangis menatap si Adek saat tidur. Saya sering menangis haru dalam hati, karena akhirnya bisa merangkai kalimat. Puji Tuhan, saya sangat bersyukur karena tak perlu ada dokter atau terapis untuk membantu si Adek berbicara lancar.

Si Adek menyukai buku dan suka mewarnai.

Tahun 2023 akan segera datang, saya harus terus memberikan rangsangan beragam aktivitas buat si Adek. Sehingga bicaranya menjadi lebih lancar lagi. Terima kasih Tuhan atas semua perkembangan baik pada tumbuh kembang si Adek.

Baca juga: Lima Aktivitas yang Mengatasi Keterlambatan Bicara

Catatan Menjelang Akhir Tahun 2022: Contohlah Semangat Mereka, Oma dan Opa

Sebelum saya menulis panjang saya ucapkan

๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„
SELAMAT NATAL 2022 & SELAMAT TAHUN BARU 2023 untuk Sahabat Pembaca yang merayakan. Semoga suka cita Natal senantiasa mengisi hati dan terang cahaya menyinari langkah di tahun yang baru nanti.
๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„โ›„๐ŸŽ„

Hari ini saya mengikuti acara Misa Natal Adiyuswo yang diadakan Gereja Katolik Santo Barnabas Pamulang. Misa ini dikhususkan untuk para lansia (lanjut usia). Saya ikut misa ini untuk menemani ibu saya, yang sudah lansia.

Pada Misa Adiyuswo ini hampir 80% berusia lansia, yang 20% adalah yang menemani, seperti saya, entah itu anak, cucu, atau keluarga lainnya. Namanya juga misa yang khusua diadakan untuk lansia.

Saya tertarik untuk menulis catatan hari ini tentang para lansia karena ada hal menarik yang patut dicontoh oleh saya dan kita yang masih berusia di bawah 50 tahun. Apa itu? SEMANGAT.

Contohlah Semangat Para Lansia

Mereka, para lansia memiliki semangat yang luar biasa. Saya sebagai orang yang berusia muda, rasanya malu. Saya malu karena terlalu banyak mengeluh atas masalah yang dihadapi. Seakan-akan masalah kita adalah yang terberat.

Pada acara perayaan Natal Adiyuswo yang diadakan setelah misa, para oma dan opa bergembira bersama, bernyanyi, dan melupakan bahwa usia mereka tidak muda lagi. Para oma dan opa ini menampilkan berbagai hiburan, seperti menyanyi dan menari. Mereka juga berjoged bersama dalam sukacita Natal.

Penampilan tarian dari oma-oma.

SECUIL KISAH SEJUTA INSPIRASI

Di antaranya sekian banyak oma dan opa, termasuk ibu saya, ada sepasang oma-opa yang menarik perhatian saya. Perkiraan saya, oma-opa ini berusia di atas 75 tahun. Oma-opa ini sudah tidak mampu berjalan normal. Mereka berdua bergandengan dan berjalan saling menopang, salah satunya membawa kruk. Oma-opa ini satu lift dengan saya dan ibu saya saat turun dari tempat acara natalan.

Batin saya berkata, “Mereka sungguh cinta sejati.” Mereka pasti akan saling setia hingga akhir hayat. ๐Ÿ˜

Ketika saya dan ibu saya duduk di lobi gedung menunggu pesanan taksi online datang, oma-opa itu pun duduk seperti menunggu jemputan. Saya pikir mungkin mereka menunggu jemputan.

Tidak berapa lama, oma-opa ini beranjak berdiri dan menuju parkiran. Saat itu ada sekelompok orang baru turun dari tempat acara. Saat melihat oma-opa itu mereka membantu untuk melewati dua anak tangga di depan lobi.

Salah satu di antaranya bertanya, “Sudah dijemput, Oma.”
“Tidak, ada mobil,” jawab si Oma.
Saya pun berpikir, kalau sudah ada mobil anaknya, kenapa anaknya tidak menemui malah menyuruh oma-opa itu jalan ke parkiran?

Tidak berapa lama saya melihat sebuah mobil tua lewat (mobil yang seusia dengan mereka), oma-opa itu duduk di depan. Si Opa menjadi pengemudinya. Deg, hati saya langsung bergetar.

Astaga, mereka membawa mobil sendiri. Kemana anak-anak mereka? Apa mereka tidak memiliki anak? Kalau punya anak, apa anak-anaknya tidak tahu mereka pergi ke gereja?